(NET/Bertin Akbarisa)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

27 Desember 2016, 11:00 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Memiliki anak berkebutuhan khusus memang merupakan hal berat bagi para orang tua. Masa depan anak penderita autis yang dianggap tidak cerah menjadi salah satu momok yang menakutkan. Namun, tidak selamanya sindrom autis menjadi penghalang kesuksesan bagi anak. Inilah yang terjadi pada Thomas Andika.

(NET/Bertin Akbarisa)

Ia adalah salah satu remaja autis yang mampu meraih kesuksesan melalui kerajinan origami. Meski memiliki kebutuhan khusus, remaja berusia 18 tahun ini tidak pernah menyerah dengan hobinya melipat kertas. Berkat ketekunannya, kini dalam hitungan jam ia mampu menghasilkan puluhan origami dengan tingkat kesulitan yang beragam.

"Awalnya Thomas buat yang sederhana-sederhana dulu seperti pesawat dan bangau. Karena bagi Thomas, origami adalah segi melipat kertas yang sangat disukai," kata Thomas.

(NET/Bertin Akbarisa)

Thomas mengaku mulai menyukai origami sejak berada di bangku TK. Ia mulai mempelajari origami secara otodidak. Kemudian setelah memasuki bangku SMP, Thomas mulai mengembangkan skill-nya dengan belajar melalui buku panduan dan internet.

Keahlian Thomas dalam hal origami juga tak lepas dari peranan sang ibu. Thomas sendiri merupakan  putra bungsu dari pasangan Yulius Petrus dan Wiwi Kartati. Ia telah di diagnosa menderita autis sejak berusia 19 bulan. Layaknya orang tua pada umumnya, ibu Thomas sempat merasa tertekan dan stres berat.

"Pada awalnya saya merasa stres berat. Tapi bertahun-tahun kemudian saya mulai melihat bahwa Tuhan memiliki rencana lain. Saya merasa Tuhan ingin membentuk saya untuk menjadi pribadi lebih sabar, lebih menghargai kemajuan kecil dan lebih kompak dengan suami," ujar Wiwi Kartati.

(NET/Bertin Akbarisa)

Wiwi menemukan hobi origami pada Thomas saat ia pertama kali melihat kertas. Saat itu Thomas menjadi lebih tenang, nangisnya lebih cepat berhenti, dan semangatnya untuk terus melipat menjadi lebih besar.

Bahkan pada usia lima tahun, Thomas sudah mampu membuat beberapa puluh bentuk origami binatang secara otodidak. Untuk mendukung bakat sang anak, garasi rumah pun disulap menjadi galeri. Di dalamya, ribuan koleksi origami Thomas terpajang rapi di lemari kaca.

(NET/Bertin Akbarisa)

Sadar akan nilai berbagi, Thomas membuat workshop origami sejak bulan Juli 2016 lalu. Ia rutin mengajar origami pada anak-anak playgroup selama dua kali seminggu. Selain dapatkan penghasilan dari mengajar, Thomas pun mendapatkan kemampuan untuk dapat bersosialisai dengan orang lain.

"Itu merupakan kepuasan tersendiri bagi Thomas. Tantangan untuk aku jadi berkembang. Mengajar itu aku harus sabar. Biasanaya aku bikin origami itu agak cepet." tambahnya.

(NET/Wiwi Kartati)

Tercatat, banyak karya origaminya yang sudah di pamerkan. Salah satunya adalah pameran yang digelar di kota Yogyakarta dan Malang. Kedepannya, Thomas ingin membuat origami yang dapat dijual dan banyak dibutuhkan oleh orang banyak. Salah satunya dengan origami untuk mahar nikah.

Thomas merupakan sosok yang mengingatkan bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang kesuksesan dan penghalang berbagi. Bahkan pada momen Natal kali ini, ia melakukan aksi sosial dengan origami untuk anak penderita kanker dan berkebutuhan khusus.

BERTIN AKBARISA

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments