hero
Terdakwa La Nyalla Mattalitti mendengarkan dakwaan Jaksa di Pengadilan Tipikor, Senin, 5 September 2016

EDITOR : OCTOBRYAN

5 September 2016, 20:10 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Sidang perkara korupsi dana hibah Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur 2011-2014 dengan terdakwa La Nyalla Mattalitti digelar di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Senin, 5 Agustus 2016.

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum I Made Suarnaman menyatakan La Nyalla didakwa menyalahgunakan wewenang terkait pengelolaan dana hibah senilai Rp 48 Miliar.

"Terdakwa telah melakukan atau turut serta secara bersama-sama dan melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara," ujar jaksa.

Penuntut Umum menuturkan, perkara ini berawal dari adanya kesepakatan bersama antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Kadin Jawa Timur pada 9 Oktober 2009.

Terdakwa La Nyalla Mattalitti mendengarkan dakwaan Jaksa di Pengadilan Tipikor Jakarta

Menindaklanjuti anggaran dana hibah itu, La Nyalla selaku ketua kemudian mengajukan proposal kegiatan dengan melampirkan Rencana Anggaran Biaya untuk program kegiatan Akselerasi Perdagangan Antar Pulau, Usaha Mikro Kecil dan Menengah, serta Business Development Center. 

Namun, La Nyalla tidak menggunakan dana itu sesuai pengajuannya. Terdakwa justru mensiasati penggunaan dana hibah tidak sesuai peruntukannya, agar seolah-olah telah dilaksanakan sesuai proposal dan Rencana Anggaran Biaya.

La Nyalla kemudian mengambil uang dari total dana hibah Rp 48 miliar yang masuk ke rekening Kadin Jatim. Dalam dakwaan jaksa, total uang yang digelapkan terdakwa dalam kurun waktu penerimaan dana hibah Pemprov Jatim sebanyak Rp 1.105.577.500.

"Terdakwa telah memperkaya dirinya sendiri yaitu Rp 1.105.577.500 atau setidak-tidaknya sejumlah itu," ucap jaksa.

Suasana sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor Jakarta

Selain itu, La Nyalla diketahui menggunakan duit hibah Provinsi Jawa Timur sebanyak Rp 5,3 miliar untuk membeli saham kepemilikan Initial Public Offering (IPO) Bank Jatim. La Nyalla juga disebut telah memperkaya orang lain yaitu saksi Diar Kusuma Putra dan saksi Nelson Sembiring sebesar Rp 26.654.556.219. Atas perbuatan ketiga orang tersebut, kata jaksa, negara, dalam hal ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur dirugikan sebesar Rp 27.760.133.719.

Atas perbuatannya, La Nyalla didakwa dengan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 junto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 65 KUHP.

Menanggapi dakwaan itu, Aristio Pangaribuan selaku kuasa hukum La Nyalla Mattalitti langsung menyatakan keberatan atas dakwaan jaksa. Dirinya mengatakan, kliennya tidak bisa didakwa karena berdasarkan putusan praperadilan Pengadilan Negeri Surabaya penetapan tersangka kliennya tidak sah.
 
"Kami tidak mengerti kenapa La Nyalla didudukan sebagai terdakwa. Ada praperadilan yang menyatakan penetapan tersangka tidak sah," katanya.

Dalam eksepsi yang dibacakan kemudian, kuasa hukum La Nyala mengatakan, masing-masing putusan praperadilan yang dimaksud, yakni tanggal 7 Maret 2016, 12 April 2016 dan 23 Mei 2016.

"Maka kami meminta majelis hakim memutuskan membebaskan klien kami," tambahnya.

AZZAHRA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments