hero
The Jak dibawa polisi saat pertandingan melawan Sriwijaya FC, Gelora Bung Karno, Senayan. (NET/IMS)

EDITOR : TITO SIANIPAR

29 Juni 2016, 17:00 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Proses penyelidikan dan penyidikan terhadap insiden kerusuhan The Jak terus dilanjutkan Kepolisian Daerah Metro Jaya Jakarta. Dua tersangka baru ditangkap.

"Keduanya sama-sama melakukan pemukulan terhadap korban. Hari ini sudah gelar perkara dan statusnya dinaikkan menjadi tersangka," kata Juru Bicara Polda Metro Komisaris Besar Awi Setiyono, di kantornya, Jakarta, 29 Juni 2016.

Kedua orang tersebut adalah RS dan SW. Mereka ditangkap di rumahnya di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Selasa 28 Juni 2016 malam.

Kedua orang ini menggenapi total tersangka menjadi sepuluh orang. Delapan yang terlebih dahulu ditetapkan adalah JM, MDN alias Q, RH, AF, MF, MR, RF, dan A. 

Selain penganiayaan, sebagian tersangka juga dijerat dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Pasalnya mereka menyebarkan ajakan atau hasutan untuk melakukan kekerasan terhadap polisi.

Kerusuhan The Jak terjadi pada Jumat, 24 Juni 2016, tatkala Persija menghadapi Sriwijaya FC di Gelora Bung Karno, Senayan. Suporter Persija merangsek masuk ke lapangan pada menit ke-81 ketika ketinggalan 0-1. 

Kerusuhan dan kekerasan berlanjut hingga ke luar stadion. Setidaknya enam polisi menjadi korban penganiayaan, dengan korban terparah Brigadir Hanafi. Beberapa unit mobil polisi dirusak. Bahkan seorang pedagang juga diduga jadi korban kekerasan.

Postingan tentang kondisi polisi korban. (facebook/krishna murti)

Paska kejadian, sejumlah polisi melakukan aksi main hakim sendiri. Mereka men-sweeping The Jak di jalanan. Tapi aksi mereka tak dibiarkan. Sebanyak 15 anggota polisi ditangkap dan diproses internal.

Menurut Awi, pengusutan terhadap kelima belas polisi itu juga tidak berhenti. "Masih dalam penyelidikan intensif oleh Propam Polda Metro Jaya," kata Awi.

Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Moechgiyarto, kata Awi, memberi perhatian besar terhadap kasus ini. Salah satunya mengumpulkan 1.771 anggota Polda Metro Jaya dan diberi arahan. "Sebagai penegak hukum tidak boleh terlibat dalam artian balas dendam," ujar Awi.

Moechgiyarto, lanjut Awi, menekankan adanya rambu-rambu yang harus ditaati polisi. "Yang melanggar hukum harus ditindak sesuai peraturan undang-undang. Bukan dengan melakukan premanisme," kata Awi. "Polisi harus lebih profesional."

VILA MARESCOTTI

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments