hero

Prestasi Anak Bangsa

EDITOR : ADRIAN ZAKHARY

25 April 2016, 09:21 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Energi fosil hari demi hari kian terkikis habis. Jika tak ada inovasi bidang energi, lama kelamaan bahan bakar yang sering kita gunakan untuk kendaraan tak kan tersisa lagi. Namun beda cerita, jika penemuan dari  mahasiswa Trisakti  Jakarta yang mengembangkan bahan bakar solar air ini digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil. Sembilan mahasiswa Fakultas Teknik Trisakti  berhasil menggembangkan teknologi solar air sebagai sumber energi alternatif.

Sangat membanggakan! Itulah kesan pertama jika anda mendengar energi alternatif ini sudah diuji coba. Tak tanggung-tanggung, dari solar energi ini ke sembilan mahasiswa Trisakti  telah mengukir prestasi dengan berlayar ke 69 pulau di kepulauan seribu DKI Jakarta.

Mereka berhasil mengelilingi ke 69 pulau dalam waktu 5 hari. Ke 9 mahasiswa ini berangkat dengan 2 perahu. Satu perahu berbahan bakar solar biasa, sementara perahu satunya berbahan bakar solar air. Tolak ukur keberhasilan ujicoba ini dinilai dari stok bahan bakar yang tersedia.

Hasilnya perahu pertama menyisakan 4 jeriken solar biasa. Sementara solar air di perahu kedua masih tersisa 11 jeriken solar air. Hal ini melahirkan optimistis dari para nelayan yang mengantungkan perahunya melaut dengan solar, “penemuan solar bercampur bahan bakar air ini, yang kedepanya bahan bakar makin susah. Kami sangat bangga dengan penemuan bahan bakar ini. Kami berharap nanti kalo dipasarkan harganya lebih murah dari yang subsidi, ” ungkap Syahril salah satu nelayan.

Solar air merupakan bahan bakar alternatif yang terdiri dari 70% solar biasa, 20% zat aditif dan 10% air. Zat aditif yang dicampurkan mampu menyatukan solar dan air. Penelitian ini sudah dimulai 5 tahun yang lalu. Solar air bisa digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel. Selain hemat energi karena mengandung 10% air, bahan bakar ini juga lebih ramah lingkungan. Hak paten dari inovasi anak negeri ini juga telah terpenuhi.

 

 

Wakil Dekan IV Universitas Trisakti, Andi Cahyaputra Arya mengungkapkan untuk mendapatkan paten tidaklah mudah. “Banyak sekali kendala, terutama undang-undang mengenai pengoplosan. Jadi kita tidak bisa begitu juga mengatakan bahwa ini bisa diberikan kepada masyarakat tapi peraturannya, perundang-undangnya harus disediakan terlebih dahulu sebagai media bagi kami untuk mensosialisasikan atau bahakan diimplementasikan kepada masyarakat.”

Inovasi ini menularkan energi positif dikalangan mahasiswa, salah satunya Muhammad Yoga Prabowo, “itu harus ada pengujiannya juga, makanya itu dilakukan pergi ke 69 pulau, nanti ditakutkan terjadi apa apa terhadap mesin. Tapi kan nggak papa. Baguslah. Prestasi yang bagus menurut saya.” 

Tak tanggung-tanggung prestasi 9 mahasiswa pengembang teknologi solar air ini diganjar dengan penghargaan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI), “dalam sebuah karya dan juga karsa ini adalah prestasi yang luar biasa. MURI apresiasi dengan menciptakan bahan bakar alternatif," ungkap Awan rahargo perwakilan dari MURI.

Solar air akan dikembangkan terus hingga mampu menjadi sumber energi alternatif yang mumpuni, ramah lingkungan dan ramah dikantong tentunya.

“Jogja menurut saya adalah kota yang sangat dinamis, jogja adalah kota yang setiap saya berada disini, saya terisi baik pikiran jiwa. Terutama tentunya dunia seninya. Kalo kami merasa kosong kemudian kami datang ke jogja, kami merasa terisi.”

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments