hero

EDITOR : AULIA RAHMAT

24 Juli 2016, 02:10 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Rabu 20 Juli 2016, Presiden Joko  Widodo menunjuk Komjen Pol  Suhardi Alius sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Ia menggantikan junior sekaligus atasannya, Jenderal Tito Karnavian yang diangkat sebagai Kapolri oleh Presiden.

Bagi yang mengikuti ingar-bingar reformasi di tubuh Korps Bhayangkara, kabar ini cukup mengejutkan.  16  Januari 2015, Suhardi dimutasi dari jabatannya sebagai Kabareskrim menjadi Sekretaris Utama di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Ia dipindah selang beberapa saat setelah Presiden Joko Widodo memberhentikan secara hormat Jenderal Sutarman sebagai Kapolri.

Tidak lama setelah mutasi, pernyataan menyengat datang dari Irjen Pol Budi Waseso. Saat itu Buwas menjabat sebagai Kepala Sekolah dan Staf Pimpinan (Kasespim) Polri. Ia menganggap Suhardi  sebagai pengkhianat di tubuh Polri. Ia menuduh Suhardi bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membocorkan informasi kejahatan korupsi calon tunggal Kapolri saat itu, Komjen Pol Budi Gunawan.

Bahkan internal Polri membawa persoalan ini ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Kepolisian. Propam memeriksa Kabareskrim Komjen Pol Suhardi Alius beserta anak buahnya Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipdeksus) Brigjen Pol Kamil Razak.

Hingga saat ini belum diketahui hasil dari pemeriksaan oleh Propam tersebut. Senasib dengan Suhardi, Kamil Razak pun turut dimutasi menjadi Karorenmin Baharkam. Jabatan yang dianggap tidak strategis jika dibanding Dirtipideksus, Bareskrim.

Tubuh Polri seperti terpecah menjadi dua, Irjen Budi Waseso didapuk sebagai Kabareskrim menggantikan Suhardi, rekan yang dituduhnya sebagai pengkhianat. Setelah dilantik Buwas kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Ia mengatakan akan membela Budi Gunawan dan melakukan pembersihan terhadap pengkhianat di tubuh Polri.

Di sisi lain Presiden Jokowi justru membatalkan pencalonan Komjen Pol Budi Gunawan sebagai Kapolri. Jokowi menunjuk Wakapolri  Komjen Pol Badrodin Haiti sebagai pemimpin tertinggi di Institusi Kepolisian.

Di tengah keterasingan Suhardi ada yang menyayat hati. Saat semua perwira tinggi menjauhinya, diam-diam Kapolri Badrodin Haiti bersama Irjen Tito Karnavian yang kala itu menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya menjenguk Suhardi. Saat itu ia di rawat di RS Pondok Indah karena menjalani operasi usus buntu. Di sini jelas terlihat siapa yang mendukung dan menentang mantan Kapolda Jawa Barat ini.

Tidak ada kawan dan lawan abadi, ungkapan tersebut tidak hanya berlaku di panggung politik. Nyatanya ini terjadi juga di ranah profesional seperti Kepolisian. 

Tak lama setelah dilantik sebagai Kapolri, Tito Karnavian menyodorkan langsung nama Suhardi Alius kepada Presiden Joko Widodo. Ia yakin sang sahabat cukup berpengalaman menangani kasus terorisme di Indonesia.

"Beliau pernah menjabat sebagai Kabareskrim, beliau bersentuhan langsung dengan kasus-kasus terorisme. Komjen Suhardi memiliki pemahaman yang baik tentang terorisme," ujar Tito kepada NET.

Begitu rumit jalan yang harus dilalui Suhardi Alius sosok cerdas penerima Adhi Makayasa Akpol 1985. Jenderal bintang tiga yang dahulu dibuang kini melenggang. Ia akan memimpin BNPT menatap masa depan, memberangus teroris dan menangkal radikalisme.

Aulia Rahmat

6

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments