hero
(Yorktownsentry)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

16 Desember 2019, 10:55 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim telah memutuskan jika Ujian Nasional (UN) akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum yang mirip seperti Programme for International Student Assessment (PISA). Rencananya asesmen yang berisi tiga aspek yaitu literasi, numerasi, dan survei karakter ini akan mulai 2021. Sepertinya mantan bos Go-Jek ini ujian kelulusan murid seperti yang diberlakukan dunia internasioal. Kira kira seperti apa UN di Negara lain? Berikut ulasannya:

1. Senta Shinken, Jepang

Senta Shinken, dalam bahasa Inggris bisa disebut sebagai National Center Test atau dalam bahasa Indonesia sepadan dengan Tes Nasional Pusat. Tes kelulusan ini mirip dengan UN-nya kita. Tapi, Senta Shinken ini adalah tes kelulusan bagi murid SMA kelas tiga yang ingin lanjut ke perguruan tinggi di Jepang.

Uniknya, tiap murid hanya mendapatkan kesempatan mengikuti tes ini seumur hidup sekali. Nah, untuk yang memilih tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, bisa tidak mengikuti tes ini dengan hanya mengambil bagian UAS-nya sekolah.

Ketentuan kelulusan murid dari sekolah di Jepang ditentukan oleh guru dengan nilai dan aptitude (bakat, kecerdasan, dan ketangkasan) yang dicapai murid selama belajar.

2. Seneung, Korea Selatan

Mirip dengan Jepang, untuk Korea Selatan kelulusan itu ditentukan oleh penilaian guru dan sekolah, bahkan untuk lulus di Korea tergolong mudah. Setelah menempuh enam tahun di Sekolah Dasar nantinya murid akan otomatis lulus.

Serupa setelah menepuh 3 tahun pendidikan di SMP dan SMA. Nah yang sangat sulit adalah ujian masuk ke SMA ataupun Perguruan Tinggi favorit. Seneung ini menjadi salah satu tahapan berat bagi murid SMA yang akan melanjutkan pendidikan ke kampus favorit di Korea Selatan.

Seneung ini menjadi penentu masa depan dan karir para murid loh. Karenanya siswa-siswi di Korea Selatan sangat bersungguh-sungguh ketika menghadapi Seneung.

3. UPSR dan SPM, Malaysia

Di Malaysia ada yang namanya Ujian Pencapaian Sekolah Rendah (UPSR) untuk murid tingkat SD dan Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) untuk murid tingkat SMP. UPSR ini adalah ujian kelulusan untuk murid yang setara sekolah dasar kalau di Indonesia.

Ujian ini sifatnya lebih untuk melihat kelebihan dan kekurangan siswa, serta survei pemerintah mengukur kualitas pendidikan Malaysia. Hasil ujian ini pun tidak akan menghalangi siswa melanjutkan ke sekolah menengah tingkat pertama.

Kemudian karena di Malaysia itu tidak ada SMP atau SMA, mereka memiliki SPM sebagai ujian kelulusan untuk murid yang setara SMP dan SMA di Malaysia. Di Malaysia ujian kelulusan ini berdasar kepada General Certificate of Education ‘O’ Level dari Inggris, dan diadakan selama 2 minggu dengan pengawasan ekstra ketat.

Akan tetapi SPM di Malaysia sangat mirip dengan ujian kenaikan kelas di Indonesia karena terdapat soal-soal esai dan ujian praktikum. Wow!

4. Singapura

Di Singapura, kalau mau lulus dari sekolah tingkat dasar. Ada ujian yang dinamakan Primary School Leaving Examination atau PSLE. Mirip dengan Indoensia, PSLE akan diikuti murid di tahun keenamnya untuk persyaratan lanjut ke secondary school.

Nah, saat ditingkat secondary school, murid murid akan dibagi ke dua kelas. Pertama adalah kelas express dengan masa studi empat tahun dan yang kedua kelas normal dengan masa studi lima tahun. Nantinya di tahun keempat kelas express murid akan diberikan “O” Level Test.

Sementara, di tahun keempat kelas normal, akan diberikan “N” Level Test. Tes ini bukan ujian kelulusan loh. Karena nantinya di tahun selanjutnya siswa kelas normal harus mengikuti “O” Level Test lagi.

Tapi, jika berprestasi, siswa dari kelas Normal juga bisa langsung mengikuti “O” Level Test tanpa mengambil “N” Level Test terlebih dahulu. “O” Level Test ini akan menjadi ujian akhir untuk para murid secondary school.

Di dalamnya ada tujuh pelajaran yang diujikan, terdiri dari lima pelajaran pokok dan dua pelajaran pilihan. Meskipun “O” level juga disebut ujian kelulusan, tapi hasil ujian ini tidak menentukan kelulusan.

5. ACT dan SAT, Amerika Serikat

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Jessi CaSch (@jessi_casch) pada

Di Amerika teryata penentuan lulus sekolah adalah dengan nilai raport loh. Jadi dari hasil belajar di sekolah, nantinya akumulasi nilai rapot siswa siswi akan digunakan. Peraturan ini berlaku untuk tingkat pendidikan di SD, SMP dan SMA.  Nah, kalau memasuki bangku SMA-nya, murid-murid di Amerika itu menempuh 4 kelas mulai dari freshman, sophomore, junior dan senior. 

lulus, siswa harus menyelesaikan sekitar 24 kredit mata pelajarannya sesuai peminatan. Setelah memenuhi kredit ini nanti akan lulus dengan mengantongi ilmu sesuai bakat minat mereka. Setelah itu untuk lanjut ke perguruan tinggi negeri atau swasta, ada dua jalur.

Pertama seperti PMDK kalau di Indonesia, yaitu melalui jalur bakat musik, olahraga dan bakat-bakat lain yang ditentukan sekolah. Untuk yang masuk perguruan tinggi melalui jalur tes, ada yang namanya ACT (American College Testing) atau SAT (Scholastic Assessment Test).

Ini boleh dijalani salah satu atau kedunya. Kalau dua-dua, boleh pilih skor yang paling bagus loh. Nilai dari hasil SAT dan ACT itu nanti akan dibawa bersama dengan hasil raport untuk lanjut ke jenjang universitas.

6. Tidak ada Ujian Nasional di Finlandia

Negara yang sering dijadikan parameter pendidikan berkualitas adalah Finladia. Di Finlandia wajib belajar 9 tahun diberlakukan untuk anak usia 7-16 tahun dengan pembiayaan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Untuk menjadi murid di Finlandia tak ada seleksi khusus yang dijadikan dasar untuk menetapkan diterima atau tidaknya seorang anak belajar di SD/SMP tertentu.

Setelah menyelesaikan pendidikan jenjang dasarnya setiap siswa dipersilahkan memilih sendiri pendidikannya. Murid-murid di Finlandia bisa melanjutkan pendidikan ke SMA yang nantinya berlanjut ke pendidikan jenjang universitas. Selain itu para murid juga bisa melajutkan ke SMK yang dilanjutkan ke pendidikan tinggi di politeknik. Ujian atau biasa di Indonesia disebut ulangan harian di Finlandia tetap ada.

Akan tetapi untuk pemerintah Finlandia proses pendidikan tidak bisa dilakukan hanya melihat dari satu kali tes, misalnya ujian nasional. Mereka menilai pengukuran kemampuan murid harus dari beberapa kali penilaian yang berkelanjutan. Maksudnya adalah dengan melihat keterlibatan seorang siswa dalam proses belajar mengajar di kelas secara menyeluruh. Uniknya para guru di sekolah Finlandia juga tidak suka untuk memberikan penilaian hanya di akhir tahun ajaran.

Guru-guru di Finlandia melihat penilaian terhadap seorang siswa harus dilihat dari kegiatannya sehari-hari di kelas, contohnya kreativitas, inisiatif, dan kerja sama dengan siswa lain. Untuk mereka pendidikan ternyata adalah sebuah proses.

ARIS SATYA | BERBAGAI SUMBER

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments