hero
Tangan pasrah RM setelah dijual ibunya kepada pria hidung belang. (NET/Irwansyah)

EDITOR : REZA ADITYA

22 Desember 2016, 13:20 WIB

SUMATERA UTARA, INDONESIA

Tidak ada yang spesial bagi RM di Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember 2016 ini. Perempuan berusia 13 tahun itu justru trauma dan kesal dengan ibu kandungnya, Sri Handayani.

"Karena dia merasa telah dijual oleh ibunya," kata Muriadi, paman RM, Kamis, 22 Desember 2016. "Kini RM terus-terusan menangis. Trauma dan tidak masuk sekolah."

RM ingin seperti anak-anak lainnya yang memberikan ucapan selamat Hari Ibu untuk mamanya. Tapi, goncangan yang ada dalam dirinya berbalik.  Dia berharap di perayaan Hari Ibu, orang tua perempuannya itu menjadi pesakitan.

Kisah kekesalan RM berawal dari ibu kandungnya Sri Handayani, yang tega menjajakannya kepada dua pria hidung belang. Sri menjual kegadisan anak sulungnya sejak akhir Oktober 2016 sampai dengan akhir November 2016.

 

Warga Kabupaten Asahan, Sumatera Utara itu membandrol anaknya dengan nilai Rp 5 juta untuk kencan pertama, Rp 2 juta untuk kencan kedua, Rp 1 juta untuk kencan ketiga dan Rp 500 ribu untuk kencan keempat. 

"Dengan dalih biaya kencan itu untuk dana pengobatan bapaknya yang sedang sakit," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Asahan AKP Bayu Putra Samara. "Dan dilakukan dengan orang (pria hidung belang) yang sama saja selama empat kali kencan itu."

RM terpaksa meladeni nafsu bejat pria hidung belang demi kesembuhan ayahnya. Namun, ayahnya tak kunjung sembuh dan menghembuskan nafas terakhir.

Sri rupanya tetap menjajakan anaknya itu meski suaminya sudah meninggal. Kali ini, alasan wanita berusia 32 tahun itu bukan lagi demi membiayai suaminya yang sakit-sakitan. Tapi demi penghidupan.

Tak kuasa menahan gejolak dalam jiwanya, RM kemudian melaporkan perbuatan ibu kandungnya itu ke Polres Asahan. Polisi meringkus Sri pada Jumat pekan lalu. 

Sejatinya, sebagai orang tua Sri menjadi panutan dalam menjaga anak perempuannya dari segala bentuk ekpsloitasi seksual. Sesuai dengan makna Hari Ibu di Kongres Perempuan Pertama pada tahun 1928 yang memperjuangkan perjuangan  kezaliman penjajahan.

Nyatanya, Sri justru memperlakukan anak perempuannya sebagai komoditi dengan alasan ekonomi. 

IRWANSYAH PUTRA NASUTION

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments