EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

6 Oktober 2016, 06:10 WIB

SIDOARJO, INDONESIA

Cerita Film Laskar Pelangi memang sangat populer di kalangan masyarakat kita. Kisah perjuangan seorang guru yang berjuang demi memberikan pendidikan untuk beberapa muridnya. Sebuah drama kehidupan mengenai susahnya mendapatkan akses pendidikan memadai di sebuah Pulau Bangka Belitung yang jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Ah, pendidikan memang masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi negara ini.

Mochamad Hadius bersama motor gerobaknya. (NET/Lentera Indonesia)

Belajar dari kisah Laskar Pelangi, kisah Mochamad Hadius boleh dibilang lebih miris dan getir. Karena ia harus berjuang memberikan pendidikan di sebuah tempat yang sangat dekat dengan pusat kota bahkan hanya berjarak 22 kilometer dari Surabaya, Ibu Kota Provinsi Jawa Timur.  Setiap pagi pukul 07.00 WIB, Hadius guru sekolah dasar yang ada di pinggiran Kota Sidoarjo memulai rutinitas. Ditemani motor gerobaknya yang dibeli dari tangan kedua tahun 2010 silam, ia menjemput satu per satu muridnya agar mau bersekolah. Tak ada paksaan, keikhlasan dan rasa tanggung jawab yang meringankan kaki untuk terus memberikan pelayanan pendidikan.

“Kalau tidak dijemput mereka itu nggak sekolah. Kalau nggak sekolah mereka yang rugi. Murid yang tidak bisa itu sebuah kegagalan di pendidikan. Murid yang males itu juga sebuah kegagalan, apalagi mereka yang tidak masuk,” ucap Hadius sambil menahan getir melihat potret pendidikan di sekitarnya.

Mochamad Hadius. (NET/Lentera Indonesia)

Kegiatan ini harus ia lakukan, karena semua siswa dan siswinya berlatar belakang kaum marginal kota, termasuk memboyong orang tua mereka dan ikut naik motor gerobaknya. Pendidikan memang belum jadi prioritas bagi mereka. Itulah yang membuat dirinya terus berusaha keras, agar mereka sadar bahwa modal terbesar orang untuk berhasil adalah pendidikan. Tapi ia tidak memaksa, dengan keadaan yang pas-pas mungkin pendidikan bagi mereka bukan pilihan utama. Ya, kehidupan muridnya nggak semuanya beruntung,  salah satunya bahkan tinggal di sebuah sekolah bekas terjangan lumpur Lapindo.

Mochamad Hadius bersama muridnya naik perahu untuk pergi ke sekolah. (NET/Lentera Indonesia)

Motor tua itu memang menjadi teman untuk berjuang, sesekali motornya juga 'ngambek' di tengah perjalanan dan harus diperbaikin sejenak. Tapi baginya itulah nikmatnya hidup, bisa berjuang bersama mereka dengan motor kesayangannya ini. Perjalanan untuk sampai sekolah nggak berhenti dengan menggunakan mot0rnya. Hadius bersama rombongannya masih harus menyusuri Sungai Penatar Sewu, karena saat musim hujan jalan setapak menuju sekolah tidak bisa dilewati. Beruntung sejak 2013, Dinas Pendidikan setempat memberikan bantuan sebuah perahu untuk sampai ke tempat tujuan. Tinggal mengeluarkan biaya bahan bakar dan honor untuk tukang perahu.

“Ya kalau nggak pakai perahu tidak bisa. Akses jalan sangat sulit, kesulitan itu kalau jalan bisa dua jam ke sekolah itu. Karena jalannya becek terus jalannya berliku-liku dan nggak rata,” tutur Hadius sembari duduk di atas perahu yang menembus arus sungai.

SDN 1 Plumbon, Sidoarjo, Jawa Timur. (NET/Lentera Indonesia)

Setelah satu jam mengarungi sungai, akhirnya rombongan Hadius sampai juga di sekolah yang dituju, SDN Plumbon 1, Porong, Sidoarjo. Tempat yang sangat jauh dari kesan mewah, yang ada hanya sebuah bangunan tak terawat penuh dengan rumput. Sejak tahun 2011, SD ini berstatus sebagai sekolah dengan layanan khusus sulit terjangkau. Tak ada penduduk di sekitar sekolah, hanya tambak-tambak udang milik para juragan. Sebenarnya jarak sekolah ini hanya 15 kilometer dari pusat kecamatan, tetapi akses lah yang membuat lokasi sekolah terisolasi.

SDN 1 Plumbon, Sidoarjo, Jawa Timur. (NET/Lentera Indonesia)

Saat ia ditempatkan enam tahun lalu, hanya ada enam siswa yang bersekolah di sini, kemudian terus bertambah hingga menjadi 11 siswa. Kepala sekolah baru menjabat dua tahun belakangan. Terkadang hadir ke sekolah sekedar untuk memantau perkembangan tapi lebih sering absen dengan alasan ada kesibukan lain. Gurunya juga hanya ada dua, Hadius dan satu lagi rekannya.

Mochamad Hadius sedang mengajar. (NET/Lentera Indonesia)

Dengan segala keterbatasan yang ada, kurikulum dan metode belajar yang seharusnya diajarkan seperti sekolah umum lainnya nggak bisa diterapkan. Alasannya karena saat tiba di sekolah anak-anak sudah terlalu lelah. Nggak jarang dalam sekali pertemuan, bisa lima mata pelajaran ia berikan. Murid kelas 1 sampai 6 pun disatukan. Kegiatan belajar mereka berkerjaran dengan waktu, setiap pukul 11.00 WIB mereka harus segera kembali, jika tidak mereka akan terisolasi karena debit air laut akan terus meninggi.

Mochamad Hadius bersama muridnya menonton gerak jalan. (NET/Lentera Indonesia)

Moment gerak jalan tahunan yang biasanya diadakan pemerintah setempat terkadang menjadi acara yang ditunggu-tunggu sekolah-sekolah lainnya. Tapi bagi Hadius justru itu adalah saat-saat pahit karena SD miliknya nggak bisa berpartisipasi. Alasannya jumlah siswanya tidak memenuhi persyaratan. Alhasil, mereka hanya sebagai penonton saja. “Jumlah muridnya tidak ada 20, cuma 10 orang. Ya, ini pengen melihat, saya ajak supaya kalau muridnya sudah lengkap biar tahu gerak jalan itu seperti apa,” imbuh Hadius.

Mochamad Hadius. (NET/Lentera Indonesia)

Di balik senyum khasnya, Hadius yakin suatu saat nanti muridnya bisa menjadi bagian dalam event akbar ini. Hanya berpartisipasi itu sudah cukup dan membuat dirinya bangga. “Kalau kita tidak memperhatikan anak-anak pinggiran ini itu nanti akan menjadi beban sosial. Kekhawatiran saya ketika nanti tidak ada guru yang mau mendatangi anak yang bermasalah akan jadi masalah bagi negara dan bangsa ini,”

Desa Mindi, tempat tinggal Mochamad Hadius. (NET/Lentera Indonesia)

Tak lekang dari ingatan peristiwa semburan lumpur panas pada Mei 2006 silam. 16 desa di tiga kecamatan pun kini tenggelam. Sepuluh tahun berlalu tetapi masalah terus memburu. 13 desa ditawari ganti rugi oleh Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo atau BPLS, termasuk Desa Mindi tempat tinggal Hadius saat ini. Jaraknya nggak sampai 1 kilometer dari pusat lumpur. Banyak tetangganya yang angkat kaki. Ya, semua kini tak sama, tetapi kehidupan tak akan berhenti meski lumpur telah mengubur jejak mereka.

NET LENTERA INDONESIA

 

 

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments