hero
Kapal Han Tan Cou. (TNI AL)

EDITOR : TITO SIANIPAR

22 Juni 2016, 00:45 WIB

INDONESIA

Pemerintah mempertegas posisi dan kedaulatan di Laut Cina Selatan, khususnya peraian Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau. Insiden penembakan kapal pencuri ikan Cina yang diklaim pemerintahnya, merupakan bagian dari prosedur yang baku menjaga kedaulatan.

"Intinya kami akan melakukan penegakan hukum yang keras terhadap pencurian ikan," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, di Jakarta, 21 Juni 2016. "Termasuk mengeksekusi berdasarkan UU Nomor 45 Tahun 2009, yaitu penenggelaman kapal," tambah Susi.

Insiden terjadi pada Jumat, 17 Juni 2016, KRI Imam Bonjol memergoki sekitar 12 kapal ikan Cina di Natuna. Beberapa terlihat melempar jaring. Kapal perang TNI AL itu kemudian mendekati mereka. Tapi respon yang didapat adalah kaburnya kapal-kapal itu. 

Aparat sempat meminta kapal-kapal itu berhenti dan mematikan mesin lewat radio dan pengeras suara. Namun diabaikan, bahkan mereka menambah kecepatan. Tentara lalu melepas tembakan peringatan ke udara dan ke laut.

KRI Imam Bonjol kemudian menurunkan tim VBSS (Visit Board Seacrh Seizure) dan berhasil menangkap kapal Han Tan Cou. Tujuh awak kapal yang terdiri dari 6 pria dan 1 wanita ditahan dan dibawa ke Sabang Mawang, Natuna, bersama kapalnya.

Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat Laksamana Muda A. Taufiq menegaskan aparatnya bertindak sesuai prosedur. "Itu adalah tugas rutinnya Angkatan Laut untuk menegakkan kedaulatan," kata Taufiq. "Tidak ada awak kapal yang terluka," imbuh dia.

Insiden ini mendapat protes dari pemerintah Cina. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina Hua Chunying mengatakan penembakan membahayakan jiwa awak kapal. "Cina protes dan mengecam penyalahgunaan kekuatan seperti itu," kata Hua.

Namun protes Cina tak berarti banyak. Pemerintah tetap pada posisi mempertahankan kedaulatan tanah air dengan segala upaya. "Kita harus menjaganya dengan baik," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Kalla menambahkan protes Cina tentu akan diladeni dengan baik pula. "Nota protes tentu harus dijawab. Nanti dipanggil dan dijelaskan," kata dia. 

Insiden pencurian ikan di Natuna oleh kapal Cina bukan kali ini saja. Insiden sebelumnya terjadi pada 27 Mei 2016 lalu. Ketika itu KRI Oswald Siahaan memergoki kapal Guei Bei Yu masuk dalam wilayah Indonesia. NET berhasil memperoleh video ekslusifnya di sini.

Dalam tiga bulan terakhir, ada tiga kapal Cina yang ditangkap di Zona Ekomoni Ekslusif Indonesia. Selain Cina, TNI AL juga pernah menangkap kapal berbendera Vietnam dan Filipina. Total ada 72 awak kapal Vietnam dan 15 awak Cina yang ditahan di Pangkalan Laut Ranai, Natuna.

TIM LIPUTAN NET

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments