hero

EDITOR : REZA ADITYA

6 Agustus 2016, 17:15 WIB

INDONESIA

Belum lama ini, dunia pendidikan dihebohkan oleh vonis majelis hakim Pengadilan Negeri Sidoarjo terhadap Muhammad Samhudi, guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Raden Rachmat, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur. Kamis, 4 Agustus 2016 kemarin, Samhudi divonis tiga bulan penjara dan denda Rp 250 ribu dengan masa percobaan selama enam bulan.

Sebenarnya apa sih yang membuat Samhudi divonis seperti itu oleh majelis hakim? Masalahnya cukup sepele. Samhudi, menurut ketua majelis hakim Rini Sesuni, terbukti mencubit anak muridnya hingga memar pada Februari 2016 lalu. Alasan Samhudi mencubit siswanya itu hanya karena tidak mau melaksanakan solat duha. Padahal, Samhudi ini di SMP Raden Rachmat itu hanya sebagai guru matematika.

Orang tua murid tidak senang dan melaporkan Samhudi ke Polisi. Tapi, Samhudi berusaha meredam masalah dengan melakukan kesepatan damai dengan orang tua murid. Bahkan kesepakatan damai itu juga dimediasi oleh Wakil Bupati Sidoarjo. Karena laporan belum dicabut dari kepolisian oleh orang tua murid, kasus hukum tetap berjalan.

Akibatnya, Samhudi dijerat Pasal 80 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Anak karena telah melakukan tindak kekerasan terhadap anak muridnya. Apa ya kira-kira isi Pasal 80 ayat (1) itu?

 

Penjelasan Pasal 80 ayat (1) UU Perlindungan Anak

 

Penjelasan Pasal 76C UU Perlindungan Anak

 

Lalu kira-kira gimana ya tanggapan siswa dan siswi atas hukuman yang diberikan guru kepada murid. Yuk simak komentarnya

 

 

Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Poppy Dewi Puspitawati, prihatin dengan kasus yang menjerat Samhudi. "Kami prihatin dengan kejadian ini, berharap Pak Samhudi ikhlas, sabar, tabah menghadapi cobaan ini," kata Poppy, di kantornya, Jumat, 5 Agustus 2016. "Tentu kami menghormati hukum dan tetap berharap ada banding, mudah mudahan ada jalan keluar yg lebih baik."

Poppy berharap kasus seperti ini tidak terjadi lagi. Tak lupa dia juga mengimbau kepada seluruh guru dan tenaga pengajar yang ada di Indonesia untuk mengubah sistem pengajaran kepada siswa-siswi di sekolah. Saat ini, kata dia, siswa dan siswi sudah tidak bisa diberikan sistem pengajaran keras dengan menggunakan hukuman fisik. Misalnya, dicubit, dipukul dan sebagainya.

"Kami mengimbau bahwa zamannya sudah berubah, tidak seperti dulu," kata dia. "Guru harus bisa menciptakan suasana yang menyenangkan." 

Selain itu, Poppy juga menekankan kepada orang tua murid dan guru untuk saling berkomunikasi. Misalnya, silaturahmi sejak awal murid masuk, pembagian rapor, sampai dengan kenaikan dan kelulusan siswa.


DIYAS PRADANA | ANAN SURYA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments