hero
Paus Fransiskus memimpin perayaan misa Natal di Basilika Santo Petrus, Vatikan. (REUTERS)

EDITOR : OCTOBRYAN

25 Desember 2016, 13:25 WIB

INDONESIA

Diiringi paduan suara dan dentang bel, Paus Fransiskus memimpin perayaan misa Natal di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Sabtu, 24 Desember, waktu setempat. 

Dalam khotbah dihadapan puluhan ribu jemaat dan puluhan kardinal serta uskup, ia menyuarakan pesan perdamaian dan menyesalkan terjadinya peperangan dan kekerasan terutama di Timur Tengah.

Paus Fransiskus memimpin perayaan misa Natal di Basilika Santo Petrus, Vatikan. (REUTERS)

"Mari pikirkan nasib anak-anak yang tidak dapat terlahir di dunia karena bencana kelaparan, mereka yang tidak memiliki mainan, tetapi justru memegang senjata," ujarnya seperti dikutip dari REUTERS.

Tidak hanya itu, ia juga menyoroti ketimpangan sosial yang dipicu oleh materialisme. Ia mengatakan, banyak umat yang terobsesi membeli hadiah, makanan, dan semua yang terkait dengan dirinya sendiri.

Paus Fransiskus memimpin perayaan misa Natal di Basilika Santo Petrus, Vatikan. (REUTERS)

"Ketika kita lebih memikirkan hadiah dibandingkan dengan memikirkan mereka yang terpinggirkan. Keduniawian ini telah disandera, dalam Natal ini kita harus membebaskannya," dalam khotbahnya.

Ribuan orang yang tidak dapat masuk ke dalam gereja terbesar umat kristiani itu mengikuti misa dari layar kaca di luar basilika pada malam hari. Paus sepanjang tahun ini  mendesak adanya kasih kepada rakyat miskin, ia mengingatkan umat agar melihat masa kecil Yesus yang dulunya adalah seorang pengungsi.

Paus Fransiskus memimpin perayaan misa Natal di Basilika Santo Petrus, Vatikan. (REUTERS)

"Rendah hati dan kesederhanaan, Yesus lahir dengan penolakan beberapa pihak dan dipandang oleh banyak orang dengan ketidakpedulian. Yang jadi protagonis adalah diri kita sendiri, bukan Yesus, ketika lampu komersialisasi melemparkan bayangan lampu Tuhan," tutupnya.

Sementara itu, suasana Natal terasa di seluruh Betlehem, Palestina. Puluhan ribu umat merayakan Ibadah Natal dengan aman dan damai di Church of Nativity atau Gereja Kelahiran Yesus.

Suasana misa di Bethlehem. (APTN)

Abu Batrous Naameh, imam Gereja Ortodoks Suriah, mengatakan "Merayakan Natal di Bethlehem tidak hanya membuat seseorang terhubung kembali dengan waktu kelahiran Yesus, tetapi juga dengan tempatnya,"

Xavier Abu Eid, juru bicara Organisasi Pembebasan Palestina, mengatakan bahwa Natal menyatukan seluruh rakyat Palestina. "Natal adalah untuk semua masyarakat Palestina, terlepas dari afiliasi agama, dan merupakan bagian dari identitas nasional kita. Kami bangga bahwa pesan Yesus, yang merupakan salah satu harapan, keadilan, dan perdamaian, mulai di sini dan menginspirasi orang-orang kami, " ujar Abu Eid.

Suasana misa di Bethlehem. (APTN)

Seperti dilansir The Jerusalem Post, Bethlehem telah didatangi ribuan wisatawan untuk melihat situs sejarah agama Kristen dalam seminggu terakhir, pejabat setempat mengakui adanya peningkatan wisatawan dibandingkan tahun 2015 lalu.

Emma Austin, mahasiswa Amerika yang mempelajari studi Alkitab di Hebrew University of Jerusalem, mengatakan bahwa dia datang untuk merasakan suasana Natal.

"Sangat istimewa untuk berada di tempat yang banyak berhubungan dengan apa yang saya pelajari. Saya menyempurnakan pengalaman, "kata Austin.

REUTERS | THE JERUSALEM POST

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments