hero
Selena Gomez. (Foto: Reuters/Danny Moloshok)

EDITOR : FAJAR ANUGRAH PUTRA

2 September 2016, 08:05 WIB

AMERIKA SERIKAT

 

Penyanyi Selena Gomez mengumumkan pada Selasa 30 Agustus 2016 kalau dirinya akan break selama setahun dari semua kegiatan musik dan gemerlap dunia selebritis. Selena tidak akan tampil di atas panggung, menyanyi di depan kamera atau menghadiri acara-acara para pesohor untuk sementara waktu demi menyembuhkan penyakit Lupus yang dideritanya.

“Kalian semua mungkin sudah mengetahui kalau saya didiagnosis mengidap Lupus setahun yang lalu. Selama masa tersebut, saya mengalami perasaan cemas yang berlebihan, depresi dan kepanikan, semua karena penyakit ini (Lupus). Saya butuh waktu untuk menyembuhkan penyakit ini dan membangun kembali kebahagiaan yang selama ini hilang,” jelas Selena kepada People.

Selena berterima kasih kepada fans setianya yang terus mencintainya. Ia terharu melihat doa dan dukungan tanpa henti dari fansnya selama ini. Pelantun Same Old Love itu juga mendorong fansnya yang sedang memiliki masalah untuk tidak patah semangat dan terus yakin kebaikan pasti tiba.

Berbicara soal Lupus, sebegitu berbahayakah penyakit tersebut hingga Selena Gomez memutuskan istirahat selama setahun dari panggung hiburan? Apa itu penyakit Lupus?

Menurut Dokter Tania Savitri, Lupus adalah penyakit autoimun, yaitu kondisi sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel tubuh diri sendiri yang menyebabkan peradangan pada jaringan ikat dan dapat merusak beberapa organ tubuh.

Hal ini dapat memengaruhi sendi, kulit, paru-paru, jantung, pembuluh darah, ginjal, sistem saraf, dan sel-sel darah. Lupus juga dapat menyebabkan fenomena Raynaud yang menyebabkan kejang pada pembuluh darah, rasa sakit serta perubahan warna pada jari-jari, jari kaki, telinga dan hidung.

Bila menyerang sendi maka akan menyebabkan nyeri sendi, bila menyerang jantung bisa mengalami nyeri dada atau bila menyerang ginjal maka pasien bisa mengalami kencing berbusa dan bengkak di wajah serta kaki.

Lupus terjadi pada satu dalam setiap 2000 orang, lima kali lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Terutama bagi perempuan yang sedang hamil atau selama menstruasi yang paling sering didiagnosis pada orang berusia 15 sampai 40 tahun. Orang Afrika, Amerika,  keturunan Asia serta Hispanik mengalami Lupus lebih sering daripada ras Kaukasia.

Lalu seperti apa gejala orang yang terkena Lupus? Dokter Tania menjelaskan bahwa gejala yang khas itu berupa butterfly-shaped rash atau ruam kemerah-merahan berbentuk kupu-kupu di wajah. Gejala lainnya bisa berupa nyeri, bengkak dan atau kaku pada sendi-sendi. Tanda-tanda Lupus juga bisa berupa demam, sesak napas, nyeri dada dan sakit kepala.

“Tapi pada dasarnya gejala Lupus pada orang-orang yang mengidap Lupus akan berbeda-beda. Makanya diagnosis Lupus sulit dilakukan tanpa pemeriksaan lebih lanjut,” imbuh Dokter Tania yang berpraktik di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro, Jawa Timur, kepada NET.Z.

Mengenai penyebab Lupus hingga kini belum diketahui, tetapi faktor keturunan dan lingkungan dapat meningkatkan risiko terjadinya Lupus. Orang yang sering terkena sinar matahari atau tinggal di lingkungan yang terkontaminasi oleh virus atau sering memiliki stres lebih berisiko terhadap penyakit ini. Jenis kelamin dan hormon juga merupakan bagian dari penyebabnya. Banyak peneliti percaya bahwa hormon estrogen berperan dalam pembentukan penyakit Lupus.

Kemudian orang yang memiliki riwayat keluarga dengan Lupus (misalnya orangtua kandung atau saudara kandung) akan lebih rentan untuk mengalami Lupus. Namun belum tentu seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat Lupus maka otomatis akan menderita Lupus.

“Ini tergantung apakah gen tersebut akan terpicu oleh faktor-faktor lain seperti paparan sinar matahari (sinar ultraviolet), infeksi atau pengaruh obat-obatan tertentu,” ujar Dokter Tania.

Penyakit Lupus bisa dicegah dengan cara mengetahui apakah keluarga kandungnya ada yang memiliki riwayat sakit Lupus. Jika ada maka sebaiknya menghindari pencetus-pencetusnya seperti sinar matahari dan obat-obatan yang memicu Lupus. Soal obat-obatan pemicu Lupus ini bisa dikonsultasikan lebih lanjut kepada dokter.

Penanganan pasien yang menderita Lupus membutuhkan waktu yang panjang dan proses lama. Makanya dibutuhkan dukungan semangat dan doa dari keluarga serta teman kepada pasien Lupus.

Pasien penderita Lupus juga perlu memerhatikan beberapa hal sebagai berikut: 

1. Jangan merokok. Merokok akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan dapat memperburuk efek Lupus pada jantung dan pembuluh darah
 

2. Makan makanan yang sehat. Diet sehat seperti buah-buahan, sayuran dan biji-bijian
 

3. Berolahraga secara teratur. Latihan dapat membantu Anda pulih dari bintil merah, mengurangi risiko serangan jantung dan membantu melawan depresi
 

4. Hindarilah paparan sinar matahari. Karena sinar ultraviolet dapat memicu bintil merah, mengenakan pakaian pelindung (seperti topi, baju lengan panjang dan celana panjang) dan menggunakan tabir surya dengan faktor perlindungan matahari (SPF) minimal 55 setiap kali pergi ke luar  
 

5. Istirahat yang cukup. Orang dengan Lupus sering mengalami kelelahan berkepanjangan yang berbeda dari kelelahan normal dan belum tentu hilang dengan istirahat. Perbanyak istirahat di malam hari dan lakukan tidur siang jika diperlukan

6. Ikuti saran dokter.

 

PEOPLE – HELLO HEALTH

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments