EDITOR : AULIA RAHMAT

13 Oktober 2016, 15:05 WIB

MALUKU, INDONESIA

Pemerintah Kabupaten Buru menggelar napak tilas untuk memperkenalkan warga dengan transportasi lawas yang dahulu sering digunakan nenek moyang mereka. Beberapa anak muda mengenakan baju adat mendayung gusepa atau rakit dari pedalaman Kaieli menuju Kota Namlea, ibu kota Kabupaten Buru.

Gusepa adalah Sebuah rakit yang terbuat dari bilah bambu. Berbeda dengan rakit pada umumnya, terdapat sebuah layar membentang di bagian tengahnya. Daun sagu dianyam sedemikian rupa hingga membentuk layar berukuran 1,5 x 3 meter. Layar ini digunakan untuk membantu nelayan mendorong rakit menggunakan tenaga angin. 

Masyarakat berbaju adat Buru mengayuh gusepa menuju Kota Namlea. (Bachtiar Huamual/NET)

 

Dahulu sebelum pemerintah membangun jalan aspal yang menghubungkan Kota Namlea dengan Buru bagian dalam. Masyarakat menggunakan gusepa untuk membawa hasil bumi ke kota. Yang sering mereka bawa antara lain, ubi, pisang, keladi dan kelapa.

"Zaman dahulu di pedalaman Buru ini belum terhubung dengan kendaraan apapun. Hanya gusepa yang bisa digunakan untuk menuju kesana," kata Ramli Umasugi, Bupati Kabupaten Buru.

Pada tahun 1980 pemerintahan Orde Baru mulai membuka wilayah Pulau Buru bagian dalam yang saat itu digunakan sebagai tempat pembuangan tahanan politik PKI. Proyek pertama yang dibangun adalah jalan aspal yang menghubungkan Namlea dengan Kaieli. Pemerintah juga mendatangkan perahu-perahu motor untuk transportasi melalui sungai. Sejak saat itulah masyarakat meninggalkan gusepa.  

BACHTIAR HUAMUAL

 

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments