hero

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

16 September 2018, 09:05 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Mulai tanggal 6 hingga 13 Oktober 2018 akan berlangsung Asian Para Games, yaitu perhelatan olahraga bagi para penyandang disabilitas se-Asia. Nantinya mereka akan bertanding di sejumlah cabang olahraga yang dilombakan. 

Atlet difabel dari Indonesia juga enggak mau kalah. Mereka bakal siap bertanding dengan rekan-rekannya sesama penyandang disabilitas untuk menjadi juara olahraga. Berikut ini beberapa atlet yang akan berlaga demi memperjuangkan nama Indonesia di ajang Asian Para Games:

1. NANDA MEI SHOLIHAH

Anak pertama dari dua bersaudara ini lahir dalam kondisi tidak sempurna. Ia hanya mempunyai setengah lengan kanan. Tapi sejak usia 11 tahun, Nanda sudah memulai kariernya sebagai atlet lari. Meski begitu, Nanda bukannya tidak pernah merasa minder dengan kondisi fisiknya.

“Pernah aku masuk sekolah umur lima tahun ditolak sekolah karena alasan kondisi fisik. Aku kan bukan yang cacat parah banget, tapi disuruh ke SLB sama mereka,” cerita Nanda. “Tapi karena orang tua terus support aku berpikir bukan waktunya mengeluh. Tapi waktunya buat ngebuktiin kalau aku bisa banggakan orang tua.”

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Garuda on my chest???? . • • • . ???? by @donijunianta

A post shared by Nanda mei S. ‎ (@nandameish) on

Nantinya, Nanda akan berlomba di cabang olahraga atletik dalam Asian Para Games. Dia bakal berpartisipasi di tiga nomor yaitu lari 100 meter, lari 200 meter dan lompat jauh. Sebelumnya, gadis 19 tahun ini sudah tiga kali berpartisipasi di Asian Para Games, yaitu sejak 2014 dan Asian Youth Para Games pada 2013. Bahkan di Asian Para Games Singapore (2015) dan Asian Para Games Malaysia (2017), dia mendapatkan masing-masing 3 medali emas. Keren ya?

2. LAURA AURELIA DINDA

(Lentera Indonesia/Husni Mubarok)

Laura terlahir sebagai manusia normal. Bahkan sejak usia 7 tahun, dia sudah menggeluti dunia renang dan menjadi atlet cilik di olahraga tersebut. Tapi kehidupannya berubah sejak ia mengalami kecelakaan. Akibat terpeleset di kamar mandi, tulang belakang Laura patah. Kedua kakinya lumpuh dan ia mengalami gangguan motorik pada tubuh bagian bawah.

“Awalnya saya depresi berat. Namanya juga atlet kan cenderung tidak bisa diam, lari kemana-mana,” kata Laura. Beruntung dia mendapat dukungan besar dari orang tua, khususnya ibunya, Ni Wayan Luh Mahendra. Dari ibunya, Laura mendapat perspektif baru, bahwa di balik setiap kejadian pasti ada suatu hal besar yang disiapkan Tuhan.

Akhirnya, Laura berani memutuskan untuk kembali menggeluti renang dengan kondsi fisiknya yang berbeda. “Saya awalnya skeptik sih. Saya pikir olahraga untuk difabel ini  main-main. Ternyata olahraga beneran, ada peraturannya kaya saya dulu,” cerita Laura.

Untuk olahraga renang, Laura harus menyiapkan tenaga dua kali lebih besar karena hanya mengandalkan kekuatan tangan. Tapi perempuan ini berhasil membuktikan kemampuannya. Pada Asian Para Games Malaysia (2017), Laura menyabet 2 medali emas di nomor renang 100 meter gaya bebas putri S-6. Selain itu, di World Championship Berlin (2018) dia mendapat 2 medali emas, 1 medali perak dan 1 perunggu.

Sekarang, Laura dan 27 atlet renang yang juga difabel sedang mempersiapkan diri untuk bertanding di Asian Para Games Jakarta (2018). Dari Senin sampai Sabtu, mereka mengikuti pelatihan intensif demi mendapatkan hasil yang terbaik.

LENTERA INDONESIA | DARA AURORA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments