EDITOR : TITO SIANIPAR

31 Mei 2016, 21:00 WIB

MALUKU, INDONESIA

Hamparan bibir pantai putih yang dicumbu ombak biru laut seakan memanggil untuk segera menjamahnya. Pantai-pantai perawan dan jauh dari genangan sampah maupun cemar, layaknya area bermain persembahan agung alam. Begitulah kesan pertama ketika memandang pantai yang terpapar di Pulau Tanimbar Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. 

Sejatinya, pulau yang membujur di selatan Pulau Ambon itu tak hanya menawarkan alam yang aduhai. Tradisi menghormati leluhur juga sangat terjaga di pulau yang luasnya ‘cuma’ sekitar 10 kilometer persegi ini. Aturan adat masih ketat berlaku. Kekayaan tradisi ini merupakan salah satu nilai jual Tanimbar.

Pulau yang berpenduduk sekitar 600 orang ini memiliki sistem sosial yang menempatkan mereka dalam tiga sistem tempat tinggal. Yakni, kampung adat Ohoratan, kampung bawah Tahat, dan dusun Mun yang lebih modern. Yang unik adalah Ohoratan. Bagi masyarakat, ini adalah tempat sakral dan semua kegiatan adat terpusat di sini. Sementara dusun lainnya menempati strata yang lebih rendah.

Kampung Ohoratan yang terletak di atas tebing setinggi 25 meter, berdiri 19 rumah adat. Selain berisi benda-benda pusaka, rumah-rumah ini hanya boleh ditinggali orang yang dituakan atau dianggap suci. Mereka menyebut rumah panggung yang terbuat dari kayu ini sebagai Malinankot.

Di Onhoratan, prilaku harus dijaga. Bahkan untuk merekam dan mengambil gambar juga tidak boleh sembarangan. Orang luar harus mengikuti aturan yang berlaku sebagai bentuk penghormatan terhadap adat lokal. “Di sini, lembaga adat lebih tinggi dari segala-galanya,” kata Kepala Desa Tanimbar Kei, Dody Rahanmitu, ketika ditemui NET, setahun lalu.

Beberapa benda peninggalan leluhur yang ada di Tanimbar juga diketahui memiliki hubungan dengan Bali. Mulai dari ornamen pahatan patung hingga senjata pusaka seperti keris. "Pada masa perang Majapahit, dari Bali mereka ke sini dan kemudian tinggal di sini," kata Dody.

Keinginan untuk melihat benda pusaka harus melalui persetujuan penjaganya. Salah satu penjaga benda pusaka itu, Kores Rahamitu memperbolehkan NET untuk memirsanya. Tetapi, ada ritual yang harus dilakukan. Doa dan permohonan harus dipanjatkan ke leluhur terlebih dahulu.

Dalam sebuah batok kelapa, selembar dauh sirih diletakkan sebagai dasar. Di atasnya ditimbun pinang, tembakau, dan uang. Kores kemudian membawanya ke salah satu sudut rumahnya. Di sana dia melafalkan mantra dalam bahasa lokal. Setelah itu, barulah benda pusaka itu bisa dihadirkan.

Menjaga adat dan tradisi sebagai kekayaan budaya lokal adalah tugas dan kewajiban para pemangkunya. Paduan alam dan kearifan lokal seperti di Tanimbar Kei merupakan aset yang tak ternilai, yang sebenarnya tersebar di pelbagai penjuru negeri. Untaian ratna mutu manikam nusantara yang disebut pujangga, benar adanya.

Reporter: Apristika Fauzia

Read More in This Story

KEPINGAN SURGA NUSANTARA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments