hero

EDITOR : REZA ADITYA

26 Juli 2016, 23:00 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menolak eksekusi hukuman mati tahap ketiga, khususnya kepada satu terpidana mati wanita, Merry Utami, 42 tahun. Ketua Komnas Perempuan, Azriana, mengatakan pemerintah harus melihat sisi lain dari Merry yang dalam kasus ini hanya sebagai korban.

"Merry dan wanita-wanita lain yang dituduh sebagai kurir narkoba sebenarnya adalah korban," kata Azriana, di kantornya, Selasa, 26 Juli 2016. Artinya, kata dia, selain Merry sebenarnya banyak wanita-wanita lain yang hanya dijadikan korban perdagangan dan juga kurir narkoba.

Azriana meminta pemerintah lebih jeli dalam menangani kasus narkotik. Misalnya dalam kasus ini, kata dia, pemerintah tidak sepenuhnya  melihat latar belakang kehidupan Merry sebelum ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta pada tahun 2001. Padahal, Azriana melanjutkan, karena desakan ekonomilah yang menyebabkan Merry membawa barang haram tersebut ke Indonesia. Apalagi, perempuan Indonesia sebagian besar bekerja di sektor informal yang rentan dijadikan kurir.


"Kami  berharap pemerintah bisa melakukan pemberantasan narkotik dari hulu ke hilir," kata dia. "Bukan hanya sekadar menegakkan hukum. Serta mempertimbangkan untuk menunda hukuman mati."

Merry ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta karena membawa 1,1 kilogram heroin. Tahun 2003, dia divonis mati oleh Pengadilan Negeri Tangerang. Kisah Merry berawal dari kedekatannya dengan pria bernama Jery. Dia lalu diminta ke Nepal untuk jalan-jalan dengan dititipi tas. Rupanya, di dalam tas tersebut ditemukan heroin oleh petugas Bandara Soekarno-Hatta.

Nama Merry disebut-sebut sebagai salah satu terpidana dari 16 yang akan dieksekusi mati dalam waktu dekat ini. Merry merupakan satu-satunya terpidana perempuan dalam rencana ekskusi tahap ketiga ini. Setelah sebelumnya, dalam eksekusi tahap kedua tahun 2015. Rencananya sebanyak 15 orang pada tahun 2015 itu, yang terdiri dari warga negara Indonesia dan warga negara asing, akan dieksekusi secara bertahap. Enam orang pertama dieksekusi pada tanggal 18 Januari sisanya pada 29 April. 

Namun, jelang eksekusi terakhir pada saat itu, satu terpidana dibatalkan lantaran pertimbangan hukum. Dia adalah Mary Jane, terpidana asal Filipina. Mary Jane batal dieksekusi lantaran permintaan pemerintah Filipina untuk pengungkapan kasus yang melibatkan pelaku lain. 

Selain Komnas Perempuan, permintaan pembatalan hukuman mati itu juga datang dari kuasa hukum terpidana. Yang terbaru misalnya video yang disebar Farhat Abbas, selaku kuasa hukum terpidana mati Seck Osmane, memohon ampunan kepada Presiden Joko Widodo. Dalam video berdurasi 1 menit 40 detik itu Osmane, yang kedapatan menyimpan heroin sebanyak 2,4 kilogram,  meminta grasi kepada Presiden. 

DIYAS PRADANA | WISNU ADI NUGROHO | ANAN SURYA

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments