EDITOR : DEWI RACHMAYANI

15 Juli 2016, 16:15 WIB

FILIPINA

Penculikan demi penculikan terhadap warga negara Indonesia, tak henti dilakukan kelompok bersenjata di Filipina. Yang terakhir, 9 Juli 2016 saat tiga anak buah kapal WNI disandera kelompok Abu Sayyaf di wilayah perairan Lahad Datu, Malaysia.

Penculikan dan penyanderaan, tak lepas dari peta pergerakan politik di Filipina yang tidak pernah stabil. Bahkan sebelum negeri ini berdiri, sejarah panjang peradaban negeri tergambarkan lewat resistensi etnis Bangsamoro melawan penjajah Spanyol dan Amerika di masa Perang Dunia ke-2.

Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki di tahun 1945 jadi penanda berakhirnya Perang Dunia ke-2 sekaligus takluknya wilayah Filipina dalam pengaruh mereka. Tapi tidak bagi etnis Bangsamoro. Berbekal senjata pampasan perang, mereka terus menentang pemerintahan Filipina yang dianggap boneka Amerika.

Berbasis di Filipina Selatan, upaya separatis menyublim lewat berbagai bentuk hingga kini.

Kelompok separatis di Filipina, Mei 2016 (NET/ Raedi Fadil)

Berawal dari grup besar Moro National Liberation Front, kelompok separatis bersenjata di Filipina lantas pecah menjadi berbagai grup. Mulai dari Moro Islamic Liberation Front MILF, Abu Sayyaf Grup hingga terakhir Bangsamoro Islamic Freedom Fighter atau BIFF.

NET mewawancarai Abu Misri, pemimpin BIFF, Mei 2016 (NET/ Raedi Fadil)

Dan ke Filipina lah, tim NET Ella Devianti dan Raedy Fadil temui berbagai kelompok bersenjata, termasuk MNLF di basis pertahanannya di Camp Dragon, Indanan Sulu. NET temui berbagai kelompok pemberontak untuk menyelami motivasi Abu Sayyaf melakukan berbagai aksi penculikan dan penyanderaan. Di Camp Dragon, NET hendak temui pemimpin kelompok MNLF Nur Misuari. Lokasi Camp Dragon tersembunyi di wilayah pegunungan, Sulu, Filipina.

NET Temui Pemimpin Tertinggi MNLF, Mei 2016 (NET/ Raedi Fadil)

NET harus menunggu berjam-jam sebelum benar-benar bisa bertemu Nur Misuari. Setelah yakin keberadaan tim NET bebas dari unsur mencurigakan, pengawal mempersilakan tim bertemu pemimpin tertinggi MNLF. Terkait sepak terjang Abu Sayyaf dalam berbagai kasus penculikan dan penyanderaan warga negara asing, Misuari memberikan tanggapan, “Ini masih misterius buat kami kenapa pemerintah Filipina sampai sekarang tak mampu memberantas atau membatasi aktivitas dari Abu Sayyaf. Kadang-kadang mereka (kelompok Abu Sayyaf-red) tak peduli korbannya Muslim atau Kristen, mereka hanya mengejar uang tebusan.”

Fokus pergerakan MNLF adalah merdeka atau otonomi. Mereka membantu pembebasan sandera yang dilakukan kelompok Abu Sayyaf hanya jika dimintai tolong. Prinsip yang selalu dipegang adalah pembebasan tanpa uang tebusan, termasuk saat pembebasan 10 dan 4 Warga Negara Indonesia beberapa waktu lalu.

Moro National Liberation Front, Mei 2016 (NET/ Raedi Fadil)

Para prajurit setia Nur Misuari sejatinya hanyalah orang-orang biasa. Mereka bekerja tanpa imbalan, demi sebuah tujuan. Operasi pembebasan tawanan Abu Sayyaf bagi mereka adalah amal sekaligus upaya memperkokoh kedudukan politik dalam peta pergerakan di Filipina. Karena itu tiap tawanan yang berhasil dilepaskan dari cengkeraman Abu Sayyaf dijemput khusus dan diperlakukan baik selama menginap di Camp Dragon, termasuk sandera asal Indonesia.

Di Filipina, NET juga temui kelompok pemberontak lain untuk mengetahui lebih dalam tentang gerakan Kelompok Abu Sayyaf. Liputan lengkapnya hadir di program NET Special Report, Sabtu 16 Juli 2016, pukul 15.30 di NET.

ELLA DEVIANTI

 

22

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments