Kolom Akhir Pekan

EDITOR : TITO SIANIPAR

16 Juli 2016, 06:30 WIB

INDONESIA

Lelaki tambun berusia 40 tahun itu berjalan sambil menatap layar smartphone di sekitar perumahan BSD Tangerang. Lalu tiba-tiba jarinya bergerak cepat. Hap! Ia berhasil menangkap satu Pokemon. Skor bertambah dan ia makin semangat menuju Pokestop berikutnya.

Lelaki itu bernama Dennis Cornelius. Ia penggemar online game yang ikut mengunduh Pokemon GO karena penasaran. Begitu ia mulai memainkannya, ia merasakan permainan ini menyodorkan adventure yang seru dibanding game yang biasa ia mainkan. Dari yang sebelumnya duduk di depan TV, kini ia main game di jalanan.

Rupanya rentang usia bukan batasan memainkan Pokemon. Permainan ini tenar seantero jagat. Padahal, usia Pokemon GO ini belum ada sebulan. Siapakah yang paling gembira hatinya dari Pokemon GO ini selain para pemain? Tentu saja kreatornya: John Hanke. 

Permainan Pokemon GO kreasi Hanke memecahkan semua rekor unduhan aplikasi digital yang pernah ada. Tercatat lebih dari 10 juta pengunduh Pokemon GO hanya dalam pekan pertama. Angka itu melampaui jumlah pengguna aktif Twitter setiap hari.

Juga lama waktu yang dihabiskan bermain Pokemon di atas rata-rata pengguna Facebook, Snapchat, Instagram dan Whatsapp. Prestasi Pokemon GO atas semua aplikasi digital itu tentu barang langka, dan jelas bukan sukses sekejap mata.

John Hanke. (pokemon.wikia)

 

Yang tak banyak orang tahu, John Hanke menunggu waktu 20 tahun untuk bisa segembira hari-hari ini. Bermula dari menciptakan permainan MMO (massively multiplayer online game) bernama Meridian 69 pada 1996, John meniti jalannya sebagai inventor dan kreator dunia digital. 

Ia jugalah orang yang mencipta Keyhole, yang di kemudian hari dilirik Google dan menjadi cikal bakal Google Earth. Tahun 2004-2010, John membuat Google Maps dan Google Street View. Dari sana ia merekrut programer untuk Niantic Labs, usaha bisnis startup dengan fokus permainan berbasis GPS yang didirikan John pada tahun 2010. 

Dengan suntikan modal dari Google, Hanke dengan Niantic Labs meluncurkan permainan Ingress pada tahun 2012. Permainan ini memadukan peta digital dan GPS. Ingress cukup terkenal di kalangan online gamer termasuk di Indonesia. 

Pada tahun ini, John mendapat US$ 25 juta (sekitar Rp 325 miliar) dari Google, Nintendo dan Pokemon untuk membentuk tim berjumlah 40 orang lebih yang melahirkan Pokemon GO. Tipenya sama: berbasis Geo-MMO seperti Ingress yang mendunia.

Karakter-karakter Pokemon. (pokemon.wikia)

 

Sukses Pokemon GO tak hanya dinikmati John Hanke. Dengan lahirnya Pokestop, pengusaha kedai atau warung makan bisa menawarkan tempat istirahat bagi mereka yang lelah mencari Pokemon. Di Indonesia, objek dan tempat wisata mulai aktif mengajak para pemain untuk menggunakan jasanya agar bisa leluasa mencari Pokemon.

Namun Dennis mengaku hanya kuat sehari memainkan Pokemon GO. Ia memutuskan untuk uninstall setelah ia berpikir, sekalipun seru, bermain Pokemon GO di dunia nyata bisa membahayakan.

Ia merasakan bahwa ia kehilangan kewaspadaan. Meski ia terbiasa memakai peta digital untuk membantu menyetir, tetapi bermain Pokemon GO membutuhkan konsentrasi terus-terusan untuk menatap layar smartphone. Ini menyebabkan pemain tidak peka pada sekitarnya.

Dennis juga mengamati Pokemon GO mengubah interaksi para pemain. Sekalipun para pemain berkumpul di satu Pokestop, tapi satu-sama lain tidak tegur sapa. Berita-berita yang ia baca mengenai kecelakaan, perampokan, pemain terjebak di kuburan karena terlalu asyik mencari Pokemon, juga mempengaruhi keputusannya untuk berhenti bermain.

Kini timbul pertanyaan: berbahayakah Pokemon GO? Sampai sejauh ini, peristiwa kriminal dan kecelakaan tersebut hanya terjadi di luar negeri. Tapi yang jelas, ada bahaya lebih laten saat bermain Pokemon GO.

Persoalan pelanggaran privasi sempat mencuat terkait Pokemon GO. Bila masuk ke permainan dengan Google+ ada ketakutan para pengguna bahwa Pokemon GO bisa mengambil metadata pengguna akun Gmail dan membahayakan privasi pengguna. 

Sekalipun Google telah melakukan proteksi agar Pokemon GO tidak bisa membaca email-email pengguna, perlu dipikirkan persoalan bahaya lain yang mungkin timbul dari permainan Pokemon GO ini.

Pertama, diaktifkannya geolokasi pemain Pokemon GO. Karena berbasis Geo-MMO maka pemain memang harus senantiasa mengaktifkan geolokasi di smartphone-nya. Ini telah lama dituding menjadi semacam "mata-mata" aktivitas mobilitas pengguna.

Sejarah mobilitas pengguna akan terekam dan tentu saja ini dapat menciptakan pola-pola yang bila jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindak kejahatan. Orang yang mengaktifkan geolokasi akan lebih mudah diamati pergerakannya, dibanding yang tidak mengaktifkannya.

Kedua, dunia maya sudah cukup banyak menjerat penggunanya dengan ancaman pidana penjara. Dalam catatan SAFENET/Southeast Asia Freedom of Expression Network, di Indonesia sendiri, kegagapan berekspresi di dunia maya telah menjerat lebih dari 180 netizen.

Mereka dilaporkan ke polisi dengan pasal-pasal karet di dalam UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Sekalipun belum ada yang tersangkut karena permainan Pokemon GO, tetapi selalu ada celah pengguna aplikasi digital bisa ikut terpidana hanya gara-gara main Pokemon GO.

Sesimpel kejadian mengubah status Facebook saja sudah pernah menyebabkan 2 netizen bernama Hilda Puspita dan Tommy Virginanda mendekam di penjara Wirogunan, Yogyakarta. Gara-gara iseng mengubah status facebook menjadi "married to" Tommy Virginanda, mantan suami Hilda, Drs. Yana Karyana melaporkan Hilda dan Tommy ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama. 

Di persidangan, Hilda diputus bersalah 3 bulan dan 7 hari penjara. Sedang Tommy diputus pidana penjara 2 bulan dan denda Rp 1 juta. Jangan sampai nanti gara-gara main Pokemon GO ada olok-olok di media sosial dan ada yang tersinggung, lalu berujung dengan tuntutan hukum berdasar pencemaran nama di UU ITE. Bisa saja.

Tentu kita tidak ingin bahaya buruk ini terjadi. Karena pasti akan sangat mengurangi serunya menangkap, memelihara, dan membesarkan Pikachu!

DAMAR JUNIARTO, social blogger, Regional Coordinator SAFENET, pendiri Forum Demokrasi Digital.

5

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments