EDITOR : DEWI RACHMAYANI

10 Juni 2016, 19:40 WIB

ARAB SAUDI

Pagi di 1 September 2015, perjalanan hidup mempertemukan saya dengan Pak Soleh, bapak ojek bertarif seikhlasnya. Dua orang yang sebelumnya saling tidak kenal, dua orang yang ternyata diam-diam mempunyai mimpi yang sama, pergi ke rumah Allah.

Kami bertemu di stasiun Palmerah. Bapak ojek berusia 66 tahun ini mengantar saya ke kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Saat itu, Pak Soleh menolak menerapkan tarif. Pak Soleh yang telah 11 tahun jadi tukang ojek ini, membebaskan penumpang membayar semampunya, "Saya gak pasang tarif karena kondisi orang gak tentu sama. Kalo punya duit banyak, kalo nggak punya duit banyak gimana? Dia mau naik apalagi nanti? Nanti gak ada uang malah jalan kaki."

Kebaikan hatinya saya tuangkan di Facebook. Kuasa Tuhan terlihat di sini, saat tulisan sederhana itu, disebarluaskan netizen hingga puluhan ribu kali. Sejak itu, kebaikan Pak Soleh tak lagi hanya diketahui segelintir penumpangnya.

Pertemuan di pagi awal September itu, siapa sangka jadi pembuka jalan kami berdua ke Tanah Suci. Pak Soleh diberangkatkan umrah oleh Hamba Allah yang simpati dengan keikhlasannya. Saya, ditugasi kantor untuk meliput beliau umrah.

Allah memang bekerja dengan cara yang misterius. Pak Soleh hanya bermodal, “Terserah Neng mau bayar berapa.” Saya juga hanya bermodal 150 ribu untuk membayar jasa ojeknya di hari itu. Modal kami yang “cuma” segitu, pada akhirnya membawa kami ke salah satu mimpi terbesar kami, menjadi tamu di rumah Allah. “Saya kepengen ketemu Rasulullah. Juga kepengen memeluk makam Rasul,” tutur Pak Soleh.

Dan, Rabu 27 April 2016, Pak Soleh telah berada di negeri yang berbeda. Beliau telah sampai di Kota Nabi, Madinah, Arab Saudi. Di kota ini, tepatnya di Masjid Nabawi, jasad Nabi Muhammad SAW dimakamkan. Nabi telah lama wafat, namun cahayanya masih kuat terangi Madinah. Dan di hari itu, Pak Soleh akhirnya berada dekat dengan makam Nabi.

Pak Soleh di Makam Nabi Muhammad SAW, April 2016 (NET/ YErri Wahyudi)

Bahagia sekali saya gak ada duanya. Rasulullah yang saya cintai. Walau desek-desekan untuk ke makam Nabi. Saya berdoa panjangkan umur, ya Allah panjangkan umur, Pak Soleh usai kunjungi makam Rasul yang ia cintai.

Sabtu 30 April, kota Nabi saatnya ditinggalkan. Kini, Mekkah yang dituju untuk jalani puncak ibadah umrah. Pukul 23.15 waktu setempat, kami tiba di Mekkah. Masjidil Haram tempat Kabah bernaung, langsung kami tuju.

Labbaika Alloohumma labbaik
Labbaika laa syariika laka labbaik
Innal hamda wanni’mata laka wal mulk
laa syariika lak

Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Segala nikmat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu.
Tiada sekutu bagiMu.

 

Pak Soleh di depan Kabah,  April 2016 (NET/ Yerri Wahyudi)

Kabah yang selama ini hanya sanggup dimimpikan, kini berada tepat di depan mata. Haru pun, datang menyeruak. Senang...bersyukur sama Allah. Gak disangka, senang sekali ketemu Allah yang saya dambakan. Nggak ada yang lain,ucap Pak Soleh di depan Kabah. Di tengah malam itu, tawaf, sa'i, tahalul Pak Soleh jalani. Minggu, 1 Mei 2016 pukul 02.00 waktu setempat, Pak Soleh selesai tunaikan ibadah umrah.

Pak Soleh dengan penghasilannya yang “hanya” 800 ribu sebulan, tak mampu menumpuk kekayaan. Namun berpuluh tahun ia telah menabung kebaikan, menabung keikhlasan. Dan hatinya yang baiklah, yang pada akhirnya membawa Pak Soleh berada di jantung kota Mekkah, Kabah.

Kisah Perjalanan Umroh Pak Soleh 26 April - 4 Mei 2016 akan Tayang di IMS

Reporter: Dewi Rachmayani

8

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments