hero
Ilustrasi pemukulan wartawan oleh TNI. (NET)

EDITOR : TITO SIANIPAR

4 Oktober 2016, 18:45 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memastikan aparat TNI yang memukul wartawan NET Soni Misdannanto. Gatot juga menyampaikan permintaan maafnya atas kelakuan prajurit di lapangan.

"Dalam kesempatan ini saya minta maaf, masih ada prajurit saya yang menyakiti dan membuat rakyat tercederai," kata Gatot usai upacara penaikan pangkat 13 perwira tinggi TNI, di kantornya, Jakarta, Selasa, 4 Oktober 2016.

Soni menjadi korban kekerasan aparat Batalyon Infanteri 501 Rider Madiun pada Minggu, 2 Oktober 2016. Ia dipukul ketika meliput anggota Yonif 501 menghajar sejumlah peserta konvoi dari perguruan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate yang terlibat kecelakaan lalu lintas.

Ketika sedang meliput dan merekam, Soni dipukul dari belakang. Tak sampai di situ, Soni kemudian diseret ke pos TNI yang ada di dekat lokasi. Kamera dan memory card diambil paksa anggota TNI dan memaksa Soni menghapus gambar liputan yang baru saja diambil.

Soni berada di posko TNI. (NET)

Menurut Gatot, prilaku seperti itu tidak dapat diterima. Oleh karena itu Gatot memastikan pelaku akan diganjar hukuman. "Yakinlah dan silakan awasi, pasti akan diproses secara hukum," kata dia.

Sejatinya pemukulan terhadap Soni oleh aparat TNI bukan yang pertama. Di tahun 2016 saja, tercatat ada tiga kasus pemukulan terhadap wartawan yang sedang bertugas meliput oleh aparat TNI.

Pertama pada 10 Februari 2016 ketika pesawat Super Tucano TT-8130 jatuh di Malang. Ketika itu, aparat merampas paksa memory card, kamera, kartu pers, dan pesawat tanpa awak (drone) milik wartawan yang meliput.

Kedua, pada 15 Agustus 2016 wartawati yang meliput konflik lahan Sari Rejo Polonia, Medan mengalami pelecehan seksual sejumlah aparat TNI Angkatan Udara. Dan terakhir adalah kejadian yang menimpa Soni.

Jenderal Gatot Nurmantyo. (NET)

Menanggapi kejadian-kejadian ini, Dewan Pers berinisiatif akan membuat nota kesepahaman dengan TNI. "Panglima TNI setuju membikin MoU," kata Ketua Dewan Pers Stanley Adi Prasetyo di Yogyakarta.

Nantinya nota kesepahamanan itu akan berisi soal pencegahan kekerasan dan sosialisasi UU Pers di kalangan aparat. "Dan kalau ada kasus kekerasan, dua institusi ini akan mendorong pelakunya diproses hukum," kata Stanley.

Panglima Gatot tidak setuju jika dikatakan bahwa TNI memiliki doktrin untuk melakukan kekerasan terhadap rakyat Indonesia. "Doktrin TNI itu TNI berasal dari rakyat. Jadi rakyat adalah ibu kandung TNI," pungkas Gatot.

ANGIE ANG | ANDREAS PAMUNGKAS

BACA JUGA:
Di Madiun Anggota TNI Pukuli Warga dan Wartawan
Anggota TNI Pukuli Wartawan, Panglima Belum Tentukan Sanksi
Kapen Kostrad: TNI Pukul Jurnalis Madiun karena Salah Paham
AJI: Berdamai Tak Selesaikan Kasus Pemukulan Wartawan​

4

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments