EDITOR : FIRZA ARIFIEN

13 Juni 2016, 16:35 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan vonis 6 tahun penjara terhadap anggota Komisi VII DPR RI nonaktif Dewie Yasin Limpo dan stafnya, Bambang Wahyu Hadi. Keduanya dinilai terbukti menerima suap.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa 1, Hajah Dewie alias D-Y-L dan terdakwa 2, Bambang Wahyu Hadi dengan pidana penjara masing-masing selama 6 tahun serta denda sebesar masing-masing Rp 200 juta dengan ketentuan jika tidak mampu membayar diganti pidana 3 bulan," ujar Ketua Majelis Hakim Mas'ud di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin, 13 Juni 2016.

Selain pidana penjara, majelis hakim juga mewajibkan keduanya membayar denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan. Menurut Majelis Hakim, hal yang memberatkan keduanya adalah mereka tidak mendukung program pemberantasan korupsi. Sementara hal yang meringankan yaitu keduanya belum pernah berurusan dengan hukum.

Putusan majelis hakim ini disambut tangis oleh Dewie Yasin Limpo. Hingga akhir putusan, adik Gubernur Sulawesi Selatan tersebut tetap menyangkal menerima suap SIN$ 177.700 atau setara Rp 1,7 miliar. Uang tersebut diberikan agar Dewie membantu mengupayakan anggaran dari pemerintah pusat sebesar Rp 50 miliar untuk proyek pembangunan pembangkit listrik di Kabupaten Deiyai, Papua. Dewie masih berpikir apakah akan mengajukan banding atau tidak.

"Nanti saya pikir dulu ya, ini lagi emosi, kita harus tenang. Jangan suudzon, pokoknya kita serahkan kepada Allah yang terbaik. (Ibu sudah lihat uangnya?) Lillahi ta'ala, jangankan menerima, melihat uangnya saja tidak," ungkap Dewie Yasin Limpo kepada NET di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim lebih rendah dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi yang meminta hakim menghukum Dewie dan Bambang masing-masing 9 tahun penjara, ditambah denda Rp 300 juta subsider 6 bulan kurungan. Dan khusus untuk Dewie, Jaksa Penuntut Umum meminta dikenakan pencabutan hak untuk memilih dan dipilih dalam jabatan publik selama 12 tahun.

"Modusnya sebenarnya klasik saja, cuma dimodifikasi sedikit rantai distribusinya supaya agak panjang. Jadi dia menggunakan tangan-tangan orang kepercayaannya untuk menerima itu," kata Jaksa Penuntut Umum KPK Kiki Ahmad Yani.

Sebelumnya Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi telah menjatuhkan hukuman kepada asisten pribadi Dewie Yasin Limpo, Rinelda Bandaso, pada kasus yang sama. Rinelda divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta. 

Sementara pemberi suap, pengusaha Setiyadi Jusuf serta Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Deiyai, Papua Irenius Adi, telah divonis masing-masing 2 tahun penjara. Rinelda Bandaso, Setiyadi Jusuf dan Irenius Adi dinilai terbukti secara sadar melakukan tindak pidana korupsi yaitu suap. Uang tersebut diserahkan pengusaha Setiyadi kepada Rinelda, staf Dewie pada 20 Oktober 2015 di sebuah restoran di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara dan disaksikan oleh Irenius.

Reporter: Anggi Yuniarti

 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments