hero
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di antara para pembicara di simposium, Jakarta, 2 Juni 2016. (NET/Trio Satria)

EDITOR : TITO SIANIPAR

2 Juni 2016, 20:20 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Simposium Nasional 'Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI & Ideologi Lain' di Balai Kartini, Jakarta diwarnai insiden pengusiran wartawan oleh Front Pembela Islam. Wartawan yang diusir adalah jurnalis Rappler Indonesia, Febriana Firdaus.

"Saya sedang mewawancarai perwakilan dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia yang mendatangi Balai Kartini karena keberatan logo mereka dicatut panitia simposium. Tiba-tiba salah satu orang FPI mengenaliku. ‘Kamu yang namanya Febriana ya? Tulisan kamu ngawur!’,” kata Febriana seperti dikutip dari BBC Indonesia, Kamis, 2 Juni 2016.

Akun twitter Front Pembela Islam tentang pengusiran Febriana, Kamis, 2 Juni 2016. (twitter)

Habis insiden itu, sejumlah orang dengan pakaian bertuliskan Bela Negara menghampiri. "Dia berkata, 'Anda sudah difoto dan sudah direkam. Kalau berita ini sampai keluar, Anda bisa ditangkap'," ujar Febriana menirukannya. Setelah itu, seorang pria meminta dia meninggalkan Balai Kartini.

Suasana simposium "Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI & Ideologi Lain" di Balai Kartini, 2 Juni 2016. (NET/Trio Satria)

Kepada NETZ, paska insiden, Febriana yang kemudian dievakuasi tidak bisa memberikan keterangan lebih banyak. "Maaf, aku belum boleh wawancara sama pendamping. Demi keamanan," ujar mantan wartawan Tempo ini. "Kalian juga hati-hati. Ini bisa terjadi pada semua wartawan," imbuhnya.

Ketua Panitia Simposium Kiki Syahnarki membantah ada pengusiran maupun intimidasi tersebut. "Nggak. Siapa yang mengusir?" kata dia. Kiki mengakui mengajak ngobrol Febriana sebelum kejadian tersebut. "Saya memang ngomong sama Febri tadi," ujar pensiunan bintang tiga itu.

Kiki Syahnarki, Balai Kartini, Kamis, 2 Juni 2016. (NET/Trio Satria)

Aliansi Jurnalis Independen mengecam aksi pengusiran wartawan itu karena bertentangan dengan UU Pers Nomor 40 Tahun 1999. Ketua Bidang Advokasi AJI Indonesia, Iman D. Nugroho, mengatakan langkah pertama yang dilakukan adalah memberikan pengamanan buat Febriana. 

"Sambil menunggu perspektif korban, AJI Indonesia juga mengharapkan respon aktif dari media yang menaungi Febri dalam menjamin keselamatan karyawan," kata Iman.

Simposium anti PKI berlangsung selama dua hari sejak kemaren. Berbagai organisasi masyarakat muncul dalam spanduk sebagai pendukung acara. Diantaranya adalah Pemuda Pancasila, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam, dan lainnya.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan tidak boleh membuka masa lalu yang penuh dengan kekerasan. "Di Jerman pakai (atribut) Nazi itu ditangkap. Di Amerika juga," kata Ryamizard di lokasi acara.

Menteri Ryamizard di arena simposium, Kamis, 2 Juni 2016. (NET/Trio Satria)

Kementerian Pertahanan, kata Ryamizard, sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila. "Sudah tidak perlu plonco-plonco lagi. Masyarakat harus berdasarkan Pancasila," kata Ryamizard. "Kalau tidak Pancasila, keluar saja dari negara ini."

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan negara tidak akan minta maaf terhadap PKI atas apa yang terjadi. "Tidak akan pernah pemerintah minta maaf. Tidak pernah Presiden Jokowi minta maaf. (Sudah) final itu," kata Gatot kepada wartawan sebelum meninggalkan lokasi acara.

Trio Satria

 

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments