hero
Laksamana Muda (Purn) Soleman Ponto. (NET/Edwan)

EDITOR : TITO SIANIPAR

15 Agustus 2016, 05:05 WIB

INDONESIA

Intel bukan sembarang intel. Laksamana Muda (Purn) Soleman Ponto adalah Kepala Badan Intelijen Strategis TNI periode 2011 hingga 2013, yang sekarang harus turun gunung.

Ramainya pemberitaan seputar pengakuan Freddy Budiman yang dirilis Koordinator Kontras Haris Azhar lah yang membuat Soleman Ponto ikut sumbang suara. Pasalnya impor 1,4 juta ekstasi yang menjadi dasar vonis mati Freddy, menyerempet koperasi BAIS TNI.

"Saya harus keluar untuk mengklarifikasi, meluruskan, dan mendudukkan pada relnya," kata Soleman dalam wawancara khusus dengan NET.Z di Hotel Borobudur, Selasa, 9 Agustus 2016 lalu. 

"Karena ini betul-betul menyudutkan TNI, BAIS, dan saya terutama," tambah pria pria yang kini menjabat Komisaris Utama PT INTI ini.

Dalam wawancara, Soleman menceritakan kembali kejadian di tahun 2012 ketika kontainer berisi 1.412.476 pil ekstasi datang dari Cina. Ekstasi dalam kontainer bernomor TGHU 0683898 tiba di Pelabuhan Tanjung Priok 28 April 2012 yang kemudian digeledah petugas pada 8 Mei 2012.

Pada 28 Mei 2012 kontainer atas nama Primer Koperasi Kalta itu dikeluarkan dari pelabuhan dan dikawal Sersan Mayor Supriyadi, anggota BAIS TNI. Badan Narkotika Nasional lalu menggerebeknya. Belakangan Supriyadi divonis 7 tahun penjara karena kasus itu.

Adalah Freddy yang mengatur impor tersebut dari dalam LP Cipinang. Akibat impor 1,4 juta pil itu, Freddy dijatuhi hukuman mati oleh majelis hakim PN Jakarta Utara pada 15 Juli 2013. Sebelum dieksekusi, Freddy mencurahkan semuanya kepada Haris Azhar dengan disaksikan Kepala LP Batu Nusakambangan Liberty Sitinjak.

Dalam kesaksiannya, Freddy menceritakan bagaimana ia bisa leluasa mengimpor narkoba karena sudah berkoordinasi dengan polisi, Bea Cukai, termasuk Badan Narkotika Nasional. Selama berbisnis itu, Freddy mengaku menyetor Rp 450 miliar ke BNN, Rp 90 miliar ke pejabat polisi, termasuk difasilitasi jenderal TNI bintang dua mendistribusikan narkoba.

Seakan senada dengan testimoni Freddy, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menemukan aliran dana mencurigakan hingga ratusan miliar ke oknum aparat terkait jaringan Freddy. "Saya serahkan ke BNN untuk diusut," kata Ketua PPATK Muhammad Yusuf.

Sontak instansi yang disebut dalam tulisan Haris berjudul 'Cerita Busuk dari Seorang Bandit' tersengat. BNN, polisi, dan TNI melaporkan Haris atas pencemaran nama baik 3 Agustus 2016 lalu. Organisasi Pemuda Panca Marga ikut-ikutan melaporkan Haris sehari kemudian.

Belakangan Liberty juga ikut direpotkan. Ia diperiksa BNN soal keterangan adanya anggota BNN yang meminta kamera pengintai di sel isolasi Freddy dicopot. "Saya tidak mengabulkan permintaan Freddy," kata Liberty yang ditawari Rp 10 miliar oleh Freddy.

Kasus ini terus bergulir. Kepolisian RI membentuk tim independen untuk menyelidiki kebenaran informasi di artikel itu. Disusul Panglima TNI juga membentuk tim investigasi. "Dipimpin TNI bintang tiga, dan sudah bergerak ke narapidana-narapidana TNI dan yang sudah bebas," kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Testimoni Freddy yang dirilis Haris itu juga membuat mereka-mereka yang terkait ikut angkat bicara. Awalnya adalah mantan Deputi Pemberantasan Narkoba BNN Benny Mamoto dalam diskusi di Cikini, akhir pekan lalu. Ia menyebut ada petinggi TNI yang terlibat penyeludupan itu.

Statemen Benny itulah yang membuat Soleman keluar dari 'pertapaannya' dan menuliskan cerita versinya. Secara blak-blakan, Soleman, juga menuding balik bahwa BNN dan Bea Cukai bersekongkol mengeluarkan kontainer itu dari pelabuhan.

Bagaimana cerita Mei 2012 itu versi Soleman? Benarkah Soleman mendukung testimoni Freddy? Kenapa pria kelahiran Sangir, 6 November 1955 ini mengusulkan agar TNI dilibatkan dalam pemberantasan narkotika? Simak semuanya di video berisi wawancara lengkap Soleman.

TITO SIANIPAR | YUVEN NITANO | KURNIAWAN ARIF | MUHAMMAD HASANUDIN

BACA JUGA:
BNN Laporkan Haris Supaya Ada Legalitas
Usut Kasus Freddy Budiman, Haris Azhar Minta Jokowi Turun Tangan
Tim Pencari Fakta Polri Dibuat Sibuk oleh Curhatan Freddy
Cerita Liberty Sitinjak Tolak Rp 10 Miliar dari Freddy Budiman
Haris Azhar Beberkan Alasan Baru Bongkar Kesaksian Freddy

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments