hero
(INSTAGRAM @hardthirteen)

EDITOR : FEBRY ARIFMAWAN

17 Juni 2020, 16:25 WIB

INDONESIA

Generasi Mikir yang dimotori oleh Raditya Dika, Tara Basro, Kunto Aji, dan Bernhard Suryaningrat telah membuat serangkaian podcast yang ditayangkan di kanal youtube sejak 22 Mei lalu. Podcast tersebut berisi perbincangan antara mereka berempat untuk mendorong generasi muda agar memaksimalkan potensi diri. Caranya dengan berpikir lebih keras dan melawan rasa takut untuk jadi apa saja yang diinginkan.

Keempatnya punya cerita berbeda-beda berdasarkan latar belakang profesi yang mereka geluti di dunia seni. Raditya Dika mengurai pengalaman-pengalamannya sebagai penulis, komedian, sutradara, dan aktor. Tara Basro dan Kunto Aji bercerita seputar karirnya di dunia film dan musik. Sementara itu, Bernhard Suryaningrat berbagi kisah tentang pekerjaannya sebagai seniman graffiti.

Ada berbagai hal menarik dari pengalaman Bernhard yang ia sampaikan dalam podcast Generasi Mikir. Lelaki yang biasa disapa Abeng ini ternyata pernah menjadi penjual tahu bulat sebelum akhirnya menekuni seni graffiti yang kemudian melambungkan namanya. Seperti banyak orang tahu, Bernhard telah dipercaya oleh Presiden Joko Widodo untuk mendesain 11 jaket custom yang kemudian dikenakan oleh Jokowi di berbagai event kenegaraan.

Sebagai seniman graffiti Bernhard memang unik. Alih-alih mencoret tembok untuk grafitinya, Bernhard justru melukis karyanya di barang-barang bermerk seperti sepatu kulit, tas Louis Vitton, dompet, sneakers, dan lainnya. Berikut adalah beberapa nukilan kisah hidup Bernhard yang inspiratif di dalam podcast Generasi Mikir.

1Pernah Jualan Tahu Bulat

Bernhard mengakui jika perjalanan hidupnya berliku dan pernah mengalami masa-masa sulit. “Jadi sebelum gue total sebagai seorang seniman, gue suka dagang, jualan baju untuk bayar kuliah gue. Gue pernah jadi kurir tahu bulat, sebelum tahu bulat itu keliling naik mobil,” ujar Bernhard.  

Berjualan tahu bulat ini dilakoni Bernhard pada tahun 2009-2010. “Gua anterin ke setiap rumah yang pesan. Gue anterin tahunya itu subuh, ngambilnya tengah malam.  Jadi gue setiap subuh habis nganterin tahu bulat, gue lanjut kuliah,” lanjut pria asal Depok ini.

Bernhard Suryaningrat (paling kanan) bersama Presiden Joko Widodo. (INSTAGRAM @nevertoolavish)

 

2Mulai Belajar Motret Saat Antar Tahu Bulat

Aktifitas mengantar tahu bulat ke pelanggan ternyata bermanfaat mengasah kemampuan fotografi Bernhard. “Gue setiap bawa tahu bulat itu bawa kamera, karena gue doyan motret. Karena subuh-subuh momennya orang jarang foto-foto,” kata Bernhard.

Skill ini melengkapi kapasitasnya sebagai seniman graffiti di kemudian hari. “Semua berguna pada saat sekarang, cara foto yang bagus, foto produk yang bagus,” lanjut yang punya nama “jalanan” Hardthirteen ini. 

Bernhard Suryaningrat ajak kalangan muda ikutan Generasi Mikir. (INSTAGRAM @hardthirteen)

 

3Jatuh-Bangun Merintis Usaha

Bernhard benar-benar mengalami jatuh-bangun dalam merintis wirausaha. Ia pernah membuat brand sepatu23. Usaha sepatu ini gagal, gulung tikar. “Bangkrut itu sudah jadi nama tengah gua, Bernhard “Bangkrut” Suryaningrat. Dulu yang gue pikirin cuma membuat karya yang bagus. Tapi gue tidak mempelajari gimana me-manage dari sisi bisnisnya,” kenang lelaki kelahiran Jakarta, 21 Maret 1992 ini.

Bernhard kemudian bangkit dari kegagalan setelah menemukan partner bisnis yang tepat. “Sampai akhirnya gue ketemu orang yang pas, ketemu partner namanya Mas Haudy, gua bikinlah Never Too Lavish. Dari dulu ternyata persoalannya adalah karena gue enggak bisa me-manage itu dengan baik,” tukas Bernhard.

Bernhard memamerkan salah satu sepatu custom karyanya. (INSTAGRAM @hardthirteen)

 

4Mengidolakan Darbotz

Setiap orang punya idola. Begitu pula dengan Bernhard. Idolanya ini bahkan yang mempengaruhi arah karirnya di dunia seni graffiti. “Salah satu seniman Indonesia namanya Darbotz. Itu salah satu graffiti artis yang meng-influence gue untuk menggambar. Karena gue liat prosesnya dia dari, mungkin sebagian orang mengira ini gambar apaan sih? Cumi-cumi? Sampai sekarang karyanya sudah mahal banget,” kata Bernhard. 

Bernhard Suryaningrat(kiri bawah) dalam podcast Generasi Mikir. (YOUTUBE @netmediatama)

Di mata Bernhard, Darbotz merupakan sosok konsisten dalam berkarya sehingga layak jadi panutan. “Karena dia orang kerja juga, orang kantoran, setiap ada waktu kosong dia menyempatkan diri gambar di jalan. Dan meski nama dia sudah sebesar itu sekarang, dia masih tetap gambar di jalan,” lanjutnya.

Konsistensi yang membawa nama Darbotz tenar di kalangan penggiat seni graffiti Indonesia. Bernhard sendiri kini berpartner langsung dengan Darbotz. “Gue membuat spray paint (cat semprot) bareng dia,” pungkas Bernhard. 

5Graffiti Potret Jadi Ciri Khas

Bernhard melakukan berbagai inovasi saat terjun ke seni graffiti. Graffiti yang biasanya berupa letter huruf ia buat dengan model berbeda. “Jadi graffiti artis itu biasanya menulis nama mereka dan ternyata gue kulik-kulik lagi, graffiti ini enggak cuma tulisan doang, tapi ada aliran dimana mereka ini membuatnya potret. Wajah atau gambar-gambar yang realistic kan,” kata lelaki yang tinggal di Beji Depok, Kota Depok ini. 

Dari situ Bernhard mendapat berbagai referensi dari buku yang berisi gabungan karya seniman-seniman graffiti Eropa. “Gue lihat mereka bisa bikin se-realis ini. Ternyata graffiti itu enggak cuma sekedar elu bombing, elu vandal menulis nama elu di tembok. Dan sejak itu gue mulai, karena pada saat itu pelukis graffiti potret itu masih sangat jarang. Gue coba perdalam itu, gue pelajarin,” lanjut Bernhard. 

Grafiti potret karya Bernhard Suryaningrat. (INSTAGRAM @hardthirteen)

Berkat karya graffiti potret inilah nama Bernhard mulai dikenal di lingkungan komunitas anak graffiti Indonesia. Tak cukup sampai disitu, Bernhard terus mencari pembeda  diri agar karyanya bisa mencuri atensi. “Gue akhirnya mencoba pakai warna-warna neon atau pakai efek-efek yang belum pernah dipakai sama orang,” papar Bernhard. 

Sejak itulah lambat laun semakin banyak orang mengenali karya-karya graffiti Bernhard Suryaningrat. Grafiti potret dengan warna-warna neon dan efek-efeknya telah melekat jadi identitas Bernhard sebagai seniman. 

6Pernah Jadi Korban Hoaks

Puncak ketenaran Bernhard adalah saat ia diminta mendesain jaket denim custom oleh Presiden Joko Widodo. Jokowi terkesan oleh Never Too Lavish saat menghadiri Jakarta Sneaker Day pada hari Sabtu, 3 Maret 2018. Jokowi kemudian memesan jaket denim yang kemudian ia kenakan saat touring dengan motor chopper miliknya ke Sukabumi, 8 April 2018.

Presiden Joko Widodo mengenakan jaket denim desain Bernhard Suryaningrat. (INSTAGRAM @nevertoolavish)

Desain jaket Bernhard menjadi buah bibir. Meski demikian ada juga hoaks yang menerpanya. “Tiba-tiba ada yang mengisukan bahwa  desain ini memecah belah Indonesia.  Karena ketika dijadikan jaket, lalu jaket itu dibuka kancingnya, maka itu mempunyai message ini akan memecah belah Indonesia,” ujar Bernhard. 

Presiden Jokowi memakai jaket custom bertema Asian Games karya Bernhard Suryaningrat. (INSTAGRAM @nevertoolavish)

Untungnya Bernhard sudah mengantisipasi kemungkinan isu-isu seperti ini. “Sebelum mendisain ini, saya ada prediksi juga ini akan terjadi. Jadi saya bikinnya pada saat kancing itu pas dibuka, saya tetap bikin petanya. Jadi pada saat ini dibuka, tidak kepotong Pulau Kalimantannya,” papar Bernhard. 

Selain itu, ia menjelaskan ke media dan merilis video proses pengerjaan jaket pesanan Jokowi. “Akhirnya beritanya pada saat itu justru menaikkan nama Never Too Lavish,” imbuh Bernhard.

7Aksi Sosial di Masa Pandemi

Bisnis Never Too Lavish juga terdampak pandemi corona. Meski demikian order pesanan tetap ada. Meski ruang gerak dan mobilitas terbatas, Bernhard dan rekan-rekannya terus berkarya. “Gue ngajak beberapa temen seniman graffiti dan illustrator untuk bikin karya. Kita bikin karya terus karya itu kita lelang. Semua hasil lelang tersebut kita donasikan,” tukas Bernhard.

Never Too Lavish juga menggelar kompetisi disain sepatu. Disain pemenangnya akan diwujudkan jadi sepatu beneran sesuai dengan disain yang dia buat. “Jadi kita tetap berkarya karena sebenarnya seniman gambar, ada atau enggak ada Covid ini kerjaannya gambar terus aja,” pungkas Bernhard. 

Bernhard sedang mengerjakan desain custom sepatu. (INSTAGRAM @hardthirteen)

 

8Mendesain Hadiah Spesial untuk Generasi Mikir

Dalam kampanye kreatif yang mengusung ide Generasi Mikir, Bernhard kebagian peran tambahan cukup unik, yaitu mendesain tiga hadiah untuk kuis. Ketiga barang yang akan di-custom oleh Bernhard dan tim Never Too Lavish antara lain gitar akustik, sepatu Nike Air Force 1, dan jaket. Caranya ikutan kuis Generasi Mikir bisa dicermati di akun instagram @netmediatama.

Gitar akustik yang di-custom oleh Bernhard. (ISTIMEWA)
Desain jaket custom yang dibuat Bernhard untuk Generasi Mikir. (ISTIMEWA)

Cerita inspiratif dari Bernhard di atas mendapat apresiasi dari Raditya Dika. Sebagai sesama penggiat Generasi Mikir, Dika pun menyimpulkan bahwa perjalanan karir Bernhard bisa jadi refleksi diri bagi generasi muda. “Apa sih yang enggak bisa, kalau kita bisa menghadapi rasa takut kita,” kata penulis buku Kambing Jantan dan Cinta Brontosaurus ini.

“Jangan sampai rasa takut itu justru menghalangi kita, tapi jadikan itu kesempatan untuk kita bisa berkarya atau jadi momen refleksi, untuk melihat potensi diri kita ke depannya mau jadi apa,” pungkas Dika. Percakapan utuh antara Bernhard Suryaningrat, Raditya Dika, Tara Basro, dan Kunto Aji bisa disimak di akun youtube @netmediatama

TIM LIPUTAN

 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments