hero
Arist Merdeka Sirait, 18 Juli 2016. (NET/Octa)

EDITOR : TITO SIANIPAR

19 Juli 2016, 01:35 WIB

INDONESIA

Terungkapnya peredaran vaksin palsu di sejumlah rumah sakit di Jabodetabek menyebabkan orang tua panik. Terlebih temuan dari Bareskrim Polri, kasus ini terjadi sejak tahun 2003, atau telah berlangsung selama 13 tahun. 

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menilai kasus ini merupakan bukti kelalaian pemerintah yang dalam hal ini Kementrian Kesehatan dan BPOM. Oleh karena itu, Komnas berencana mengajukan class action terhadap pemerintah.

"Ini adalah genosida, pembunuhan anak secara perlahan-lahan lewat suntik vaksin palsu. Ini hanya terjadi di Indonesia," ujar Arist, Senin, 18 Juli 2016.

Menurut Arist, dibutuhkan waktu dua pekan untuk menghimpun data dan dukungan dari masyarakat, untuk kemudian diproses sebagai bahan untuk mengajukan gugatan class action terhadap Kemenkes dan BPOM.

Di kesempatan lain, presiden Joko Widodo mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak panik dalam menanggapi kasus ini. 

"Karena peristiwa ini adalah menyangkut waktu yang lama. Perlu kehati-hatian dan perlu penulusuran dalam jangka waktu yang panjang," ujar Jokowi ketika meninjau kegiatan vaksin ulang di Puskesmas Ciracas, Jakarta Timur.

Kunjungan ke Puskesmas Ciracas, kata Jokowi, adalah untuk memastikan kegiatan Vaksin ulang berjalan dengan baik. "Saya datang ke sini ingin memastikan bahwa masyarakat mendapatkan informasi yang benar dari Puskesmas, maupun dari kementerian," kata dia.

ANAN SURYA | OCTA BARRY | REYSKA RAMDHANY

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments