hero
Ilustrasi suporter. (NET/Kito)

Kolom Akhir Pekan

EDITOR : TITO SIANIPAR

2 Juli 2016, 05:40 WIB

INDONESIA

Nasib tragis dialami Brigadir Hanafi. Anggota Polda Metro Jaya itu harus menanggung beban seumur hidup: kehilangan mata kiri. Dalam sebuah insiden kerusuhan sepak bola di Gelora Bung Karno, Jumat, 24 Juni 2016, sekelompok pendukung Persija Jakarta menganiaya Hanafi setelah tim mereka kalah dari Sriwijaya FC pada lanjutan kompetisi Torabica Soccer Championship.

"Mata kirinya tidak bisa diselamatkan," kata Juru Bicara Polda Metro Komisaris Besar Awi Setiyono. "Sarafnya sudah rusak. Matanya mengering dan harus diangkat," imbuh Awi. Selain mata, tulang tengkorak Hanafi juga harus direkonstruksi.

Kondisi Brigadir Hanafi. (NET/Istimewa)

Di antara berita  “rutin” nasional –kenaikan harga menjelang Lebaran, penangkapan pejabat korup oleh KPK, sampai kerakusan manusia di skandal produksi vaksin palsu, berita Hanafi itu mengundang simpati. Selain korban Hanafi, bentrokan suporter Persija dengan polisi juga mengakibatkan rusaknya beberapa kendaraan dan satu korban tewas.

Vandalisme itu bisa kian “sempurna” bila mereka juga masuk ke area kriminal: peredaran obat bius atau premanisme, seperti rekan-rekan mereka di Amerika Selatan. Dan bila ditambah muatan politik, perilaku suporter Indonesia mirip dengan yang pernah dilakukan jaringan suporter di Eropa Timur.

Vandalisme suporter ini akrab disebut hooligan. Istilah hooligan adalah untuk orangnya dan hooliganisme untuk perilaku mereka. Terminologi ini berasal dari Britania yang tumbuh pada 1890-an. Hooligan aslinya adalah nama seorang pencuri dan perusuh Irlandia yang hidup di London di akhir abad ke-19 bernama Patrick Hoolihan.

Penamaan itu akhirnya diterima sebagai sebutan untuk perilaku brutal ala Britania, terutama di sepak bola. Mereka menyebut diri sebagai firm alias firma, atau perusahaan. Sebut saja Aston Villa Hardcore yang piawai dalam pertempuran jalanan; Inter City Firm, pendukung West Ham yang terorganisir; Chelsea Headhunters, yang rasialis; The Red Army, pendukung Manchester United yang juga rasis. Mereka sangat moncer pada era 1970-an sampai akhir 1980-an. 

Kelompok suporter di Inggris. (NET/Berbagai sumber)

Sejatinya, jaringan suporter yang terorganisir bermula dari tahap awal industrialisasi sepak bola yang melanda Eropa dan Amerika selatan pada 1930-an. Harga tiket yang memahal membuat suporter mencari jalan lain. Salah satunya bernegosiasi dengan klub agar bisa memperoleh tiket dengan harga miring.

Selain wajah rusuh suporter, ada juga suporter yang memberi warna indah dalam setiap pertandingan. Suporter Brasil, torcida, mengawalinya ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia 1950. Meski kesebelasan mereka hanya menjadi juara kedua, suporter Brasil berhasil menarik perhatian dunia dengan keindahan koreografi, bernyanyi serentak, menari bersama. 

Ide itu menarik bagi beberapa pendukung Hajduk Split, klub yang dulu berada di wilayah Yugoslavia dan kini masuk Kroasia. Torcida Split, organisasi suporter klub sepak bola Kroasia itu, membawa kebiasaan suporter Brasil tadi ke Eropa: menari, menyanyi, membentuk Mexican wave dalam koordinasi yang satu. 

Torcida Split. (wiki)

Tetapi istilah torcida lantas kalah popular dengan istilah yang kini lebih dikenal, yaitu ultras. Ini mungkin pengaruh sepak bola Italia dengan Seri A-nya yang merajai televisi dunia pada awal 1990-an.

Meski ultras diterima sebagai ide umum,  masing-masing negara Eropa sebenarnya memiliki sebutan kebanggaan sendiri untuk menyebut organisasi suporter mereka. Misalnya firm atau fabriken di negara-negara Skandinavia. Sementara, di Indonesia lebih dikenal dengan nama “mania”, seperti Aremania, Jakmania, La  Mania.

Rasisme di sepak bola. (Telegraph)

Di Brasil, kultur torcida masih hidup. Organisasi torcida terbesar adalah Torcida Jovem, pendukung Sao Paulo, yang mengklaim memiliki tak kurang dari 30 ribu anggota. Sementara di Argentina, torcida dan ultras berkembang menjadi barra bravas yang berarti kelompok liar.

Barra bravas ini bukan sekadar pendukung klub sepak bola. Organisasi ini menguasai premanisme lahan parkir, terkadang perdagangan obat bius, dan memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan klub. Barra bravas semakin sukar diberantas karena perselingkuhan politik. Para politisi memanfaatkan mereka untuk menarik massa saat pemilihan legislatif, wali kota, bahkan pemilihan presiden. 

Barra bravas. (Inutilidad)

Penggunakan anggota ultras untuk kepentingan politik yang paling kental adalah di negara-negara pecahan Yugoslavia. Pada 1970-an, tokoh-tokoh nasionalis merekrut mereka. Sampai akhirnya ultras menjadi faktor penting bagi pecahnya negara komunis Yugoslavia pada 1990-an.

Lewat aturan yang kian ketat dari otoritas sepak bola lokal maupun internasional, perilaku hooligan, ultras, atau torcida tak sebrutal dulu. Dan khusus Irlandia, sungguh mengejutkan. Stigma kekasaran mereka menjadi inspirasi terciptanya nama hooligan, faktanya kini justru terbalik.

Pada perhelatan Piala Eropa 2016 yang tengah berlangsung di Perancis, suporter hijau itu dikenal cinta damai. Mereka membantu warga lokal memperbaiki mobil, meninabobokan bayi, membersihkan sampah sendiri, hingga membantu manula menyeberang jalan. 

Atas laku itu, Wali Kota Paris bahkan berniat memberikan medali Grand Vermeil kepada suporter asal Irlandia. Untuk diketahui, Paris pernah memberikan medali yang sama kepada penulis Toni Morrison, pianis jazz Herbie Hancock, dan petenis Spanyol Rafael Nadal.

Berperilaku “manis” tak menghalangi  orang untuk mengekspresikan kecintaan kepada sepak bola dan klub kesayangan. Suporter sepak bola Indonesia bisa berkaca dari Irlandia, atau Torcida Split. Hingga kelak tak perlu ada lagi Bragadir Hanafi lainnya.

Andy Marhaendra, jurnalis, tinggal di Jepara, Jawa Tengah.

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments