hero
Payet, Modric, Ronaldo. (UEFA)

Kolom Akhir Pekan

EDITOR : TITO SIANIPAR

25 Juni 2016, 06:10 WIB

INDONESIA

Mendung yang bergelantung di langit Kota Bogor tak pernah ingin menghapus jejak sepatu Sofyan Hadi. Hujan yang turun beberapa saat kemudian, justru mengekalkan nama sang legenda; gelandang elegan yang rendah hati, yang tersimpan di hati orang-orang yang mencintainya.

Sofyan Hadi adalah keindahan masa lalu sepak bola Indonesia. Dulu, dia berada di lapangan tidak hanya berjejak di dua kakinya, tapi juga pada hatinya. Ia gelandang cerdas dan sulit dilewati. Ia mengambil bola dengan sempurna dan tak akan pernah ingin menyakiti lawan. Akurasi umpannya terjaga dengan baik. Ia kawan dan bisa menjadi lawan yang menyenangkan. 

Kini, Sofyan Hadi yang lahir di Tabanan, Bali, 17 April 1951, tak lagi terlihat di lapangan. Di sebuah rumah, di kawasan Ciomas, Bogor, Sofyan melewati hari-harinya bersama istri dan cucu-cucu tercinta. Ia tak lagi leluasa bergerak seperti dulu. Untuk melangkah, kadang-kadang ia harus bertumpu pada tongkat untuk menopang tubuhnya. Kanker tulang belakang menghentikan langkahnya untuk ke lapangan sepak bola. 

Sofyan Hadi bersama cucu. (Yon Moeis)

Sofyan Hadi sangat mencintai sepak bola, dunia yang telah membesarkan namanya. Perjalanan sepak bola Sofyan begitu indah, panjang, dan menyenangkan. Ia dikenal sebagai pekerja keras. Setelah gantung sepatu pada akhir 1983, ia dipercaya melatih Yanita Utama, klub Galatama yang bermarkas di Bogor, dan mengantar klub ini juara pada musim kompetisi 1984 dan 1985.

Setelah Yanita Utama bubar, dan berganti nama menjadi Kramayudha Tiga Berlian (KTB), pemilik klub tetap mempercayakan posisi pelatih kepada Sofyan. Dengan materi pemain seperti Herry Kiswanto, KTB kembali merengkuh juara dua tahun berturut-turut pada 1986-1987. "Saya pelatih yang bisa mengantarkan klub juara empat tahun berturut-turut pada kompetisi yang ketat seperti tahun-tahun itu," kata Sofyan yang menjadi langganan pemain nasional sepanjang 1970 – 1983. 

Sofyan Hadi, 1989. (Erwiyantoro)

Cinta Sofyan terhadap sepak bola tentu saja tidak ada yang bisa menghalangi, juga ketika ia ingin menikmati Euro 2016 yang berlangsung di Perancis. “Saya jagokan Jerman,” kata Sofyan. “Beberapa kali saya melihat gol-gol indah mereka ciptakan dengan sempurna. Itu keindahan sepak bola,” kata Sofyan. 

Keindahan sepak bola itu pula yang dilihat Sofyan dari tarian kaki Cristiano Ronaldo, ketika ikut mengantar Portugal ke babak 16 Besar Euro 2016. Ronaldo mencetak dua gol untuk Portugal lewat pertandingan menegangkan, yang bisa membuat jantung berdetak lebih cepat. Partai terakhir melawan Hungaria itu, Portugal kembali memetik satu angka dari hasil bermain imbang 3-3. 

Di babak 16 Besar, Portugal yang menempati peringkat tiga, bertemu Kroasia di Stade Felix Bollaert – Delelis, Lens, Sabtu, 25 Juni 2016 malam ini. "Tidak setiap tim bisa mengalahkan Spanyol, jadi kami menghormati mereka,” kata Ronaldo, merujuk Kroasia yang mengalahkan Spanyol sehingga menempati pemuncak grup. 

Satu nama lain, Dimitri Payet, gelandang yang juga penyerang Perancis, memperlihatkan keindahan sepak bola yang sama. Itu terlihat ketika pemain West Ham ini tampil sebagai penentu kemenangan Prancis atas Rumania 2-1 pada laga awal grup, 11 Juni 2016 lalu di Saint Dennis. 

Tembakan melintir kaki kiri Payet pada menit ke-89 menjebol gawang Rumania yang dikawal Ciprian Tatarusanu. Empat hari berselang, pemain West Ham United itu, lagi-lagi menjadi penentu kemenangan Perancis saat membungkam Albania 2-0. Di babak 16 Besar, Perancis bertemu Irlandia.

Gelar pemain terbaik pertandingan didapatnya dengan mengumpulkan enam peluang mencetak gol dan menyumbang 17 kali tendangan ke arah gawang. “Suatu hari nanti kualitas permainan saya akan seperti Eric Cantona, David Ginola, dan Thierry Henry,” ujar Payet menyebut maestro keindahan sepak bola Perancis.

Luka Modric, kreator lini tengah Kroasia juga punya skill serupa. Ia tampil brilian saat membawa timnya membungkam Turki 1-0 pada laga awal Grup D. Tembakan voli keras kaki kanan pemain bertubuh selembar itu mengantar skuat asuhan Ante Cacic memetik kemenangan pertama.

Modric tak ambil pusing dengan performa di lapangan. Meski penampilannya dianggap sebagai magis, ia lebih mengutamakan permainan kolektif. “Kami bisa saja mencetak lebih banyak gol. Namun yang terpenting adalah memenangkan pertandingan,” katanya.

Luka Modric usai mencetak gol melawan Turki. (Foxsport)

Cristiano Ronaldo, Dimitri Payet, Luka Modric, adalah tiga dari banyak pemain yang punya kesempatan memperlihatkan keindahan-keindahan sepak bola di babak 16 besar Euro 2016. Tujuan mereka sama: membawa timnya maju ke level yang lebih tinggi. Setinggi-tingginya.

Dari Ciomas, Bogor, Sofyan tak hanya menikmati keindahan-keindahan sepak bola Ronaldo, Payet, dan Modric tadi, tapi juga merasakan kesejukan Ramadan. “Di awal Ramadan saya berpuasa, tapi malamnya rada pusing. Dokter menyarankan saya untuk tidak berpuasa dulu,” kata Sofyan. 

Sofyan tak pernah memperlihatkan sedang sakit kepada tamu dan orang sekitarnya. Wajahnya sejuk. Tutur katanya halus. Dia memperlihatkan kedamaian di hatinya.

Saya terdiam sejenak ketika Sofyan terlihat menahan air mata. Sore itu, Sofyan bercerita drama adu penalti tim nasional Indonesia yang dikalahkan Korea Utara di Pra Olimpiade 1976. “Jika Andjas Asmara bisa mencetak gol, Indonesia lolos ke Olimpiade,” kata Sofyan yang juga ikut memperkuat timnas ketika itu, terbata. 

Apabila Andjas sebagai penendang kelima berhasil, adu penalti berakhir. Namun derita memuncak ketika penendang keenam yang ditunjuk, Suaeb Rizal, juga gagal menceploskan gol, sementara lawan berhasil. “Mungkin, karena Tuhan belum mengabulkan. Runtuhlah angan-angan tim nasional Indonesia lolos ke Olimpiade,” kata Sofyan. 

Layaknya Piala Eropa, Olimpiade adalah ajang bergengsi olah raga dunia. Hingga kini, sepak bola Indonesia belum pernah tampil di ajang empat tahunan itu. Termasuk Olimpiade Brazil 2016 yang akan berlangsung 5 hingga 21 Agustus mendatang. Indonesia hanya ikut di enam cabang; panahan, bulu tangkis, atletik, angkat besi, balap sepeda, dan dayung.

Sofyan tak ingin membahasnya. Ia sejenak membalik  kenangan ketika bermain di ajang perserikatan. Ia menyebut kenangan yang sulit dilupakan; yakni Persija Jakarta kontra Persebaya Surabaya di final PSSI Perserikatan 1978 dengan skor akhir  3 – 1 untuk Persija. “Dua gol saya cetak, dari kaki yang berbeda, kanan dan kiri. Dan dua-duanya dari jarak jauh sekitar 30 meter,” kenang Sofyan.

Saya melihat air mata Sofyan Hadi tertahan di pelupuk matanya. Ia berusaha tegar ketika mulai bercerita kanker tulang belakang  yang ia derita sejak pertengahan 2015. Itu membuatnya harus lebih banyak istirahat, dan selama 10 bulan ia tidur dengan posisi tengkurap. “Sakit sekali. Selama itu saya merasakan sakit. Tak tahan merasakannya,” ujar dia. 

Namun sakit itu tak ingin dijadikan alasan untuk mematahkan semangatnya, dan anak-anak didiknya. Ia masih ingin meneruskan dan mewariskan keindahan-keindahan sepak bola ke kaki-kaki pemain sepak bola generasi penerus. “Suatu saat saya ingin kembali ke lapangan untuk melatih dan mendidik anak-anak Indonesia,” tutup Sofyan. 

YON MOEIS, wartawan sepak bola, menetap di Bekasi.

13

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments