hero
Pelanggan memesan makanan secara online (NET)

EDITOR : DEWI RACHMAYANI

29 Juni 2016, 14:10 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Jelang buka puasa, resto-resto favorit penuh dipadati konsumen. Ini, kerap membuat kita malas berbuka puasa di rumah makan inceran, terlebih jika harus berhadapan dengan macetnya jalanan menuju lokasi. Duh, mesti mikir berkali-kali.

Tapi, jangan khawatir. Di era digital seperti saat ini, hobi warga kota besar, terutama Jakarta untuk berbuka puasa dengan makanan kesukaan masih bisa sering-sering tersalurkan. Semua, berkat aplikasi layanan pemesanan makanan secara online, seperti GO-FOOD dan GrabFood.

Aplikasi ini, jawaban bagi warga kota besar yang maunya semua serba mudah. Seperti diungkap Sosiolog Universitas Indonesia Devie Rahmawati kepada NETZ, Juni 2016, “Kehidupan kota yang begitu sibuk dan transportasi di Jakarta yang tidak sesuai dengan harapan yang membuat waktu tempuh makin lama, membuat orang tidak mungkin sampai tepat waktu. Apalagi menyiapkan makanan untuk dirinya atau keluarganya. Akhirnya aplikasi jadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan Ramadan di era modern ini." 

Aplikasi GrabFood dan GO-FOOD

 

Di Ramadan, layanan GrabFood paling diminati di jam berbuka puasa. "Untuk jam puncaknya selama Ramadan, sekitar pukul 4 sore hingga 6 sore. Sementara untuk non-Ramadan itu jam 10 pagi hingga 12 siang dan 6 sore hingga 8 malam,” ujar Kiki Rizki, Country Head of Marketing Grab Indonesia. Dan di Ramadan ini, pemesanan lewat GrabFood meningkat, namun Kiki menolak menyebutkan jumlah peningkatannya.

Kiki Rizki - Country Head of Marketing Grab Indonesia (Dok. pribadi)

 

Meningkatnya permintaan di bulan puasa juga dialami GO-FOOD. Layanan satu ini bahkan juga beroperasi di waktu sahur. Di Ramadan, pesanan meningkat di jam jelang berbuka, tengah malam dan waktu sahur. Pihak GO-FOOD menolak mengungkap jumlah peningkatan dan nominal transaksi selama Ramadan. “Namun yang jelas jumlah order sudah mencapai angka jutaan order setiap bulannya, dengan grafik yang terus meningkat,” papar Vice President of Content Marketing GO-FOOD Haries Argareza.

Pengemudi tentunya jadi sosok yang paling sibuk di Ramadan ini, seperti Adi Supriyadi. “Biasanya 5 sampai 6 order setiap harinya khusus untuk pemesanan makanan." Rata-rata Adi bisa mendapatkan penghasilan dari layanan antar makanan online, sekitar 200 ribu rupiah per harinya.

Tak jauh beda dengan Tio Nugroho, setiap hari ia mengambil sekitar 5 hingga 7 pesanan, “Untuk Ramadan, untuk aplikasi makanannya paling ramai jam-jam sore ya karena untuk buka puasa."

Salah seorang pengguna jasa adalah Andra Prananda yang hampir setiap hari menggunakan layanan pemesanan makanan secara online. Manajer di salah satu perusahaan pengembang aplikasi ini sering menggunakan layanan pemesanan makanan secara online karena praktis. Ia tak perlu bermacet-macet untuk mendapatkan makanan kesukaannya, "Karena jarak tempat makan dengan kantor jauh atau karena tidak ada kendaraan. Udah beberapa kali pesan di Ramadan ini.”

Andra juga terkadang harus buka puasa seorang diri. Memesan makanan untuk kemudian dinikmati di rumah, baginya lebih baik dibandingkan makan seorang diri di restoran. "Di saat temen lagi gak bisa diajakin ya terpaksa sendirian, soalnya kalo ke restoran kan awkward sendirian." 

Maulita Fidayani, pengguna layanan pemesanan makanan online (Dok. pribadi)

 

Memesan makanan secara online untuk berbuka puasa juga dilakukan Maulita Fidayani. Untuk buka puasa bersama teman-temannya, ia gunakan jasa ini. Namun, bagi Maulita, memesan lewat online berdampak terhadap pengeluarannya, “Jadi boros, soalnya kadang gak kerasa pesan apa aja, dan ongkos antar. Tapi enaknya gak harus antre. Tinggal nunggu aja kalau mau nambah tinggal telpon aja,” ujar karyawan swasta berusia 24 tahun ini.

Tak hanya orang kantoran, ibu rumah tangga pun kerap menggunakan jasa layanan online, termasuk Yonna Safira yang berdomisili di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. Setiap minggu hampir 3 kali ia menggunakan layanan pemesanan makanan online, termasuk di bulan puasa ini, “Saya kan nggak bisa nyetir kalo mau beli keluar lumayan jauh harus naik taksi, jadi tambah pengeluaran. Tapi kalo pesan online kan kita tinggal nunggu."

Pengemudi mengantar makanan ke pelanggan (NET/ Diyas Pradana)

 

Di sisi lain ternyata ada juga yang enggan memesan makanan lewat GO-FOOD atau GrabFood. Alasannya sederhana, karena enggan menunggu lama. Ini dirasakan Repyssa Adi Setiawan, "Tidak menggunakan lagi karena lama banget nunggunya.”

Ada juga Sefiana Putri yang memilih tidak lagi menggunakan jasa ini demi berhemat, "Kalo buat gue ongkosnya mahal, mending nyari sendiri kan banyak yang jual takjil."

Karena teknologi, beberapa kebiasaan telah berubah belakangan ini. Termasuk cara kita mencari makanan untuk berbuka puasa. Sebagian memilih mengambil jalan praktis dan ikut perubahan, sebagian lain memilih tetap melakukan cara lama. Kalau kamu, termasuk yang mana?

DIYAS PRADANA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments