hero
Menko Polhukam Wiranto saat memberikan keterangan pers pada wartawan di Istana Kepresidenan, Kamis, 18 Agustus 2016.

EDITOR : OCTOBRYAN

19 Agustus 2016, 04:05 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Militer Filipina kembali menemukan warga negara Indonesia (WNI) kedua yang berhasil melarikan diri dari kelompok militan Abu Sayyaf, Kamis, 19 Agustus 2016. Ismail (22), terdampar di kota Luuk, pulau Jolo, Provinsi Sulu, Filipina, beberapa jam setelah Muhammad Sofyan (28), sandera pertama yang juga berhasil kabur, ditemukan.

Ismail kini berada di Kepolisian Sulu untuk pemeriksaan kesehatan dan akan kembali ke Tanah Air dalam waktu dekat. Ismail dan Sofyan adalah dua dari tujuh kru kapal tunda Charles 001 yang dibajak di perairan Tawi-Tawi, Filipina, dan kemudian disandera sejak Juni kemarin.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamaman (Menko Polhukam) Wiranto membenarkan hal tersebut. Dirinya mengatakan keduanya telah bebas dari sekapan para penculik di Filipina selatan. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Filipina pun telah dikonfirmasi atas peristiwa itu

"Dua orang lolos dari penculik. Satu lagi Ismail namanya .Sekarang sedang kita periksa kesehatannya," ujar Wiranto di Istana Kepresidenan, Kamis, 19 Agustus 2016.

Namun Wiranto enggan mengungkapkan bagaimana cara kedua WNI anak buah kapal niaga tersebut bisa lolos dari penculik. Ia mengatakan, biarkan mereka yang bercerita proses melarikan diri.

Wiranto berharap perkembangan pembebasan sisa para sandera lebih baik lagi ke depannya. Pemerintah Filipina sudah memberikan ancaman serius kepada para penyandera melalui tekanan militer sekaligus psikologis.

"Oleh sebab itu kami doakan agar teman-teman kita yang tersandera cukup lama itu segera bisa bebas," ujar Wiranto.

Sementara itu mengetahui keduanya sudah bebas, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kemudian menghadap Presiden Joko Widodo untuk melaporkan kondisi dua WNI tersebut.

"Setelah info diperoleh dan pemeriksaan kesehatan selesai, kita mempersiapkan proses pemulangannya ke Indonesia," kata Retno.

Presiden, kata Retno, memberikan arahan agar terus dilakukan upaya pembebasan seluruh WNI. Menurut Presiden, pembebasan tetap mengutamakan keselamatan WNI.

"Arahan Presiden jelas bahwa upaya pembebasan terus dilakukan dan tentunya keselamatan merupakan prioritas," tambahnya.

Sebelumnya, Tanggal 23 Juni lalu, kelompok Abu Sayyaf melakukan penyergapan di atas kapan TB Charles, milik perusahaan pelayaran PT PP Rusianto Bersaudara. Kapal itu mengangkut 13 awak buah kapal. Namun, hanya tujuh orang yang disandera.

Salah seorang ABK sempat menelepon istri yang tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur. Korban meminta agar istrinya segera mengabarkan peristiwa penyanderaan kepada wartawan, kepolisian, pemerintah, dan pihak perusahaan. Dalam komunikasi itu, korban mengatakan bahwa kelompok militan meminta tebusan 20 juta ringgit. Anak buah kapal berkewarganegaraan Indonesia selama ini menjadi langganan penyanderaan kelompok militan di Filipina. 

ADAM SURYANEGARA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments