EDITOR : PUTU DYAH

4 Juli 2016, 03:45 WIB

NORWEGIA

Norwegia, negeri Skandinavia yang mendapat julukan daratan matahari tengah malam. Saat musim panas, matahari bersinar sampai 20 jam per hari. Kondisi ekstrem ini berpengaruh pada waktu salat dan puasa umat muslim Norwegia. Sekaligus menjadi bahan studi Abdillah Suyuthi, peneliti asal Indonesia yang tergabung dalam Islamsk Rad Norge atau IRN.

Masyarakat Norwegia terbiasa hidup pada kondisi ekstrem yang tergantung siklus matahari. (NET/ Doni F.)

Penelitian bermula saat Suyuthi tinggal di Trondheim. Ia mengkaji waktu salat pada periode ekstrem. Tahun 2010, pria ini mengeluarkan Investigation of Prayer and Fasting Time for Trondheim.

"Islam tidak hanya turun di daerah normal seperti Indonesia. Seluruh muka bumi kan ada di dalam aturan Islam, maka ada solusi di sana. Itulah tugas kami untuk menggali itu," jelas Suyuthi pada Reyska Ramdhany, reporter NET yang bertugas ke Norwegia, April 2016.

Hasil riset Suyuthi tentang waktu salat dan puasa di selatan Norwegia sudah disepakati sejak 2014. Tapi penelitian tetap berjalan dan terus disempurnakan. Sementara umat muslim Norwegia mengikuti ketentuan waktu di Mekkah, dengan berpuasa maksimum selama 15,5 jam.

Abdillah Suyuthi, peneliti Indonesia yang tinggal di Norwegia. (NET/ Doni F.)

Abdillah Suyuthi pertama kali menjejakkan kaki di Norwegia pada tahun 2002. Ia mendapat beasiswa S2 di bidang marine technology. Kemudian melanjutkan studi doktoral tentang desain kapal di daerah arktik. Selain bekerja di perusahaan kapal Norwegia, ia juga mengajar di sekolah Islam non formal atau Islamskole di Masjid Islamic Culture Center of Norway.

Proses mencari ilmu sekaligus menjadi jalan bagi Suyuthi untuk mendekatkan diri pada agama. Komitmen ini ia terapkan dalam mendidik anak-anak, berkah pernikahan dengan istrinya Uswatun Hasanah. "Tinggal di daerah seperti ini tinggal apa niatnya. Kalau sekedar mencari dunia mungkin ada baiknya kita menata niat supaya tidak hanya sekadar dunia," tambah Suyuthi tentang kehidupannya di Norwegia.

Kisah peneliti Indonesia ini jadi bagian dalam program Muslim Traveler NET. Cerita lain tentang Islam, makanan halal dan keseharian masyarakat muslim Norwegia hadir di hari Selasa 5 Juli 2016, pukul 04.30-05.00 WIB.

 

REYSKA RAMDHANY

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments