hero
Densus 88 menggeledah rumah terduga teroris. (NET/Mahrus)

EDITOR : TITO SIANIPAR

12 Desember 2016, 16:20 WIB

INDONESIA

Penangkapan terduga teroris di Bekasi menunjukkan jaringan teror di Indonesia tak pernah mati dan tetap tumbuh. Polisi menduga para terduga terkait jaringan Bahrum Naim.

Pengamat terorisme Ali Fauzi mengatakan penangkapan terduga teroris dengan barang bukti bom menunjukkan jaringan teror ini belum mati. "Masih terus beranak-pinak," kata dia, di Lamongan, Minggu, 12 Desember 2016. 

Menurut Ali, bom panci yang disita dari Bekasi merupakan bom daya ledak tinggi dengan radius hingga 500 meter. "Termasuk kategori high explosive dan melebihi yang sudah pernah ada," ujar adik kandung terpidana terorisme Amrozi ini.

Ali Fauzi. (NET)

Polisi dan Detasemen Khusus 88 menangkap enam orang yang diduga merencakan aksi teror dari beberapa tempat. "Yang ditangkap ini sel kecil sebetulnya yang langsung berhubungan langsung dengan Baharun Naim," kata Kepala Polisi Jenderal Tito Karnavian.

Menurut Tito, Bahrun Naim juga berkontribusi memberikan dana untuk aksi teror tersebut. "Mereka belajar (membuat bom) secara online," ujarnya. Polisi, lanjut Tito, akan terus menangkapi dan melemahkan kelompok Naim di Indonesia.

Salah satu yang ditangkap adalah Dian Yulia Novi, 27 tahun. Dari kediamannya di Perum Bintara Jaya, Bekasi, Densus 88 menemukan bom panci atau rice cooker. Bom itu diduga ditujukan untuk Istana Kepresidenan.

Mantan tenaga kerja Indonesia di luar negeri itu, kata polisi, berencana meledakkan bom saat pergantian pasukan jaga Istana. Bom sudah disiapkan dan disimpan dalam sebuah ransel hitam.

Dian Yulia ketika ditangkap. (ISTIMEWA)

Selain Dian Yulia, polisi juga menangkap tiga pria lainnya yang diduga terlibat dalam rencana tersebut. Mereka adalah Nur Solihin, Agus Supriyadi, dan Abu Izzah alias Suyanto.

Mereka ditangkap di hari yang sama, Sabtu, 10 Desember 2016. Mulai dari Nur Solihin dan Agus di flyover Kalimalang 14.30 WIB. Lalu Dian Yulia di kosnya 15.50 WIB. Dan terakhir Abu Izzah di Dusun Sabrang Kulon, Karanganyar, Jawa Tengah.

Para terduga teroris diyakini tergabung dalam Daulah Islamiyah, yang merupakan afiliasi ISIS atau negara Islam Irak dan Suriah. Mereka berencana melakukan tindakan amaliyah dengan meledakkan bom di negara sendiri.

Sosok Bahrun Naim yang sekarang bergabung ISIS adalah tokoh sentral dalam perencanaan teror tersebut. "Dia merencanakan serangan dan membagi manual bagi anak buahnya di Indonesia," kata pengamat teroris Ridwan Habib.

Penggeledahan di Bekasi. (NET/Marcel)

Naim adalah mantan narapidana terorisme yang pernah divonis 2 tahun penjara sejak 2010 lalu. Pada 2014, Naim bergabung dengan ISIS di Suriah. Diduga bom Sarinah pada 14 Januari 2016 lalu juga buah tangan Naim.

"Dia sekarang berada di Raqqah, Suriah. Jadi dia mengoperasikan serangan ini dari Suriah langsung," kata Ridwan. "Dia lebih pada inisiator atau strategic thinker," pungkar dia.

FIKA APRINA | MOHAMMAD MAHRUS | REYSKA RAMDHANY

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments