Fenomena Buruh Migran Hong Kong

EDITOR : ADRIAN ZAKHARY

25 April 2016, 06:33 WIB

INDONESIA

“Mbak, monggo bakso, pecel, ada gorengan juga ini..”

“Pulsa, pulsa, ayo yang mau telpon keluarganya, beli pulsa”

 

 

Bahasa- bahasa sapaan khas Indonesia, terutama bahasa Jawa jadi hal yang lumrah didengar kalau kita ada di Victoria Park, Hong Kong. Tepatnya setiap hari minggu, waktu para buruh migran asal Indonesia libur dari tugasnya. Menurut saya, buruh migran di Hong Kong punya keistimewaan dengan adanya hak libur itu. Dan mereka pintar. Libur nggak sekedar libur, tapi bisa jadi ajang mencari uang tambahan. Caranya ya dengan jualan itu.

Mulai dari makanan, minuman, baju, pulsa, penukaran uang rupiah, sampai jasa pijat, semua tersedia di Victoria Park. Sebagian besar konsumennya teman- teman buruh migran juga. Aktivitas ini pun jadi interaksi timbal balik, simbiosis mutualisme.

Satu pihak dapat duit, satu lagi dapat obat kangen sama kampung. Obat kangennya macam- macam.  Salah satunya piknik bareng sambil bawa bekal masakan Indonesia, ngobrol ngalor ngidul dengan teman- teman sedaerah. Malah kadang, kalau ada yang baru pulang dari Indonesia, mereka sengaja beli banyak cemilan dan dijualin lagi di Victoria Park. Lumayan kan..biaya pulang kampung bisa balik modal, hehe.

“Mas, ini buat apa to? TV Indonesia to? Wah opo iki mas? Biar nanti tak kabari keluarga di Indonesia” tanya seorang ibu buruh migrant tanya ke kameraman saya, Ipang.

“iya bu, ini TV dari Indonesia, NET TV. Kabarin aja bu, siapa tau nanti liat ibu di TV”

 

 

Obrolan semacam ini jadi penyambung tali saudara, sebagai sesama Indonesia yang lagi di negeri orang.  Buat saya, banyaknya orang Indonesia di Hong Kong membuat tempat ini terasa tidak asing. Sementara warga Hong Kong sendiri ada yang nggak peduli, ada juga yang mengakui kalau aktivitas ini menganggu keseharian mereka. Seperti yang disampaikan Tam Yiu Chiu, "kalau memang resmi diizinkan, saya akan menerimanya. Namun secara personal saya rasa ini tempat umum. Jadi perdagangan di sini sebaiknya dibatasi dalam jumlah yang masih bisa diterima."

 Aktivitas jualan ini menanggung resiko  karena nggak ada izin resmi dari pemerintah Hong Kong. Apalagi mereka berjualan dengan memanfaatkan bahu jalan yang dipakai pedestrian. Banyak juga yang memakai area tengah taman. Buruh migran mesti siap kalau ada petugas imigrasi yang tiba- tiba dateng. Para Pakde (that’s how they call the immigration staff) bisa mendadak bongkar lapak dagangan mereka. Apalagi kalau petugas melihat jelas transaksi jual beli sedang berlangsung. Buruh migran yang terlibat  terancam hukuman penjara  dan di blaclist izin kerjanya. Resiko besar ada di depan mata. Nyatanya, aksi kucing- kucingan antara buruh migran dan Pakde terus berjalan sampai sekarang. Pembongkaran lapak dagang nggak jadi masalah berarti. 

Konsulat Jenderal Republik Indonesia, perwakilan pemerintah yang ada di Hong Kong bukannya menutup mata. Mereka sadar tindakan warga negaranya ini sudah berlangsung lama. Yang bisa dilakukan, tetap patuh pada peraturan. "Saya harus bilang agar tidak berjualan di taman atau fasilitas umum di Hong Kong. Kita himbau agar teman- teman WNI menaati peraturan yang berlaku di sini", ujar Sam Riyadi, Konsul Muda Penerangan Sosial dan Budaya KJRI Hong Kong. Alasan utamanya, demi menjaga hubungan baik antara Hong Kong dan Indonesia.

Fenomena pasar dadakan buruh migran bukan sekedar cerita mereka yang  mencari penghasilan. Atau aksi nekad demi keluarga yang menunggu kiriman. Ini juga cerita soal besarnya komunitas pekerja di negara asing. Komunitas yang dengan beragam lika- likunya, mendatangkan devisa, pemasukan bagi negara. 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments