hero
(ANTARA/Puspa Perwitasari)

EDITOR : FEBRY ARIFMAWAN

18 April 2018, 07:00 WIB

INDONESIA

Partai Gerindra masih terus bermusyawarah untuk menseleksi nama-nama cawapres yang akan mendampingi Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Ferry Juliantono menjelaskan sosok yang dicari Prabowo. Kriterianya adalah satu visi, cita-cita, dan idealisme yang satu haluan dengan sang Ketua Umum Partai Gerindra itu. Ferry pun menegaskan Gerindra menerima masukan semua nama yang disodorkan, baik yang berasal dari partai politik maupun yang bukan.

“Ya kita tunggu, santai aja masih lama, Agustus masih tiga bulan lagi. Ngapain buru-buru Jokowi aja masih belum jelas,” ujar Ferry kepada Rizki Akbar dari NET, Selasa 17 April 2018. “Kita tetap membuka ruang komunikasi dan musyawarah dengan PKB Demokrat,” lanjutnya. 

Presiden Joko Widodo bertamu ke kediaman Prabowo Subianto di Hambalang, 31 Oktober 2016. (ISTIMEWA)

Berbagai analisis politik mengemuka, salah satunya dari Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari. Qodari menilai Prabowo dapat memilih wakilnya dari partai yang belum menentukan sikap dalam koalisi pilpres 2019, yakni PKS, PKB, PAN dan Partai Demokrat. Menurut Qodari jika Prabowo mampu membentuk koalisi besar, maka calonnya bisa dipastikan dari non partai.

“Kalau partai pendukungnya itu lebih dari dua partai. Maka menurut saya hampir pasti wakilnya itu dari non partai supaya diterima semua pihak,” ujar Qodari kepada Farabi Ferdiansyah dari NET.Z, Kamis 12 April 2018.

Beragam analisa dan spekulasi tentu diperhatikan Prabowo dalam menentukan pasangannya. Lalu siapa saja sosok yang berpeluang mendampingi Prabowo dalam Pilres 2019? Berikut kami rangkum para calon pendamping Prabowo yang masuk dalam radar lembaga survei.

BACA JUGA:
9 "Petarung" di Palagan 2019, Presiden Jokowi Pilih Mana?

 

1Sohibul Iman

Salah satu partai yang loyal dengan Gerindra untuk berkoalisi adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Jika berkoalisi dengan PKS, Gerindra sudah memiliki tiket untuk bertarung dalam Pilres 2019. Namun, apabila Gerindra ingin berkoalisi dengan PKS, PKS mensyaratkan wakil presiden berasal dari kader partainya.

"Kami sudah menyodorkan sembilan nama dan Pak Prabowo sudah tahu nama-nama tersebut. Gerindra ingin berkoalisi dengan PKS maka salah satu syaratnya cawapres diambil dari 9 nama itu ya," ujar Presiden PKS Sohibul Iman kepada Radika Kurniawan dari NET, 12 April 2018. Sembilan nama tersebut merupakan hasil penjaringan internal PKS. 

Presiden PKS Sohibul Iman (kedua kiri) dan Prabowo Subianto menghadiri Aksi Bela Rohingya di Jakarta, Sabtu 16 September 2018. (ANTARA/Puspa Perwitasari)

Hendri Satrio pendiri Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi) mengatakan jika ingin mengusung cawapres dari PKS maka Sohibul Iman adalah pilihan yang rasional. Menurut Hendri PKS memiliki mesin partai yang solid dibanding partai lain. 

“Kalau memang yang diusung ini adalah PKS sekalian saja pilih saja presiden ya, sekalian Sohibul Iman. Supaya pergerakannya (mesin partai) juga jadi masif,” kata Hendri Satrio kepada Farabi Ferdiansyah dari NET.Z, Minggu, 15 April 2018. 

Meski memiliki mesin partai yang kuat, kata Hendri, popularitas Sohibul Iman masih kecil dibandingkan bakal calon presiden lain. “Sohibul Iman ini  popularitasnya kecil, kemarin survei Kedai Kopi (14,6%), memang belum tinggi,” ucap Hendri. 

Presiden PKS Sohibul Iman (kanan) bersama Prabowo Subianto usai mengumumkan lima bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur dalam Pilkada Serentak 2018 di Kantor DPP PKS, Jakarta, Rabu 27 Desember 2017. (ANTARA/Puspa Perwitasari)

Hasil survei Kedai Kopi yang dirilis pada Sabtu 14 April 2018, mengukur popularitas Sohibul Iman relatif kecil, berada di posisi 10 dengan perolehan 14,9%. Posisi Sohibul Iman jauh tertinggal di bawah Jokowi yang menduduki peringkat pertama dengan perolehan 98,7%. 

2Ahmad Heryawan

Salah satu tokoh yang dijagokan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) selain Sohibul Iman adalah Ahmad Heryawan (Aher). Gubernur Jawa Barat ini dielus oleh PKS untuk dipasangkan dengan Prabowo Subianto. Aher sendiri sudah rajin blusukan ke daerah terutama di Jawa Barat. 

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (kiri) melepas peserta Festival Puncak Papua di Gedung Pakuan, Bandung, Jawa Barat, Rabu 4 April 2018.(ANTARA/M Agung Rajasa)

“Kehendak emosi kolektif semangat warga Jawa Barat untuk menampilkan warga  terbaiknya untuk menjadi salah satu pimpinan nasional itu yang harus dikembangkan,” kata Aher saat menerima dukungan dari sejumlah ormas dan komunitas vespa di Alun-alun Ciamis, 31 Maret 2018.

Aher pun punya kalkulasi tersendiri. “Nanti kalau gerakan masyarakat Jawa Barat mewakili etnis Jawa, kalo Jawa Sunda digabung itu kan jumlahnya 58 persen, beres toh,” kata Aher kepada Yopi Andrias dari NET

Dalam survei elektabilitas calon presiden 2019 yang dilakukan pada bulan Maret 2018 oleh Kedai Kopi, nama Aher muncul mengungguli rekan satu partainya, Sohibul Iman. Nama Aher berada di peringkat 8 dengan elektabilitas 0,3% di atas Sohibul Iman yang ada di posisi 11 dengan 0,0%.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (kedua kiri) menandatangani perjanjian kinerja perangkat daerah di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Selasa 3 April 2018. (ANTARA/Raisan Al Farisi)

Meski muncul dalam survei calon presiden, Hendri Satrio menilai Aher sulit mendongkrak nama Prabowo. “Pakai figur Aher, artinya ini hanya figur Jawa Barat saja. Sementara pasti tidak akan berguna bagi Prabowo. Karena Prabowo sudah menang di Jawa Barat. Kalau ada Aher, pasti menang Jawa Baratnya,” ujar Hendri.

3Zulkifli Hasan

Nama Zulkifli Hasan patut diperhitungkan sebagai cawapres Prabowo. Zulhas, sapaan Zulkifli Hasan, dinilai memiliki posisi strategis mengingat ia Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Terlebih, PAN adalah partai loyal dengan Gerindra pada Pilgub DKI 2017 lalu. 

Zulkifli Hasan bersafari di Sidoarjo, Jawa Timur. (NET/Mohammad Fahmi)

Meski memiliki posisi penting, Hendri Satrio menilai Zulhas tidak akan mengubah peta politik Prabowo dalam Pilpres 2019. Jika PAN benar serius ingin memajukan Zulhas, kata Hendri, lebih baik PAN berada di poros ketiga bersama Partai Demokrat dan PKB.

“Kalau dia dengan Prabowo, ini benar-benar 2014 akan terulang lagi. Apakah ada perbaikan masa yang dimiliki PAN dibandingkan Hatta Rasajasa? Kan enggak, dari hasil survei stagnan juga,” kata Hendri Satrio.

4Agus Harimurti Yudhoyono

Meski kalah dalam Pemilihan Guberbur (Pilgub) DKI Jakarta 2017, nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terus menguat di hasil riset lembaga survei. Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat untuk pemenangan Pemilu 2019 ini sudah memberikan sinyal untuk maju ke Pilpres 2019 di berbagai kesempatan . 

“Hanya Tuhan dan sejarah yang tahu ketika saya ditakdirkan kembali misalnya oleh negara oleh rakyat untuk masuk kembali dalam kompetisi politik tentu saya harus siap,” ujar AHY kepada Yopi Andrias dari NET di Ciamis, 20 Maret 2018.

Agus Harimurti Yudhoyono saat mengunjungi warga tani ternak sapi di Musuk, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa 10 April 2018.(ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho)

Sementara itu, sang ayah, Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum menyatakan secara terbuka mengusung AHY di Pemilu 2019. Dalam safari politiknya ke Tegal, Jawa Tengah, SBY hanya mengatakan bahwa kader Demokrat harus ada yang menjadi calon presiden atau wakil presiden. 

“Jika Demokrat menang 2019, jika Demokrat kembali ke pemerintahan, apakah Demokrat ada yang jadi Presiden atau Wakil Presiden, semua kebijakan dan program pro rakyat SBY akan dihidupkan kembali, akan dijalankan lagi dan akan ditingkatkan,” ujar SBY. 

Susilo Bambang Yudhoyono melakukan salam komando dengan Prabowo Subianto seusai mengadakan pertemuan tertutup di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Kamis 27 Juli 2018. (ANTARA/Kiki/IES)

Menurut Hendri Satrio, nama AHY memang tak bisa dilepaskan dari sosok SBY. Dari hasil survei Kedai Kopi terkait Top Of Mind AHY. 42,9% responden mengingat AHY sebagai anak SBY. Hendri mengatakan akan sulit bagi partai politik untuk meminang AHY jika dibayangi sosok SBY, mengingat SBY merupakan politikus senior yang memiliki prestasi dan mempunyai pengalaman 10 tahun sebagai presiden.

“AHY ini PR pertamanya justru bisa membuktikan berdiri di atas kakinya sendiri sendiri dulu,” pungkas Hendri.

Agus Harimurti Yudhoyono menyapa pendukungnya di Stadion Gemilang Magelang, Jateng, Selasa 10 April 2018 (ANTARA/Anis Efizudin)

 

5Muhaimin Iskandar

Salah satu sosok yang sudah memproklamirkan diri sebagai calon wakil presiden 2019 adalah Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar. Cak Imin, panggilan Muhaimin Iskandar, mengklaim mampu membawa gerbong suara kyai Nahdatul Ulama (NU).

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (ketiga kanan) di Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Selasa 17 April 2018. (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

Partai Gerindra sendiri membuka peluang untuk Cak Imin masuk ke kubunya. "Dengan PKB kita komunikasi. Pak Prabowo belum pernah ketemu dengan Pak Muhaimin. Tapi ada elit partai PKB yang sering bertemu dengan saya dan ada sebuah wawasan kalau Muhaimin ingin maju sebagai Cawapres,” Kata Waketum Gerindra, Arief Poyuono kepada Delviana Azari dari NET

BACA JUGA:
Hari-hari Penantian Muhaimin Iskandar

Sementara itu, di mata Hendri Satrio, problem Cak Imin lebih besar dari AHY. Jika sosok AHY dibayangi oleh SBY, menurut Hendri Cak Imin dibayangi tokoh NU pendukung Gus Dur. “Cak Imin mengaku didukung oleh NU, nah dia juga enggak didukung banget. Coba tanya pendukungnya Gus Dur, mana ada dia mendukung Muhaimin?” kata Hendri. 

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (kanan) menerima mandat ulama Jateng untuk maju menjadi Cawapres pada Pilpres 2019 di Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Selasa 17 April 2018.(ANTARA FOTO/Aji Styawan)

Meski begitu, kata Hendri, popularitas dan elektabilitas Cak Imin belakangan ini naik. “Memang elektabilitas popularitasnya Muhaimin naik jauh dengan sebelumnya,” ucap Hendri. Survei Elektabilitas Calon Wakil Presiden 2019 yang dirilis oleh Kedai Kopi menempatkan Cak Imin berada di posisi 7 dengan perolehan 1,7% di atas elektabilitas bakal calon wakil presiden dari PKS, Ahmad Heryawan dan Sohibul Iman.

6Gatot Nurmantyo

Elektabilitas dan popularitas mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo belakangan ini terus merangsek naik dalam sigi beberapa lembaga survei. Dalam kajian likeabilitas tokoh yang dirilis oleh Kedai Kopi menempatkan Gatot Nurmantyo berada di posisi kedua di bawah Jokowi dengan perolehan 79,4%.

Peluang Gatot sebagai cawapres Gerindra pun tak ditampik oleh petinggi partai berlambang garuda ini. “Salah satu nama tokoh di luar partai politik yang dipertimbangkan adalah Pak Gatot Nurmantyo. Ya kan ada nama-nama yang berasal dari partai politik tapi ada juga nama-nama berasal dari luar partai politik,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono. 

Gatot Nurmantyo (keempat kanan) saat peluncuran Tim Sepak Bola PS TIRA di Stadion Sultan Agung, Bantul, DI Yogyakarta, Minggu 18 Maret 2018. (ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)

Meski terbilang populer dan disukai masyarakat, Hendri Satrio mengatakan Gatot akan sulit jika dipasangkan dengan Prabowo karena memiliki kesamaan latar belakang militer. “Kalau berpasangan dengan Prabowo sih enggak akan mengubah apa-apa. Karena basisnya sama, bahkan lebih kuat Prabowo,” kata Hendri.

Menurut Hendri peluang Gatot terbuka jika Prabowo tidak maju. “Gatot harusnya sendiri, maka kalau Gerindra mau majukan Gatot, Prabowo enggak usah maju, Gatot saja,” ucap Hendri. 

7Anies Baswedan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan merupakan salah satu sosok yang digadang-gadang maju dalam Pilpres 2019. Dalam beberapa kesempatan, nama Anies masuk dalam hasil sigi lembaga survei. Misalnya hasil survei di bulan Maret 2018 oleh Kedai Kopi menyebutkan Anies Baswedan menduduki posisi ke 3 dalam Elektabilitas Calon Wakil Presiden 2019. Anies memperoleh 8,6%, di bawah Gatot Nurmantyo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Beberapa petinggi Partai Gerindra membuka kemungkinan Gubernur DKI Jakarta ini menjadi cawapres Prabowo, salah satunya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono. “Salah satu tokoh figur yang di luar partai politik yang angka elektabilitasnya sekarang meningkat nama yang lain ada nama Anies Baswedan itu nanti dimusyawarahkan juga,” ujar Ferry, Selasa 17 April 2018.

Anies Baswedan bersama Prabowo Subianto usai pelantikan Gubernur DKI Jakarta di Istana Negara, Senin 16 Oktober 2017. (ANTARA/Wahyu Putro A)

Meski mendapat survei elektabilitas tinggi sebagai cawapres, Hendri Satrio menilai nama Anies belum cukup mendongkrak suara Prabowo dalam pertarungan Pilres 2018. Menurut Hendri, Anies dan Prabowo tidak merepresentasikan tokoh umat sehingga belum mampu meraup suara pemilih muslim mengingat Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. 

“Kita berpikir bahwa Prabowo dan Anies adalah pilihan umat Islam, tapi namanya tidak ada (survei pemimpin umat) padahal itu pertanyaan terbuka, tapi belum top of mind jadi artinya tidak akan mengangkat juga,” ujar Hendri. 

Prabowo Subianto (kedua kiri) menyimak pidato kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di DPP Partai Gerindra, Jakarta, Rabu 19 April 2017. (ANTARA/M Agung Rajasa) 

 

8Muhammad Zainul Majdi

Tuan Guru Bajang (TGB), sapaan Muhammad Zainul Majid, belakangan digadang-gadang sebagai sosok mumpuni yang mampu bersaing di Pilpres 2019. TGB diyakini mampu meraup suara kalangan dari umat Islam.

Dari hasil survei Kedai Kopi pada bulan Maret 2018, TGB menempati urutan pertama dalam ranking Tokoh Berdasarkan Karakter: Religius dengan jumlah 16,5%. Publik berpendapat Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai pemimpin paling religus mengungguli Jokowi 16,1%, Gatot Nurmantyo 16,1% dan Prabowo Subianto 14,4%.

Gubernur Nusa Tenggara Barat TGB Zainul Majdi (kiri) bersama Ustaz Abdul Somad (kiri) menyapa warga usai mengisi kajian tauhid di Eco Pesantren Daarut Tauhiid, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu 1 April 2018. (ANTARA/Novrian Arbi)

Hendri Satrio menilai TGB adalah sosok yang sangat potensial. Namanya muncul dalam survei calon presiden dan pemimpin umat. “Satu-satunya nama yang dua-duanya keluar itu TGB doang, karena dia jelas dia calon presiden yang digadang-gadang oleh Demokrat, satu lagi dia dikenal juga sebagai ulama,” jelas Hendri. 

Di sisi lain, Hendri Satrio menilai langkah TGB untuk maju dalam pilpres 2019 justru sulit, mengingat adanya sosok AHY di Partai Demokrat, kecuali Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) legowo memberikan kesempatan pada TGB untuk maju. “Kecuali Demokratnya, TGB naik, nanti AHY dikasih saja jadi menteri,” kata Hendri. 

TIM LIPUTAN

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments