hero
Foto ilustrasi: Reuters/Kai Pfaffenbach

EDITOR : FAJAR ANUGRAH PUTRA

30 Agustus 2016, 13:05 WIB

CHINA

Uber sedang terguncang di 2016.  Perusahaan aplikasi pemesanan taksi plat hitam itu mengalami kerugian sekitar USD1,27 miliar (Rp16,8  triliun – kurs USD1=Rp13.255) hanya dalam waktu enam bulan saja di 2016. Bloomberg melaporkan bahwa kerugian terbesar Uber diperolah dari operasional mereka di Cina.

Dalam triwulan pertama 2016, Uber merugi sekitar USD520 juta (Rp6,9 triliun) dan sekitar USD750 juta (Rp9,9 triliun) di triwulan kedua. Subsidi besar-besaran di Cina untuk bisa bersaing dengan pemain lokal, Didi Chuxing, membuat keuangan Uber “berdarah-darah.” Menerapkan tarif sangat murah tidak sebanding dengan ongkos operasional Uber di Cina.

Uber memang sudah menjual operasionalnya di Cina kepada Didi Chuxing. Imbal balik dari penjualan tersebut ialah berupa saham milik Uber sebesar 18 persen di Didi Chuxing. Namun, penjualan operasional di Cina tidak membuat keuangan Uber membaik.

CEO Uber, Travis Kalanick, mengakui kalau operasional bisnis mereka di Cina tidak menguntungkan. Kalanick juga menyebutkan bahwa bukan hanya pihaknya yang rugi, Didi Chuxing pun demikian.

“Uber dan Didi sudah berinvestasi miliaran dolar di Cina, namun kami berdua sama sekali belum untung dari bisnis kami di sini,” jelas Kalanick di pernyataan resminya saat Uber menjual bisnisnya kepada Didi di awal Agustus 2016.

Uber mulai beroperasi di Cina pada 2013 dan semenjak itu sudah melebarkan sayapnya di 60 kota. Namun kerugian terus diderita Uber hingga USD1 miliar (Rp13,2 triliun) per tahunnya. Kerugian di semester pertama 2016 menjadi yang terbesar sejak Uber berbisnis di Cina.

Uber diperkirakan memiliki nilai global mencapai USD68 miliar dan sudah menarik investasi sebesar USD16 miliar. Meski berstatus sebagai salah satu perusahaan bernilai besar di dunia, sebenarnya banyak operasi bisnis Uber yang merugi. Selain di Cina, Uber juga rugi di Amerika Serikat, salah satu pasar penting mereka. Uber sudah rugi sekitar USD100 juta (Rp1,3 triliun) di triwulan kedua 2016 saja.

Subsidi besar-besaran untuk pengemudi rekanan agar bisa memberikan tarif murah kepada pelanggan, investasi di sektor teknologi dan kampanye marketing merupakan biaya operasional terbesar Uber selama ini. Sedangkan mereka belum bisa menjadikan model bisnisnya mendatangkan uang dalam jumlah signifikan.

CNN MONEY - BLOOMBERG

 

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments