hero
Lukisan reproduksi Memanah karya Henk Ngantung. (Foto: NET/Musthafa)

EDITOR : FAJAR ANUGRAH PUTRA

6 Agustus 2016, 09:05 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Selama Agustus 2016 ini, Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat akan diramaikan oleh pengunjung yang mengantre masuk untuk melihat pameran lukisan bernilai tinggi koleksi Istana Kepresidenan Indonesia. Kamu bisa melihat sebagian koleksi lukisan Istana Kepresidenan secara gratis, kapan lagi kalau nggak sekarang?

Untuk pertama kalinya, pameran ini digelar sekaligus menyambut hari kemerdekaan Indonesia ke-71 pada 17 Agustus 2016. Pameran ini mengusung tema “17 | 71: Goresan Juang Kemerdekaan.” Pameran ini digelar di bawah koordinasi Kementerian Sekretariat Negara. Ada 28 lukisan asli dan satu lukisan reproduksi yang dipamerkan karena kondisinya ada yang rusak.

Lukisan reproduksi itu adalah karya Henk Ngantung yang kemudian direproduksi oleh Haris Purnomo yang berjudul “Memanah”. Lukisan ini berbahan cat minyak di atas papan triplek. Triplek berbeda guys dengan kayu atau hardboard. Selain itu, triplek juga memiliki umur yang pendek sehingga karya ini merupakan karya yang paling sulit perawatannya.

“Karya dengan bahan ini memerlukan perawatan ekstra dan memiliki tingkat pengawasan yang tinggi, termasuk dari serangga dan ngengat, sehingga perlu penanganan khusus karena gampang rusak,” ujar Mikke Susanto, kurator lukisan Galeri Nasional Indonesia.

 

Hasil Reproduksi Lukisan Memanah. (Foto: NET/Musthafa)

Reproduksi lukisan akhirnya menjadi salah satu pilihan karena lukisan asli karya Henk Ngantung mengalami kerusakan dan supaya pengunjung dapat menikmati lukisan tersebut secara utuh. Wah, ternyata memang ada perawatan khusus ya untuk lukisan dan bukan sembarang membersihkannya aja.

“Proses reproduksi ini sendiri diinisiasi secara resmi oleh pihak Sekretariat Negara RI. Haris Purnomo ditunjuk untuk melakukan reproduksi karena ia memiliki gaya lukis yang berdekatan dengan Henk Ngantung,” jelas Mikke. Selain itu, diakuinya juga bahwa teknik yang dimilik Haris mampu mengantisipasi waktu yang dimiliki panitia dalam melaksanakan pameran ini.

“Haris merupakan pelukis kontemporer Indonesia terkemuka. Alasan ini penting untuk menggambarkan bahwa Istana memiliki kemauan positif terhadap pelestarian karya,” tambah Mikke.

Nama Henk Ngantung mungkin masih terasa asing buat kamu. Tahukah kamu kalau Henk Ngantung adalah Gubernur DKI Jakarta ketujuh sekaligus yang pertama beragama non-Islam di Indonesia. Ia menjabat di era Soekarno. Sebelumnya, beliau adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta kemudian diangkat langsung oleh Presiden Soekarno sebagai Deputi Gubernur di bawah Presiden Soekarno.

Pria dengan nama asli Hendrik Hermanus Joel Ngantung ini merupakan seorang pelukis yang telah mendirikan Gelanggang bersama Chairil Anwar dan Asrul Sani.

Karya lainnya yang tak kalah bagus dengan “Memanah” adalah membuat lambang DKI Jakarta dan Kostrad (Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat). Namun sayang, karya ini tidak diakui oleh pemerintah karena Henk dianggap sebagai pembelot Negara dengan tuduhan sepihak menjadi pengikut Partai Komunis Indonesia. Lukisan lainnya  Henk berjudul “Ibu dan Anak” menjadi karya terakhirnya.

AVILA RIA - MUSTHAFA

 

10

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments