EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

14 November 2016, 06:25 WIB

PAREPARE, INDONESIA

Sedari pagi rumah kontrakan Miftahuddin dan Marmina yang terletak di Ujung Kota, Parepare, Sulawesi Selatan ramai dikunjungi oleh para wartawan. Bukan karena terlibat kasus kriminal, melainkan prestasi putrinya, Yasaroh yang bisa kuliah hingga S3 di Universitas Groningen, Belanda, Jurusan Kimia.

Marmina/NET.CJ Roedy Hartono

Cerita keluarga ini menginspirasi banyak orang. Mifthahuddin sendiri sehari-hari bekerja sebagai pedagang siomay keliling, sementara istrinya berjualan nasi goreng dan gado-gado di depan rumahnya. Meskipun memiliki kondisi ekonomi pas-pasan, namun tidak menyurutkan kegigihan dan semangat pasangan suami istri ini untuk memberikan pendidikan terbaik untuk putrinya.

"Saya itu berjualan keliling karena kalau mengandalkan di warung tidak cukup buat biayain anak kuliah. Penghasilan di warung sehari cuma Rp 300 ribu, makanya saya bantu dengan jualan siomay," ujar Mifthahuddin.

Yasaroh bersama keluarga/NET.CJ Roedy Hartono

Yasaroh sendiri merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Sejak berada di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas selalu menjadi juara kelas. Yasaroh kemudian menempuh pendidikan S1 di Fakultas MIPA Universitas Negeri Makassar  lulus dengan IPK 3,97. Gadis yang kini berusia 25 tahun itu kemudian melanjutkan S2 di ITB Bandung dan berhasil lulus dengan IPK 3,88.

Mifthahuddin sedang menyiapkan siomay/NET.CJ Roedy Hartono

Kegigihannya untuk menuntut ilmu, mengantarkan remaja yang lahir di Solo, 23 Mei 1991 ini hingga ke Negeri Kincir Angin itu lewat program beasiswa LPDP dari pemerintah Indonesia. Yasaroh menganggap jika keberhasilannya ini berkat dukungan dari orang tuanya selama ini.

LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) adalah program pemberian beasiswa bagi mahasiswa yang akan menempuh pendidikan baik magister ataupun doktoral di luar negeri. Program ini diberikan oleh kementerian keuangan dan buka setiap tahun melalui seleksi ketat.

Yasaroh. /NET.CJ Roedy Hartono

"Yang jelas orang tua sangat berperan penting mulai sejak kecil. Waktu masih SD mungkin biaya belum terlalu berat. Tapi waktu SMA sudah berat, awalnya cuma buka warung kecil-kecilan di rumah tapi pas kuliah ayah mulai jualan keliling," kata Yasaroh.

Cerita Yasaroh bersama keluarganya sejatinya bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa kemiskinan tidak menjadi halangan buat seseorang untuk mengejar impian terutama pendidikan. Kerja keras dan keinginan yang kuat menjadi penggerak sekaligus kekuatan untuk meraih cita-cita.

NET.CJ ROEDY HARTONO

109

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments