hero

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

18 Desember 2019, 08:05 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Kontes kecantikan top dunia mencetak sejarah baru. Untuk pertama kalinya, Miss USA, Miss Teen USA, Miss America, Miss Universe, dan Miss World dijuarai oleh perempuan berkulit hitam. Bagi dunia, ini adalah sejarah baru dan sebuah lompatan besar dalam sejarah beauty pageant. Dalam perjalannya, di tahun 1920 perempuan dengan warna kulit hitam dahulu terhalang untuk mengikuti kontes kecantikan ini.

Barulah setelah revolusi perihal urusan ras, perubahan tata kelola organisasi akhirnya perempuan dari ras warna hitam bisa masuk ke ajang kompetisi kecantikan ini. Meskipun sudah dibuka untuk wanita dari semua ras, ajang beauty pageant masih buntu. Dalam kurun waktu lima puluh tahun ke belakang, barulah wanita berkulit hitam lazim memenangkan ajang ini.

Dimulai tahun 70-an Janelle Commisiong menjadi juara Miss Universe 1977 berkulit hitam pertama. Kemudian Vanessa Williams, pemenang Miss America kulit hitam pertama di tahun 1983, dan Carole Anne-Marie Gist juara Miss USA berkulit hitam yang berhasil juara di 1990. Ditahun berikutnya, Janel Bishop pun menjadi Miss Teen USA. Di tahun 2019, Toni-Ann Singh asal Jamaica dimahkotai Miss World Sabtu 14 Desember 2019 lalu.

Ia bergabung dalam sejarah perempuan kulit hitam. Juara beauty pageant tahun ini didominasi dengan wanita kulit berwarna. Miss USA 2019 Cheslie Kryst, Miss Teen USA 2019 Kaliegh Garris, Miss America 2019 Nia Franklin, dan Miss Universe 2019 Zozibini Tunzi. Tidak hanya menjadi juara, setiap mereka yang menjuarai ini pun memiliki agenda sosial yang ingin diwujudkan.

1. PARA JUARA DAN MISI

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

My Jamaica, sweet Jamaica????????we did it! Wah we seh? LIKKLE BUT WE TALLAWAH. My heart is filled with love and gratitude. Thank you so much for believing in me. You pushed me to believe in myself. I am not only honored but humbled to be the 69th Miss World. Thank you to my family and to my friends. The love and support you poured into me now allows me to pour into the world. My mother @jahrinebailey, I love you I love you I love you. I wish to become even half the woman you are. You are my strength, my number one supporter/cheerleader/fan and my absolute best friend. _____________________________________________________________ To that little girl in St. Thomas, Jamaica and all the girls around the world - please believe in yourself. Please know that you are worthy and capable of achieving your dreams. This crown is not mine but yours. It’s for you to truly understand that no matter where you’re from and the cards you’re dealt in life - your dreams are valid. You have a PURPOSE. _____________________________________________________________ To the @missjamaicaworld franchise, thank you for taking a chance on me and leading the way. I wouldn’t have accomplished my dream without your efforts. To @hon.oliviagrange, you held my hand and lifted my head up high. I could not have reached this far without you. To the @missworld franchise - I am willing and ready to do the work; to officially be the face that represents the core of Miss World - Beauty with a Purpose. _____________________________________________________________ And last but of course not least, thank you GOD. Thank you for allowing me to walk the path towards my purpose. My heart is full???????????????????? One Love.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Toni-Ann Singh (@toniannsingh) pada

Toni-Ann Sigh, Miss Wold asal Jamaika adalah seorang lulusan Studi Psikologi dan Perempuan, Florida State University. Meskipun seorang lulusan psikologi, ia memiliki minat dalam dunia kesehatan medis pula. Dalam situs resmi Miss World, Sigh sampaikan ingin melanjutkan studinya kedunia medis.

“Saya percaya jika wanita adalah darahnya komunitas. Karenanya, saya akan terus menginspirasi dan bekerja dengan mereka (wanita), agar mereka paham betapa besarnya potensi yang dimiliki,” kata Sigh yang dikutip dari situs resmi Miss World.

Zozibini Tunzi, wanita kelahiran Tsolo, Eastern Cape Afrika Selatan ini adalah juara Miss Universe 2019. Ia memiliki agenda untuk memerangi kekerasan berbasis gender.

Sebagai tokoh publik, ia memiliki cita-cita agar dengan kekerasan dan perlakuan yang tak etis kepada wanita dapat segera di hentikan. Tidak hanya itu, Ia pun mendorong agar semua wanita menerima dirinya dan mencintai diri dengan segala ciri fisik yang dibawa.

“Saya pikir semuanya (rasisme dan kekerasan) harus selesaikan hari ini. Saya ingin semuanya melihat saya dan wajah saya. Dan saya ingin mereka melihat jika wajah saya ini menunjukkan siapa saya,” kata Tunzi saat menjuarai Miss Universe 2019, dari halaman situs Miss Universe.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A once in a lifetime moment becomes a lifelong memory. Welcome to the sisterhood, @CheslieKryst. ✨ #RenoTahoe

Sebuah kiriman dibagikan oleh Miss USA (@missusa) pada

Cheslie Kryst, seorang pengacara di Amerika yang memiliki misi reformasi sistem peradilan Amerika. Sebagai juara Miss USA ia merupakan seorang praktisi hukum berlisensi, dan memiliki gelar MBA.

Kryst aktif dalam litigasi sipil melalui firma hukumnya. Ia pun memiliki passion untuk membanu tahanan yang tidak mendapatkan keadlian dalam peradilan. Kryst pun bergerak dalam diskriminasi perempuan dalam dunia praktisi peradilan.

Berangkat dari pengalaman pribadi saat ia mengenakan celana ketika meghadiri peradilan, dan di komentari oleh hakim yang lebih prefer wanita dengan rok. Ia menyebutkan tidak ada relevansinya pakaian dengan proses peradilan dan substansinya. Perempuan dan laki-laki, memiliki kemampuan dan profesionalitas terlepas dari pakaian mereka.

Kaliegh Garris, wanita yang menjadi juara Miss Teen USA adalah perempuan 18 tahun yang bangga dengan jenis rambutnya. Rambut ikal khas perempuan kulit hitam, dia pertahankan sebagai wujud kebanggaan atas siapa dirinya.

Saat mengikuti beauty pageant, Garris dibanjiri saran beauty standar yang menyuruh dia meluruskan rambutya. Namun, ia gigih menunjukkan rambut keritingnya adalah sebuah karunia yang harus dibanggakan.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Joy. Galatians 5:22 ????

Sebuah kiriman dibagikan oleh Nia Imani (@niaimanifranklin) pada

Nia Franklin, Miss America 2019 kelahiran North Carolina yang aktif di dunia opera. Sebagai penyanyi opera, dia lahir dan tumbuh dilingkungan kaukasian. Semasa sekolah, ia pun mengalami menjadi minoritas. Namun melalui musik, dia menemukan kecintaanya atas musik dan menumbuhkan energik positif dalam dirinya.

Setahun terakhir, Franklin aktif dalam Advocate of Arts. Dia pun berpartisipasi aktif dalam kegiatan nonprofit 'Sing for Hope' yang bergerak untuk membantu orang-orang, khususnya anak-anak dan seniman yang kurang beruntung.

Setelah ratusan tahun, kini akhirnya rasisme dalam dunia pageant semakin terkikis. Persepsi cantik yang mengharuskan perempuan putih dan rambut lurus diterabas. Kini, pekerjaan rumah selanjutnya bagi dunia adalah apakah masalah rasisme juga akan berubah di kehidupan umum.

ARIS SATYA | EDITION

 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments