EDITOR : TITO SIANIPAR

8 Juni 2016, 03:15 WIB

CINA

Memegang gelas berisi cairan bening, tangan Erick Thohir menyilang masuk ke tangan Zhang Jindong. Hampir bersamaan, keduanya kemudian menenggak minuman tersebut dengan tangan saling silang setinggi pundak. Itulah puncak seremoni transaksi jumbo penjualan saham klub Italia, Inter Milan yang berlangsung di Nanjing, Cina, 6 Juni 2016 lalu.

Thohir, melalui International Sports Capital, menjual sekitar 70 persen sahamnya kepada Suning Commerce Group Ltd seharga US$ 307 juta atau sekitar Rp 4,1 triliun. "Sepak bola tumbuh dengan angka yang sangat tinggi di Cina dan akuisisi ini adalah langkah strategis," kata Jindong, Chairman Suning Holdings Group.

Erick Thohir dan Zhang Jindong bersulang, di Nanjing, Cina, 6 Juni 2016. (reuters)

Sekilas itu hanya transaksi biasa antar dua konglomerat atas pengalihan saham sebuah entitas bisnis. Di balik itu, ternyata ada agenda besar yang menyelubunginya: Cina ingin menjadi kiblat dan penguasa sepak bola sejagad. Kata-kata "langkah strategis" Jindong tadi benar-benar menggambarkan niat tersebut.

Langkah strategis di sepak bola itu terkait dengan rencana Presiden Cina Xi Jinping yang pernah menyampaikan ambisinya untuk menjadi negara superpower sepak bola. Dia menargetkan industri olah raga nasionalnya bernilai US$ 850 miliar (sekitar Rp 11 ribu triliun) pada 2026 nanti. Xi yang juga menggemari sepak bola, punya target fantastis: lolos ke Piala Dunia, menjadi tuan rumah Piala Dunia, dan satu saat nanti memenangkannya.

Presiden Xi pada 2014 lalu melansir 50 program nasional guna membawa Cina ke peringkat atas sepak bola dunia. Salah satu program itu adalah memasukkan sepak bola dalam kurikulum pendidikan dasar. Termasuk juga rencana membangun 20 ribu sekolah sepak bola hingga 2017, dan ditargetkan 50 ribu sekolah pada 2025.

Presiden Xi Jinping. (dailymail)

Seakan seiring sejalan dengan cita-cita sang pemimpin, para pemilik modal Cina mengejewantahkannya dalam bingkai kepentingan bisnis. Suning yang membeli Inter adalah salah satunya. "Ada faktor ego di sini. Sama seperti miliuner lainnya dari negara Arab, Rusia, dan Amerika," kata Rowan Simons, pengamat sepak bola Cina, yang juga pengarang buku Bamboo Goalposts.

Hal itu tergambar oleh ekspansi Yuan --mata uang Cina, yang sedang agresif-agresifnya di Eropa. Klub derbi Inter,  AC Milan juga dikabarkan sudah berpindah tangan ke investor Cina. "Perjanjiannya tercapai bulan lalu antara pemilik Milan, Fininvest dengan investor Cina yang tidak diidentifikasi," tulis CNN Money, Selasa, 6 Juni 2016.

BACA  JUGA: Thohir Jual Inter Rp 4 Triliun

Selain di Italia, ekspansi modal Cina juga dilakukan di negara kiblat sepak bola dunia, Inggris. Pebisnis Tony Jiantong Xia baru mencapai kesepakatan membeli kontrol atas klub Aston Villa. Perjanjian jual beli ini tinggal menunggu pengesahan dari otoritas sepak bola Inggris.

Sebelumnya pada 2015, taipan media Li Ruigang juga sudah memiliki saham di Manchester City. Pemilik China Media Capital ini membeli 13 persen saham City Football Group, yang melingkupi Manchester City dan New York City FC. Nilainya US$ 400 juta, sekitar Rp 5,3 triliun.

Di tahun yang sama, sebagian saham Atletico Madrid di Liga Spanyol juga berpindah tangan ke pengusaha konstruksi Cina, Wang Jianlin. Sebanyak 20 persen sahamnya dibayar US$ 52 juta atau sekitar Rp 691 miliar.

Selain mengakuisisi kepemilikan saham klub-klub Eropa, Cina juga mendatangkan para pemain top dunia ke negeri Tirai Bambu. Liga Super Cina musim 2016 kini dihiasi oleh wajah-wajah beken sepak bola. Seperti Ezequiel Lavezzi, Gervinho, Ramires, Alex Teixeira, Fredy Guarin, Obafemi Martins, Tim Cahill, Burak Yilmaz, Jackson Martinez, dan lainnya.

Pemain-pemain dunia di Liga Super Cina.

Liga yang terdiri dari 16 klub ini tercatat sebagai salah satu liga yang paling banyak menghabiskan duit untuk mendatangkan pemain musim lalu. Total US$ 300 juta (sekitar Rp 4 triliun). Angka itu sekaligus mengalahkan pengeluaran liga-liga top Eropa, dan bahkan diyakini akan terus membengkak. "Teman-teman pemain bola menyelamatiku dan menyatakan ingin bergabung ke sini," kata Gervinho.

Tak sampai di situ, taipan Cina juga mencaplok hak siar Piala Dunia. Wang Jianlin, melalui Wanda Group, membeli saham Infront Sports Agency, pemegang hak siar di 26 negara di Asia, hingga 2022. "Perusahaan Cina memang sedang mencari area baru untuk investasi," kata Dong Lu, pengamat sepak bola Cina.

Dengan hasrat dan modal yang bejibun itu, masih saja ada yang skeptis dengan ambisi besar Presiden Xi untuk berjaya di Piala Dunia tadi. "Investasi sebesar apapun pada level elit tidak akan membuat tim nasional Cina bagus," kata Simons. "Kecuali kalau memiliki jutaan anak-anak yang bermain sepak bola dengan gembira."

Jadi, bergembiralah di sepak bola. Industri ini adalah hiburan bagi miliaran umat manusia.

TITO SIANIPAR | REUTERS | TIME | CNN | FINANCIAL TIMES

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments