hero

EDITOR : DEWI RACHMAYANI

21 September 2016, 16:50 WIB

AMERIKA SERIKAT

Seorang wanita Indonesia, berbicara di Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat. Itulah Eni Lestari Andayani Adi.

Selasa, 20 September 2016, Eni berbicara di hadapan ratusan delegasi dari berbagai negara. Wanita yang terkenal sebagai aktivis pekerja migran ini berbicara tentang pengungsi dan migran. Ia ungkapkan kesedihannya akan masa depan buruh migran, juga tentang pengalaman pahitnya selama 16 tahun bekerja sebagai asisten rumah tangga di Hong Kong.

“Kami adalah kaum yang dianggap tidak punya masa depan dan tidak bisa bermimpi. Bagi kami, masa depan yang lebih baik adalah omong kosong. Kami menanggung beban utang, diselundupkan dan terpaksa menjadi budak. Banyak yang hilang, bahkan mati. Mimpi kami adalah mimpi buruk. Mimpi buruk akibat sistem yang diciptakan demi menguntungkan pebisnis migran dan memungkinkan perusahaan mereka menekan upah. Masa depan kami suram,” tutur Eni di mimbar sidang umum PBB.

Buruh migran yang bekerja di International Migrants Alliance ini bukan pertama kalinya bicara di panggung dunia. Tahun 2015 lalu ia juga menjadi pembicara di ajang Asia Pacific Forum On Women yang diadakan oleh United Nations Non Governmental Liaison Service. Saat ini, Eni menjadi ketua International Migrant’s Aliance, sebuah aliansi formal buruh migran yang lahir di Hong Kong tahun 2008. Organisasi ini beranggotakan 120 lembaga buruh migran dari 19 negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Demi kehidupan yang lebih baik, Eni tak kenal kata lelah memperjuangkan hak 244 juta buruh migran di seluruh dunia.

VOA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments