hero

Inovasi perubahan zaman yang lebih menguntungkan bisnis rumah makan padang

EDITOR : PUTU DYAH

20 April 2016, 03:53 WIB

INDONESIA

Inovasi  jadi salah satu kunci bagi banyak bisnis untuk bisa berkembang atau bertahan. Hal ini disadari betul oleh para penggiat bisnis kuliner rumah makan padang di tanah air, khususnya ibukota Jakarta lho.  Sebelumnya, mungkin ngga ada yang pernah mengira bisa memesan masakan padang dari sebuah situs atau website. Tapi, di era digital teknologi seperti sekarang ini, dimana masyarakatnya bergerak dinamis dan cepat, hal itu merupakan keharusan.

Inovasi dari sisi teknologi ini digunakan antara lain oleh resto khas ranah minang  “Saroso” di mal City Walk, Jakarta.  Hanya dengan membuka alamat situs kuliner, pelanggan bisa melihat berbagai menu yang ditawarkan resto ini lengkap dengan harganya. Jika tertarik, cukup di’klik’ aja, dan dalam hitungan detik pesanan kamu sudah terkirim.

Selain itu nih, Saroso juga memanfaatkan media sosial seperti  facebook dan Twitter untuk berpromosi dan berinteraksi dengan para penggemarnya.  Cara ini tentu ditujukan untuk menjaring pangsa pasar yang melek teknologi dan suka akan kemudahan layanan.  Ngga lupa, rumah makan ini juga dilengkapi dengan layanan free wi-fi agar pelanggan yang melek teknologi bisa terus online sambil menyantap menu yang mengeyangkan perut. Haseeekkk!

 

 

Inovasi yang dilakukan oleh Saroso ngga berhenti hanya di sisi teknologi aja. Saroso mencoba mencari ceruk pelanggan yang berbeda dari rumah makan padang kebanyakan. Rumah makan dibilangan Hj. Mas Mansyur Jakarta Pusat ini,  secara sadar memodifikasi cita rasa masakannya sehingga memanjakan lidah mereka yang menyukai masakan minang namun ngga terlalu suka pedas. Di sini, Dendeng batokok, jengkol lado ijo, gulai udang, dan menu masakan padang lainnya diolah dengan rasa pedas yang moderat.

Selain itu, rumah makan ini juga berinovasi rasa untuk  menggaet pelanggan dari kalangan etnis tionghoa dan asing. Cita rasa masakan padang tetap kental disajikan, tapiiii dengan rasa yang sama sekali ngga pedas.
Selain ramah bagi lidah pembenci masakan pedas, disini terdapat pula menu kawin silang antara bumbu padang dan cita rasa kuliner pecinan. Namanya Lontong picel. Selain ada lontong, sayuran dan bumbu picel, terdapat mie yang identik sebagai kuliner etnis tionghoa dalam makanan pembuka ini.  


Inovasi resto minang  juga dilakukan oleh Mandaga canteen yang diprakarsai oleh Yanvita nuarima beserta empat orang rekannya yang berdarah minang yaitu Aldo andarilo, Widia Astari, Gian Gufran, dan Lucky Fakhriadi. Tempat nongkrong nan cozy yang dibuka sejak Oktober 2014 ini, seyogyanya adalah rumah makan padang dengan variasi menu yang sering kita temui di warung padang. Untuk mempertahankan cita rasa aslinya, bahkan kepala kokinya sengaja dipilih asli orang awak. Namun, Balutan interior yang hommy dengan nuansa warna merah dan kuning khas minang, menjadikan tempat ini pilihan baru bagi kaum muda yang ingin kongkow sambil ‘makan berat’ atau meeting penting sekalian isi perut.
                 "Kita sebenernya lebih ke konsepnya ke warung2 tempo dulu, jadi seperti krapyak, pintu kayu. Konsep dasarnya emang dari padang, kalo padang itu kan benderanya merah kuning item, jadi kita sesuaikan interiornya merah, kuning dan item".


Inovasi ini mendobrak persepsi rumah makan padang yang selama ini hanya kita kenal sebagai tempat  enak memanjakan lidah kan? Akan lebih terasa lagi  jika kita bertandang ke lantai 2. Ruangan didesain ala kafe dengan menempatkan sofa-sofa nyaman dan juga aksesori ruangan bernuansa oldies yang memanjakan mata. Disini, pelanggan bisa menyantap menu padang dengan lauk pauk lengkap, atau sekedar ngopi.  Inovasi ini jelas-jelas menyasar anak muda yang suka nongkrong dengan perut kenyang, sebagai target pasar utama.


Berlokasi di kawasan perkantoran jalan wijaya Dharmawangsa, Jakarta selatan, Aldo dan teman-teman tau persis kalau resto minangnya punya pangsa pasar esmud alias executive muda. Kelompok ini termasuk mereka yang gemar meeting diluar kantor atau hang out sebelum balik pulang.

Desain resto yang extravaganza ini juga sengaja dirancang dengan harapan para pelanggan senang berfoto dan mengunduh pengalaman makan di Mandaga canteen disosial media. Pemilik resto sadar, kegiatan yang populer dengan sebutan selfie atau wefie ini akan menjadi strategi pemasaran yang menguntungkan. Sebagai timbal balik, konsumen yang mengunduh foto-foto mereka sedang makan di Mandaga canteen, akan mendapatkan potongan harga.  Pemanfaatan teknologi informasi yang Fair enough untuk para konsumen kan?

Berbagai modifikasi usaha yang dilakukan oleh pebisnis rumah makan padang, tak luput dari perhatian budayawan minang, Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto yang akrab disapa Mak Katik. Dia tidak mempermasalahkan trasformasi Rumah Makan Padang yang dimodifikasi lebih modern dalam berbagai aspek lho. Sebaliknya, dia setuju bahkan mendorong masyarakat minang untuk beradaptasi dengan budaya  setempat dalam rangka menyukseskan bisnis mereka.

“Ini sebagai bentuk pembauran suku minang dengan suku lain termasuk rumah makan padang yang berada di kota besar, bagaimana pemilik tetap mengutamakan kenyamanan, kedamaian, dan keamanan bagi pelanggannya tanpa mengurangi nilai dan esesnsi dari budaya dan adat minang kabau - Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto “

 

Nah, mengamini pendapat Mak Katik, diakui pemilik Mandaga Canteen, baru dua tahun resto ini dibuka, ‘break event poin’, alias titik impas berbisnis sudah hampir tercapai. Terbukti kan, inovasi yang beradaptasi dengan zaman akan menguntungkan para pebisnis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments