hero

Ondel- ondel Jakarta

EDITOR : PUTU DYAH

4 Mei 2016, 14:30 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Kamu perhatiin nggak, belakangan ini sering banget ada ondel- ondel di pinggir jalan raya? Pengamen ondel- ondel biasanya rombongan dan nggak berhenti di satu tempat. Mereka keliling terus dari satu tempat ke tempat lain. Kalau capek  tinggal istirahat sebentar, lepas boneka ondel- ondel ,cari angin, terus lanjut keliling lagi deh. Nah, kehadiran ikon budaya di jalan raya, ternyata menuai pro kontra. Ada yang setuju, ada juga nggak suka ondel- ondel ada di sana. Apa alasannya? Ini dia.

Ada yang berubah dari ondel- ondel.   Dulu, dia dianggap sakral. Dia yang dulu dikenal dengan nama barongan, cuma keluar untuk ritual yang dipercaya bisa memberi perlindungan. Ondel- ondel bukan benda sembarangan.  Catatan soal ondel- ondel ada di buku Geschiedenis Van Java karya W. Fruin Mees.  “Tahun 1605, iring- iringan Pangeran Jayakarta Wirakrama membawa boneka berbentuk raksasa”. Di masa itu, ondel- ondel berukuran besar, lengkap dengan gigi caling untuk menegaskan fungsinya sebagai penolak bala.

Seiring  waktu, ondel- ondel beralih fungsi jadi benda budaya dan seni. Nggak ada lagi gigi caling yang memberi kesan seram sama boneka ini. Bentukan sangar mulai menjinak. Ondel- ondel wanita dilengkapi riasan, sedangkan ondel ondel pria berkesan kuat tanpa menakutkan. Si boneka raksasa jadi ikon budaya Jakarta. Biasanya kalau kita hadir di hajatan seperti pernikahan dan khitanan ala Betawi asli, masih bisa ketemu ondel- ondel.

Nah, kenyataannya, ondel- ondel memang masih bisa kita temui. Bukan di galeri seni budaya, bukan di hajatan, tapi di pinggiran jalan raya. Simbol budaya ini mengalami pergeseran makna dan kasta. Selain jadi benda seni peninggalan nenek moyang, ondel ondel juga jadi sarana cari uang buat sebagian orang.

Contohnya, Martin Maulia pemilik sanggar ondel- ondel  yang dapat penghasilan Rp. 90.000- Rp.100.000 per hari dengan mengamen. Menurut Martin, apa yang dia dan teman- temannya lakukan nggak salah. Mereka cari duit sekaligus melestarikan budaya Betawi agar tidak punah."Sebaiknya sediakan wadah untuk berkreasi karena ini mata pencaharian”, jelas Martin. 

Pendapat sama juga disampaikan Kamal Asri, pengamen ondel- ondel di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur. "Saya nggak setuju, otomatis saya di rumah terus," kata Kamal. "Dari Dinas kalau ada acara nggak pernah manggil, makanya saya keliling."  Ia dan rombongannya  telanjut menggantungkan penghasilan dari keliling menampilkan ondel- ondel dengan iringan musik betawi. Kalau keliling dari sore sampai malam, dalam satu hari, mereka bisa menghasilkan Rp. 800.000- Rp.1.500.000. 

Dilemanya, tahun 2014 lalu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melarang ondel- ondel turun mengamen ke jalan. Bahkan waktu itu Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat bilang, kalau dia sebagai  bagian dari warga Jakarta merasa tersinggung. Alasannya karena aset budaya justru dipakai untuk kegiatan mengemis. Dari sini muncul tantangan untuk mengatur ondel- ondel agar budaya ini mendapat tempat semestinya. Juga tidak melupakan mereka, para seniman dan masyarakat yang memanfaatkan ondel- ondel untuk sumber nafkahnya. 

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments