EDITOR : FAJAR ANUGRAH PUTRA

12 Desember 2016, 06:56 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Daniel Subandi membayangkan memiliki seekor anak anjing Siberian Husky saat melihat iklannya di Kaskus. Ia kemudian menghubungi si penjual lewat BlackBerry Messenger (BBM) untuk mencari tahu informasi lebih detail.     

Keduanya bertransaksi dan disepakati harga si Siberian Husky sebesar Rp 2 juta. Biasanya, nilai jual anjing yang tampangnya mirip serigala dengan usia minimal tiga bulan sebesar Rp 6 juta – Rp 7 juta. Makin bagus kualitasnya, akan tambah mahal.    

Merasa percaya dengan si penjual dan sudah tak sabar memiliki Siberian Husky, pria 23 tahun itu kemudian mentransfer nominal yang sudah disepakati ke si penjual. Namun barang alias si anjing tidak kunjung tiba.    

Pria 23 tahun itu belum galau. Ia masih percaya dengan si penjual anjing. Pemuda itu lalu menanyakan kapan pesanannya tiba.     

Tapi jawaban yang diterimanya berbelit-belit. “Alasannya pengiriman kargo susah, banyak yang ditahan polisi. Jadi dia bilang harus transfer untuk bantu tebus,” cuhatnya kepada NET.Z.  

 

PIXABAY



Daniel lalu mentransfer Rp 800 ribu dan Rp 400 ribu dalam kesempatan yang terpisah. Namun anjing tak juga sampai. Si penjual mengatakan kalau ia membutuhkan fulus lagi demi membawa pulang pesanan Daniel yang katanya lagi-lagi ditahan oknum aparat.   

“Ternyata penjualnya penipu. Dia sama sekali enggak punya anjingnya, gambarnya ambil dari Google,” katanya.  

Karyawan di perusahaan teknologi informasi itu kecewa dan melapor ke polisi. Aparat penegak hukum menerima laporannya tapi tidak ada kelanjutannya setelah itu.     

Kasus di atas merupakan contoh dari sekian banyak kerugian yang dialami oleh online shopper, sebutan untuk orang yang belanja di toko dunia maya dan dengan transaksi elektronik.

Kebanyakan dari mereka merasa tertipu karena barang pesanannya tidak datang padahal uang sudah ditransfer. Atau kualitas barang yang datang tidak sesuai dengan di gambar yang diunggah atau dijelaskan si penjual.    

Brigjen Pol Agung Setya mengamini kalau modus penipuan online shopping seperti itu paling sering dilaporkan. “Kalau paling banyak itu dilaporkan ke Polda Metro (Jaya) ya. Angkanya bisa ratusan (laporan). Artinya memang sangat marak,” jelas Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Mabes Polri itu kepada NET.Z.     

Agung menambahkan dari Januari hingga November 2016 ada sekitar 635 kasus penipuan melalui transaksi online shopping yang dilaporkan masyarakat ke Polda Metro Jaya. “Korbannya itu tidak hanya dari Indonesia tapi juga dari luar,” katanya. 

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat dari angka itu belum ada kasus transaksi elektronik yang sampai ke pengadilan. Padahal dasar hukum untuk menjerat para pelaku penipuan ada di Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pelakunya diancam hukuman penjara paling lama enam tahun dan atau denda paling banyak Rp 1 miliar.  

Masih menurut YLKI semestinya semua transaksi jual beli online dilakukan melalui laman yang sudah mendapat izin dari pemerintah agar lebih aman.  Bukan lagi lewat media sosial (medsos).  

“Jualan enggak boleh di medsos, harus ada portal resminya dan toko off air-nya (toko yang bisa didatangi),” jelas Sularsi, Koordinator Pengaduan dan Hukum YLKI kepada NET.Z.    

 



Pihak YLKI memang menyoroti maraknya penipuan transksi online yang diawali dari negosisasi di medsos dan forum dunia maya. Facebook dan Instagram bisa dibilang menjadi medsos yang paling populer dipakai untuk berjualan.  

Tak hanya itu, online shop dan online store yang sekarang ada seharusnya diawasi. Sayangnya, hal tersebut belum dilakukan di Indonesia.     

Sebagai informasi, online shop merupakan laman penyedia jasa atau etalase dagang. Sementara online store tak hanya menyediakan lapak, tapi juga barangnya.   

“Makanya harus ada aturan yang jelas untuk membagi tanggung jawab antara penyedia etalase dengan penyedia barang,” imbuhnya.  

Tapi publik tak perlu khawatir berbelanja di dunia maya. Asal cerdas, teliti dan hati-hati, maka aktivitas online shopping bisa aman.    

“Harus tahu secara spesifik barang yang diperjualbelikan, jangan hanya melihat fotonya. Pembayarannya juga harus terverifikasi dengan baik, punya sistem pembayaran seperti apa,” Agung soal tips-tips aman belanja online.  

Mantan Kepala Sub Direktorat Pencucian Uang Bareskrim Polri itu juga meminta shopper online memilih online shop atau online store dengan reputasi yang baik atau yang minim terbelit kasus penipuan.  

Sedangkan YLKI meminta publik tidak cepat terbuai dengan harga barang yang terlalu murah. Konsumen perlu juga memverifikasi dari tempat lain mengenai harga pasaran dari barang yang akan  dibelinya. 

PIXABAY

Tidak mudah percaya testimoni atau pengakuan dari akun-akun yang mengaku pembeli sebelumnya juga perlu dilakukan. Berpikir cerdas dan kritis sebelum membeli mutlak dilakukan para online shopper.  

Sistem pembayaran yang meminta ditransfer langsung juga rawan penipuan seperti yang dialami oleh Daniel. Memilih online shopping dan online store yang memakai sistem rekening bersama bisa menjadi salah satu solusi aman berbelanja dan bertransaksi elektronik.

Jangan sampai kasus Siberian Husky yang dialami oleh Daniel Subandi terulang lagi di kemudian hari.

 

FEY ZHENG | ANAN SURYA 

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% (total_main_comment < 1 ? 'No' : total_main_comment) + (total_main_comment < 2 ? ' Comment':' Comments') %>
<% latestComment.user.name %>
  • reply
  • <% child_comment.user.name %>
    • reply
View <% (latestComment.total_child - 5) == 1 ? "the last one comment" : (latestComment.total_child - 5) + " more comments" %> ...
View More Comments
<% oldestComment.user.name %>
  • reply
  • <% child_comment.user.name %>
    • reply
View <% (oldestComment.total_child - 5) == 1 ? "the last one comment" : (oldestComment.total_child - 5) + " more comments" %> ...