hero
Logo PMKRI yang dicatut saat simposium anti PKI. (NET/Trio Satria)

Insiden Pengusiran Wartawan

EDITOR : TITO SIANIPAR

4 Juni 2016, 00:10 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam tindakan sejumlah orang yang mengintimidasi dan mengusir jurnalis Rappler Indonesia Febriana Firdaus. Panitia diminta bertanggung jawab atas insiden itu.

"Tindakan mereka mengintimidasi dan mengusir jurnalis yang sedang menjalankan tugas jurnalistik adalah perbuatan melawan hukum," kata kata Ketua AJI Jakarta Ahmad Nurhasim, Jumat, 3 Maret 2016, dalam siaran persnya, Jakarta. 

Febriana diusir dari Balai Kartini saat dia meliput Simposium Nasional "Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain", Kamis, 2 Juni 2016. Pengusiran dilakukan oleh beberapa orang beratribut Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Bela Negara.

Menurut Ahmad, tindakan pengusiran itu bisa menjadi preseden buruk terhadap kebebasan pers di Indonesia. "Tindakan mereka melanggar Undang-Undang Pers. Bila hari ini Febriana diusir, bukan tidak mungkin ke depan akan menimpa jurnalis yang lain," kata Ahmad.

 

Yosep Adi Prasetyo, Ketua Dewan Pers (Tengah) Hall Dewan Pers, Rabu, 1Juni 2016. (NET/Trio Satria)

AJI menegaskan jurnalis dilindungi oleh Undang-Undang Pers saat menjalankan kegiatan jurnalistik. Diantaranya mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media.

Koordinator Divisi Advokasi AJI Jakarta Erick Tanjung menambahkan tindakan menghalangi-halangi tugas jurnalis bisa dipidanakan. Pasal 18 UU Pers, kata dia, mengatur soal sanksi yang bisa diterima pelaku. “Jadi jangan mengintimidasi dan mengusir jurnalis yang sedang menjalankan tugas jurnalistik,” ujar Erick.

BACA JUGA: Simposium Anti PKI Diwarnai Pengusiran Wartawan

Keberatan terhadap berita, lanjut Erick, bisa menggunakan prosedur yang diatur resmi dengan menggunakan hak jawab dan hak koreksi. Pers wajib memuat hak jawab dan koreksi secepatnya. “Bila masih tidak terima bisa adukan ke Dewan Pers. Pakailah cara-cara yang beradab,” ujar Erick.

Kiki Syahnarki, Balai Kartini, Kamis, 2 Juni 2016. (NET/Trio Satria)


Dewan Pers sendiri belum menerima pengaduan apapun terkait pemberitaan oleh Febriana. "Saya sudah mendapatkan informasi atas kejadian yang menimpa Febri. Seharusnya tidak boleh merespon dengan mengancam, itu bisa dipidanakan," kata Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo alias Stanley.

Stanley menghimbau panitia untuk bertanggung jawab atas pengusiran itu. Pasalnya FPI dan Gerakan Bela Negara adalah bagian dari panitia acara. "Pimpinan ormas tersebut juga harus menegur anak buahnya. Mereka harus paham UU Pers," ujarnya.

 

Suasana simposium "Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI & Ideologi Lain" di Balai Kartini, 2 Juni 2016. (NET/Trio Satria)

Intimidasi dan pengusiran itu terjadi saat Febriana sedang mewawancarai aktivis dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang datang ke Balai Kartani karena keberatan logo organisasi mereka dicatut oleh panitia simposium. 

Di tengah wawancara, tiba-tiba seorang laki-laki bersurban putih beratribut FPI mendatangi Febriana dan menghardik, “Ini Febriana. Ini dia yang kerap bikin berita ngawur.” Tuduhan ini merujuk pada berita yang dimuat Rappler pada hari pertama soal simposium tersebut, Rabu 1 Juni 2016. 

Lalu beberapa teman laki-laki bersurban dan beratribut Gerakan Bela Negara mendatangi Febriana. Seorang panitia dari Gerakan Bela Negara yang diwawancarai Febriana melarangnya menulis soal pencatutan logo PMKRI. Dengan nada mengancam, panitia itu menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan mengatakan, “Anda sudah difoto dan sudah direkam. Kalau berita itu dimuat, Anda bisa ditangkap.”

Sejumlah orang bersurban datang lagi dan memarahi Febriana karena tidak suka dengan berita tentang mereka yang dimuat oleh Rappler. Cercaan dan makian berkali-kali diarahkan ke Febriana. Intimidasi itu berlanjut hingga mereka mengusir Febriana dari Balai Kartini. Mereka tidak ingin jurnalis Rappler ini meliput simposium tersebut. 

Trio Satria

 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments