hero
Suasana diskusi di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, 2 Juni 2016. (NET/Devy Ashari)

EDITOR : TITO SIANIPAR

3 Juni 2016, 14:20 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Tempo Group mengadakan acara Diskusi Ruang Tengah untuk mengklarifikasi apa yang ramai diperbincangkan netizen akibat kicauan akun @kurawa. Semua berpangkal dari terbongkarnya suap reklamasi di Teluk Jakarta.

“Ada yang ramai di media sosial, dan dipicu oleh akun @kurawa. Tempo hanya memberitakan yang sedang ramai saja”, ujar Redaktur Pelaksana Tempo Bagja Hidayat kepada NET, seusai acara di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, Kamis, 2 Juni 2016.

Akun yang bertuliskan nama Rudi Valinka itu menurunkan serial twit yang menyinggung Tempo. Diantaranya mulai dari tidak cover both side-nya laporan Tempo soal reklamasi, hingga soal skenario Tempo menekan Ahok terkait kondisi keuangan Tempo yang sedang payah. 

Cuitan @kurawa bermula dari laporan di Koran Tempo 11 Mei 2016 yang berjudul Agung Podomoro Seret Ahok, dan terus hingga menjadi laporan utama di Majalah Tempo. Di berita-berita itu, ditulis bahwa penggusuran kawasan Kalijodo, Jakarta Barat, dibiayai oleh PT Agung Podomoro sebagai barter atas konsesi reklamasi.

Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok berang. Sebuah video menunjukkan betapa marahnya mantan politikus Partai Gerindra itu dengan istilah "barter" dengan mendamprat wartawan Tempo yang ada di situ. Laporan-laporan Tempo tidak hanya membuat Ahok berang, tapi juga memancing @kurawa untuk berkicau tentang 'borok' Tempo.

Lebih jauh, @kurawa yang diketahui pendukung Ahok, juga meminta Tempo membuka identitas sumber berita dan menukarnya dengan sumber kicauan dia. “Saya akan buka kalau Tempo juga mau buka data-data yang dari laporan kemarin,” kata pria yang bernama asli Rudi Sutanto dan berusia 40 tahunan, seperti dikutip dari tempo.co.

Serial twit dan pemberitaan itulah yang membuat Tempo merasa perlu mengadakan diskusi. Selain Bagja, dalam diskusi turut juga hadir sebagai pembicara adalah pendiri Cyrus Network Hasan Nasbi dan anggota Dewan Pers Imam Wahyudi.

Menurut Bagja, kicauan @kurawa soal kondisi keuangan Tempo bukanlah hal yang luar biasa. Laporan keuangan Tempo sebagai perusahaan yang tercatat di pasar modal, bisa diakses siapa saja. "Menurut @kurawa Tempo empat bulan lagi mau bangkrut. Lihat saja, kami di sini masih ketawa-ketawa," kata Bagja.

Dewan Pers mendukung Tempo untuk tidak membuka jati diri narasumbernya. "Jurnalis wajib menjaga hubungan suci dengan narasumber. Jika sang narasumber meminta untuk tidak dibuka jati dirinya, sampai meja hijau pun jurnalis tersebut tak boleh membuka jati diri sang narasumber," kata Imam.

Namun Imam mengingatkan tidak sembarang orang bisa menjadi sumber sebuah pemberitaan. "Pemilihan narasumber harus yang kredibel,” kata dia.

'Sengketa' Tempo dan @kurawa merupakan efek dari kasus dugaan korupsi reklamasi Teluk Jakarta. Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Mohamad Sanusi pada 31 Maret 2016. Ia ketahuan menerima uang suap dari PT Agung Podomoro Land untuk memuluskan proyek reklamasi Jakarta.

Selain Sanusi, KPK juga menangkap Presiden Direktur Podomoro Ariesman Widjaja dan menetapkan mereka sebagai tersangka bersama Trinanda Prihantoro, karyawan Podomoro. Barang bukti yang disita KPK uang total Rp 1,14 miliar, berupa dolar Amerika dan rupiah.

Devy Ashari

 

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments