EDITOR : DEWI RACHMAYANI

7 Juli 2016, 11:10 WIB

INDONESIA

Tahukah kalian bahwa ketupat hadir di santapan Lebaran sejak lebih dari 200 tahun lalu? Yes, begitulah keadaannya.

Artinya, sudah lebih dua abad ketupat menemani umat Islam di Indonesia saat berlebaran. Usut punya usut, Sunan Kalijaga lah yang memiliki peran besar menjadikan ketupat sebagai hidangan utama Idul Fitri.

Awalnya, ketupat merupakan menu wajib dalam perayaan hari besar masyarakat Hindu nusantara, terutama mereka yang berada di wilayah kerajaan pesisir Jawa. Di balik bentuknya yang jajaran genjang, ketupat memiliki makna filosofis ‘kembali bersih’, yang  disimbolkan oleh warna putih isi ketupat saat dibelah. Makna inilah yang membuat ketupat menjadi makanan wajib hari-hari besar masyarakat Hindu.

Ketika Wali Songo menyebarkan Islam di pulau Jawa, tradisi ini melebur dalam perayaan Idul Fitri, tepatnya tahun 1802.  Sejarawan J.J. Rizal mengatakan, “Ketupat masuk dalam khasanah makanan Lebaran itu pada masa Islam yang didakwahkan oleh para wali. Terutama peranan dari Sunan Kalijaga. Itu yang memperkenalkan ketupat sebagai menu perayaan Lebaran.”

Sunan Kalijaga memang dikenal kerap meleburkan ajaran Islam dengan tradisi yang ada sebagai jalan masuk untuk menyebarkan Islam. Cara ini dipercaya Sunan Kalijaga dapat mengurangi resistensi dari masyarakat karena tidak melakukan perubahan radikal.

Selain bermakna ‘kembali suci’, ketupat juga dihadirkan kepada para tamu sebagai simbol ‘mengakui kesalahan’. Dalam bahasa Jawa, ketupat disebut kupat yang berasal dari kata ngaku lepat yang bermakna: mengakui kesalahan.

Lebih jauh, ketupat merupakan makanan yang sangat 'nusantara'. Penggunaan janur dari daun pohon kelapa sebagai bungkus dan nasi yang terbuat dari beras menunjukkan identitas ketupat.  Ia adalah makanan yang lahir dari negara kepulauan yang sebagian besar penduduknya bercocok tanam.

Rizal memaknai itu sebagai penghormatan terhadap tradisi bercocok tanam, terutama kehidupan kita bergantung pada padi. “Tapi perlu diingat nusantara ini bentuknya archipelago state, negara laut yang ditaburi oleh pulau-pulau. Jadi kita ada dua kontur kebudayaan; kontur darat dan kontur laut. Di ketupat dua kontur itu bertemu,” ujarnya.

Dengan makna yang demikian dalam, ketupat tak lagi sekedar makanan lezat yang bisa bikin kita nambah berkali-kali. Hidangan yang lazimnya ditemani opor ayam dan sambal goreng hati ini seyogyanya kita nikmati sambil meresapi arti simbolis dibelakanganya: suci dan saling memaafkan.  

Selamat makan ketupat!

APRISTIKA FAUZIA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments