(NET/Bayu Nur Sasongko)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

30 Agustus 2016, 16:30 WIB

KAB. BANYUMAS, INDONESIA

Kalau kamu makan sate, pernah nggak terfikir dari mana asal usul tusuknya? Nah, ternyata asal usul tusuk sate yang biasa kita makan ini salah satunya berasal dari Desa Suro, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah. Di desa ini hampir warganya baik cewek ataupun cowok kebanyakan berprofesi sebagai pembuat tusuk sate. Nggak heran jika kampung ini dijuluki sebagai Kampung Tusuk Sate.

Kampung Tusuk Sate. (NET/Bayu Nur Sasongko)

Tusuk sate dari bambu yang dipotong dengan ukuran 24 sentimeter dan diiris tipis-tipis serta diruncingkan bagian ujungnya. Cara pembuatan ini sangat tradisional nggak menggunakan mesin canggih sama sekali. Jelang Hari Raya Idul Adha kampung ini juga kebanjiran order, bahkan mengalami peningkatan hingga dua kali lipat.

“Ini semakin meningkat, karena banyak yang order. Sampai 200 ribu tusuk, kalau hari biasa paling 100 ribu tusuk," kata Lasiem, pengrajin tusuk sate.

Kampung Tusuk Sate. (NET/Bayu Nur Sasongko)

Dalam satu hari, setiap rumah menghasilkan sekitar 5 ribu hingga 8 ribu tusuk sate. Tusuk sate ini kemudian diambil dan dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. “Ada sekitar 350 keluarga. Sebagian besar dijualnya ke Jakarta, Yogyakarta, Semarang dan luar Jawa juga,” ujar  Suwandi, Sekretaris Desa Suro.

Membuat tusuk sate telah ditekuni warga sejak puluhan tahun lalu. Dari usaha ini ekonomi warga setempat bergerak. Untuk seribu tusuk sate dihargai Rp20 ribu rupiah. Semua bahannya menggunakan bambu yang gampang ditemukan di kawasan ini.

BAYU NUR SASONGKO

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments