EDITOR : PUTU DYAH

4 Agustus 2016, 08:05 WIB

PAPUA BARAT, INDONESIA

Jangkar diangkat dari kedalaman air di lautan Sorong. Kapal ‘Kalabia’ siap melaju ke desa-desa di kawasan Raja Ampat, wilayah cantik di sebelah barat Papua. Misi mulia, ‘berlayar sambil belajar’ dijunjung oleh para relawan yang ikut di dalam kapal.

Kawasan Raja Ampat yang jadi wilayah jelajah kapal Kalabia. (NET/ Franciska Anis)

Kali ini kapal menuju tiga kampung yaitu Sawingkrai, Kapisawar dan Arborek. Sampai di dermaga, belasan anak berkulit hitam dan berambut keriting khas Papua menyambut kedatangan Kalabia. Dalam bahasa lokal, kalabia berarti hiu bambu. Sebagai simbol untuk gerakan yang menyebarkan isu konservasi ini.

“Kita hidup dari alam jadi harus bisa jaga alam. Dari alam kita bisa makan, kita hidup. Tuhan titipkan alam untuk kita hidup, jadi harus kita jaga sama-sama,” kata Marina Kamosum, salah satu relawan Kalabia.

Marina Kamosum, salah satu relawan pengajar di Kalabia. (NET/ Franciska Anis)

Sejak aktif tahun 2008, gerakan Kalabia mengusung pemerataan pendidikan lingkungan untuk masyarakat di 120 kampung di Raja Ampat. Di tengah masyarakat, relawan sering menyampaikan pentingnya hutan bakau dan kehadiran penyu di laut mereka. Karena warga masih sering mengambil hewan ini untuk kebutuhan konsumsi.

Sementara untuk anak-anak, kegiatannya lebih seru lagi. Laut jadi halaman bermain mereka. Anak-anak diajak untuk menengok ekosistem terumbu karang. Setelah bermain, mereka juga bermain kuis tentang hewan-hewan dalam laut dan cara pelestariannya.

Aktivitas anak-anak belajar di dermaga. (NET/ Franciska Anis)

“Jangan buang sampah, jangan merusak. Jangan pakai potas, jangan buang bom. Kalau buang bom, ikan tidak bisa banyak di kampung,” kata Simson Dimara, siswa SD YPK Elim Kapisawar setelah belajar dengan relawan Kalabia.

Simson dan teman-temannya jadi harapan untuk menjaga kampung mereka, bumi Raja Ampat. Melindungi keindahan alam dan keragaman hayatinya agar bisa dinikmati generasi selanjutnya. Kalabia juga terus berlayar. Berpindah kawasan setiap 20 hari, demi mewujudkan mimpi: anak-anak bisa membaca, warga sejahtera dan alam tetap terjaga. 

KHAIRIL HANAN LUBIS 

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments