hero
(Fonehouse)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

26 November 2019, 12:05 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Pernah enggak sih tergoda jajan karena ada banner cash back OVO , Go-Pay, Dana, atau sejenisnya. Penawarannya menggoda jiwa di tulis cashback 30%, 40%, atau 50% tapi di sudut tertulis “Maksimal Rp15 ribu”. Hmm… jadi cashback itu apa sih? Berikut ulasannya:

1Sama Enggak dengan Diskon?

Honestly, keduanya berbeda. Secara sederhana diskon itu potongan harga yang ditentukan dalam bentuk persentase yang diaplikasikan sebelum kita melakukan pembayaran. Diskon juga sering di berlakukan dalam waktu tertentu saja yang di tetapkan oleh merchant.

Contohnya flash sale di JD.id yang memberi diskon harga earpice JBL 90% selama satu jam, harga dari 1 juta menjadi Rp100 ribu. Sedangkan cashback itu gampangnya pengembalian uang yang biasanya diberikan dalam bentuk uang tunai ataupun uang virtual fintech.

Promo cashback ini biasanya mempunyai waktu yang lebih lama. Selain itu dalam konteks fintech promo ini hanya bisa dilakukan bila transaksi menggunakan uang elektronik keluaran fintech.

Sebagai gambaran, OVO ada penawaran cashback 20% dengan maksimal Rp20 ribu. Jadi ketika semisal melakukan transaksi Rp60 ribu di KFC, akan dikembalikan Rp20 ribu ke dalam akun OVO kita. Nah secara pembayaran uang riilnya kita membayar Rp60 ribu, tapi ke KFC kita membayar Rp40 ribu.

2. Incentive Marketing

Dalam kamus bisnis https://dictionary.cambridge.org/ marketing insentif diartikan sebagai penggunaan hadiah untuk mendorong orang membeli dan menjual, atau kalau di artikel ini beralih ke uang elektronik.

Nah, di sini secara tidak sadar, uang cashback yang ada di akun e-wallet kita membuat kita mengkonversi uang tunai menjadi uang elektronik. Dengan cashback ternyata penyedia jasa alias fintech menarik kita untuk menyimpan uang kita dalam bentuk uang elektronik di dalam e-wallet.

Promo cashback marketing insentif, memberikan penggunanya deposit yang masuk ke dalam akun dompet virtual. Singkatnya jadi seperti “tabungan” untuk mendapatkan promo cashback selanjutnya.

Enggak disangka ternyata promo seperti ini cukup ampuh untuk menarik minat pengguna beralih ke uang elektroik dibandingkan diskon. Sebagai gambaran, dari data Bank Indonesia 2019 nilai transaksi uang elektronik yang melonjak hingga 281,39%.

Pada 2018 nilai transaksi uang elektronik mencapai Rp47,2 triliun. Angka tersebut meningkat sebesar Rp34,8 triliun atau hampir tiga kali lipat dibandingkan 2017 yang sebesar Rp12,4 triliun. Wow!

Fakta uniknya ternyata incentive marketing jadi strategi yang mengharusnya para penyedia jasa e-wallet “bakar duit”. Namun ini merupakan strategi untuk menanamkan kepercayaan konsumen dengan e-wallet.

Okay cashback kurang lebihnya memang menguntungkan ya buat kita sebagai konsumen. Tapi ingat, jangan gelap mata sewaktu lihat promo sampai kalap sewaktu jajan.

Hmm… kira-kira nanti kalau kita sudah percaya banget sama uang elektronik dan masa promo cashback sudah selesai, akan ada promo lain enggak ya? Kita tunggu saja!

ARIS SATYA | BERBAGAI SUMBER

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments