Wanita Bertato

EDITOR : DEWI RACHMAYANI

30 Mei 2016, 14:29 WIB

KOTA SURABAYA, INDONESIA

Dua puluh empat. Ini angka yang mewakili jumlah tato di tubuh Dea. Pastinya, Dea punya alasan kuat merajah tubuhnya dengan tato sebanyak itu. “Saya puas banget karena ngerasa lebih tampil menawan, suka gambar rose sama kupu-kupu karena kalau rose itu tajam tapi cantik,” tutur Dea.

Bagi Dea, tato merupakan media untuk ekspresikan diri. Pendapat ini diamini Emily. Tato bagi Emily adalah bentuk apresiasi pribadi. “Aku suka tato karena tato itu sesuatu yang bisa aku tunjukkan ke orang, sebagai apresiasi diriku sendiri.”

Kisah hidup Emily, juga dapat dilihat dari tato-tato yang melekat di tubuhnya. Apa yang ia rajah, itulah yang ia alami. “Lebih ke tato itu sesuatu yang ingin aku ceritakan ke orang. Seperti riwayat hidup, apa yang aku suka, hobiku seperti apa.”

Dea (kiri) dan Emily (kanan) memilih menato tubuhnya sebagai ekspresi diri | Foto: NET Jatim

Wanita bertato tak lepas dari stigma negatif. Namun, ini tak membuat pecinta tato surut. Dea memilih tanggapi dingin stigma negatif dari masyarakat, “Cuek aja dengan image orang bertato itu preman, atau gak bagus lah, yang penting aku berbuat baik, jadi istri baik dan jadi ibu baik.” Lain halnya dengan Emily, ia ingin membuktikan kesalahan persepsi masyarakat tentang wanita bertato. “Image-nya aku dengar cewe bertato itu buruk, nakal, apa lah. Kalau buat aku, aku ingin buktiin image itu salah dan aku gak kayak gitu."

Dea dan Emily adalah cermin wanita Surabaya pecinta tato. Di kota ini, animo wanita untuk merajah tubuh semakin besar.

Tak hanya melawan stigma negatif, wanita penggemar tato juga harus siap hadapi risiko medis. Dokter spesialis kulit dan kelamin, M. Yulianto Listiawan tuturkan resiko yang dihadapi perajah tubuh. “Kalau tato yang temporer, risikonya cuma alergi terhadap bahan yang dioleskan. Kalau tato permanen berarti harus masukkan tinta ke lapisan di bawah kulit, masukkan tinta menggunakan jarum, kita akan merusak struktur kulit di dalam. Di dalamnya ada risiko apalagi kalau jarumnya tidak steril, infeksi dan nyeri juga."

"Menato tubuh memiliki risiko", dr. M. Yulianto Listiawan

Karena itu lah pencinta seni lukis tubuh biasanya sangat selektif memilih tempat tato. Seniman tato pun dituntut higienis dalam merajah dan mengutamakan faktor keamanan. Jarum yang digunakan dan tempat tinta wajib sekali pakai. Sterilisasi secara rutin, melapisi alat dan mesin tato dengan plastik jadi kewajiban.

Risiko medis dan stigma negatif yang menghadang, nyatanya tak membuat seni merajah tubuh kehilangan peminatnya. Karena bagi mereka, tato bukan sekadar penghias tubuh. Tato untuk penggemarnya, adalah wujud tunjukkan diri.  

Reporter: Dewi Anggra

4

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments