hero
(Pixabay)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

27 November 2019, 10:20 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Sadar enggak sih, di Instagram artis-artis banyak yang sekarang update konten kajian bersama ustad-ustad. Atau ada temen kamu yang kini lebih islami dalam tampilan dan kesehariannya? Itu adalah sekelumit kecil hijrah islami yang semakin tren di kalangan masyarakat. Tapi sebenarnya apa sih hijrah islami itu? NET.Z mencoba mengulas fenomena hijrah yang belakangan ini booming.

1. Hijrah

Disadur dari bahasa Arab, hijrah berarti pindah. Secara etimologi hijrah memiliki makna berpindah dari satu titik ke titik lain dengan tujuan kebaikan. Muhammad Asad, Dosen Universitas Hasyim Asyari, Jombang, di Jawa Timur memiliki pendekatan lain dalam memaknai hijrah.

“Hijrah secara budaya yaitu merubah gaya hidup ke dalam tatanan yang lebih sesuai kaidah Islam,” ungkap Asad seperti ditulis dalam jurnal yang diterbitkan oleh Yuniar berjudul Gerakan Hijrah Milenial di Tengah Pusaran Pilpres 2019.

Lebih lanjut hijrah juga banyak dilakukan oleh masyarakat yang tergolong kelas ekonominya lebih baik. 

“Keputusan berhijrah terjadi pada kalangan kelas menengah, khususnya mahasiswa karena berpendidikan dan secara ekonomi lebih kaya dibandingkan masyarakat desa. Sehingga hijrah terjadi karena sudah popular di media sosial,” tegas Asad.

Disini pemahaman kaidah yang di gunakan biasanya di transimisi oleh tokoh berpengaruh seperti artis dan ustad. Peran media sosial pun sangat dominan, seperti artis yang memberikan testimoni perubahan dirinya atau ustad yang dakwah melalui kanal YouTube.

2. Berangkat dari Kekosongan

Menurut Prof. HM Baharun Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Negeri Sunan Ampel, Surabaya, faktor pendorong hijrahadalah rasa kekosongan meskipun berada di kondisi yang menyenangkan. 

“Faktor pendorong masyarakat milenial untuk hijrah adalah remaja merasa kekosongan jiwa yang menimbulkan kejenuhan dan ketidaktenangan walapun kehidupan penuh kesenangan,” kata Baharun seperti ditulis dalam jurnal Raharjo yang berjudul Fenomena Hijrah Pemuda : Membalik Stigma Muslim Milenial.

Baharun pun menyebutkan keterbukaan informasi hari ini pun memudahkan pikiran kritis mencari jawaban. “Remaja yang sudah berpikir kritis, didukung dengan akses informasi keagamaan yang luas memudahkan remaja milenial untuk berkembang,” jelas Baharun lebih lanjut.

Hadirnya kemudahan akses informasi digital semakin memudahkan masyarakat mencari jawaban. Bahkan hijrah diklaim membuat hidup banyak orang lebih santai. Berbenah dan menjalani hidup yang lebih sesuai kaidah Islam di tawarkan sebagai jawaban atas jiwa-jiwa yang tidak santuy dalam hidupnya. 

Ada pula yang mengalami dorongan lain hingga akhirnya memutuskan berbenah. Seperti Reza Hardiansyah, yang tergerak belajar memperbaiki diri. Hampir sekitar 1,5 tahun Reza bergulat dengan batinnya hingga dorongan hijrah muncul. "Berasa apa ya susah coiii, ghoib,”  kata Reza dalam pesan singkat Whatsapp saat dihubungi pada 21 November 2019.

Selain itu ada pula pengalaman hidup soal berpulangnya ayah Reza yang memunculkan sesal karena bakti yang kurang dia berikan kepada mendiang. Dari sini pula Reza berusaha berbakti untuk ayahandanya ia pun belajar ajaran Islam. 

“Ada bedanya, lebih tau diri dan tidak sombong, dan makin yakin dengan kekuatan Allah. Enggak gampang dikompor-komporin, walaupun lo seorang minoritas,” tegas Reza.

 

3. Ekspresi Aktualisasi Diri

Abraham Maslow seorang ahli jiwa dari Amerika Serikat menjelaskan dalam bukunya jika manusia membutuhkan aktualisasi diri. Dalam konteks ini, kala individu mulai masuk kedalam tataran konsep hijrah islami, mereka membutuhkan realisasi jalan hidup baru ke dalam dunia nyata. Aktualisasi berhijrah yang sesuai kaidah Islam ini diwujudkan dalam bentuk simbol, semisal menjalankan sunnah.

Dengan simbol melekat pada diri yang terlihat atau yang keluar dari perilaku dalam interaksi keseharian ini tidak hanya sekedar tindakan seorang muslim yang lebih baik, namun juga ekspresi aktualisasi diri seseorang yang kini lebih baik dalam Islam. Aktualisisi ini akhirnya membentuk identitas Muslim yang lebih pada orang-orang yang berhijrah.

4. Kepo yang Kian Kritis

Mereka yang berhijrah ini sering berangkat dari pertanyaan kritis tentang “Why I'm feeling hollow” terhadap dirinya. Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian terjawab dari hijrah.

Dalam perjalanannya, rasa kepo individu-individu yang belajar hijrah ini semakin diusik dengan keingintahuan atas dasar dalil ilmu Islam setiap ustad. Forum-forum diskusi kajian keilmuan menjadikan impact pergerakan hijrah semakin masif dengan memberikan pemikiran kritis dan terbuka.

Well, sederhananya orang-orang hijrah ini adalah orang yang mencari dan mendapatkan jawaban atas life questions yang mereka pertanyakan. Menjadi pribadi yang lebih islami menjadi jawaban yang membuat hidup lebih mereka mereka lebih santuy.

Membangun pemahaman pada agama dengan pola pikir kritis dan terbuka menjadikan yang mengalami hijrah menjadi lebih nyaman dengan apa yang diyakininya.

ARIS SATYA

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments